Negarakertagama

Negarakertagama

Buku Harian Seorang Empu
Dalam penulisan sejarah Indonesia, sumber berupa karya sastra banyak dijadikan sumber data. Salah satunya yang terkenal adalah Nagarakrtgama yang merupakan karya sastra Jawa Kuno berbentuk kakawin karya Mpu Prapanca. Nagarakrtagama merupakan catatan perjalanan Hayam Wuruk yang ditulis pada September 1365 sehingga dikenal juga dengan sebutan Desawarnana atau cacah desa-desa.
Satu-satunya naskah asli ditemukan di Lombok pada 1894. Meski bukan sebuah karya indah tetapi Nagarakrtagama mempunyai tempat khusus. Kelangkaannya dan kekayaan data sejarah yang dikandung adalah kelebihan naskah ini. Tidak berlebihan apabila Zoetmulder, Teeuw, Kern, Krom, Poerbatjaraka, Berg, dan Pigeuaud melakukan penelitian mendalam atas naskah ini.
Penulisnya mengakui Nagarakrtagama bukan buku pertama yang ditulisnya. Sebelumnya Prapanca telah menulis Parwasagara, Bhismasaranantya, Sugataparwa, dan dua kitab lagi yang belum selesai, yaitu Saba Abda dan Lambang. Namun semua ini sampai sekarang belum ditemukan atau memang sudah hancur.
Nagarakrtagama terdiri dari 98 pupuh. Naskah ini dimulai dengan pemujaan terhadap raja Wilwatikta yakni raja Majapahit dijaman raja Hayam Wuruk yang disebutkan sebagai Siwa-Budha yaitu Rajasanagara. Tujuh pupuh berikutnya berisi tentang raja dan keluarganya, sembilan pupuh kemudian tentang istana dan kota Majapahit. Dari sinilah sejarawan dan arkeolog merekonstruksi sejarah Majapahit.
Bagian paling panjang merupakan catatan perjalanan Hayam Wuruk ke Lumajang (23 pupuh) yang dilakukan pada bulan Agustus sampai September 1359. Sepuluh pupuh diantaranya menceritakan silsilah singkat raja-raja Singasari dan Majapahit (wangsa Girindra). Maklum Singasari dan Majapahit merupakan dua kerajaan yang tidak dapat dipisahkan.
Bagian berikutnya menceritakan perburuan raja (10 pupuh), kisah Gadjah Mada (23 pupuh), dan upacara sraddha bagi ibunda raja (9 pupuh). Dan tujuh pupuh terakhir menceritakan diri Prapanca sendiri.
Menurut Slamet Mulyana, Prapanca sebenarnya adalah nama samaran dari seorang Dharmadyaksa Kasogatan di Majapahit. Diduga nama asli Prapanca adalah Dang Acarya Nadendra.

 PARAGRAPH (Pupuh)  -  40

1.    Pada tahun Saka lautan dasa bulan (1104) ada raja perwira yuda Putera Girinata, konon kabarnya, lahir di dunia tanpa lbu   Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak
2.    Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur Di situlah tempat putera sang Girinata menunaikan darmanya.   Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan Negara lbu negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu  
3.    Tahun Saka lautan dadu Siwa (1144) beliau melawan raja Kediri Sang adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh
4.    Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di dalam ketakutan  Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah Bersatu Janggala Kediri di bawah kuasa satu raja sakti
Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah pulau Jawa 
5.    Makin bertambah besar kuasa dan megah putera sang Girinata  Terjamin keselatamatan pulau Jawa selama menyembah kakinya  Tahun Saka muka lautan Rudra (1 149) beliau kambali ke Siwa pada Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usana bagai Buda
1.    Batara Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan  Selama pemerintahannya, tanah Jawa kokoh sentosa,   bersembah   bakti Tahun Saka  perhiasan  gunung    Sambu (1170) beliau pulang ke Siwaloka Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi makam Kidal 
2.    Batara Wisnuwardana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan Beserta Narasinga bagai Madawa dangan lndra memerintah negaraBeliau memusnahkan perusuh Linggapati serta segenap pengikutnyaTakut semua musuh kepada beliau, sungguh titisan Siwa di bumi 
3.    Tahun Saka rasa gunung bulan (1176) Batara Wisnu menobatkan puteranya Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia Raja Kertanagara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama praja Singasari 
4.    Tahun Saka awan sembilan mengebumikan tanah (1192) raja Wisnu berpulang Dicandi- kan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago arca Buda Sementara itu Batara Narasingamurti pun pulang ke Surapada Dicandikan di Wengker, di Kumeper diarcakan bagai Siwa mahadewa 
5.    Tersebut Sri Saginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Sake naga mengalahkan bulan (1192) Tahun Saka naga bermuka rupa (1197) beginda menyuruh tundukkan Melayu Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu sahaja

1.    Tahun Saka janma sunyi surya (1202) Baginda raja memberantas penjahat Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh Negara Tahun Saka badan langit surya (1206) mengirim utusan menghancurkan Bali Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan 
2.    Begitulah dari empat jurusan orang lari berlindung di bawah Beginda Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur di hadapan beliau Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa 
3.    Jauh dari tingkah alpa dan congkak, Baginda waspada, tawakal dan bijak Faham akan segala seluk beluk pemerintahan sejak zaman kali karenanya tawakal dalam agama dan tapa untuk teguhnya ajaran Budha Menganut jejak pare leluhur demi keselamatan seluruh Praja

1.    Menurut kabaran sastra raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara Tahun Saka lembu gunung indu tiga (3179) beliau pulang ke Budaloka Sepeninggalnya datang zaman Kali, dunia murka, timbul huru hara Hanya batara raja yang faham dalam nam guna, dapat menjaga jagad 
2.    Itulah sebabnya Baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni Teguh tawakal memegang pancasila, laku utama upacara suci Gelaran Jina beliau yang sangat mashur ialah Sri Jnyanabadreswara Putus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan agama 
3.    Berlumba-lumba beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan Pertama-tama  tantra Subuti diselami, intinya masuk ke hati Melakukan puja, yoga, samadi demi keselematan seluruh praja menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba 
4.    Diantara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau Faham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengahuan agama Adil, teguh dalam Jinabrata dan tawakal kepada laku utama Itulah sebabnya beliau turun-temurun menjadi raja pelindung 
5.    Tahun Saka laut janma bangsawan yama (1214) Saginda pulang ke Jinalaya Berkat pengetahuan beliau tentang upacara, ajaran agama Beliau diberi gelaran : Yang Mulia bersemayam di alam Siwa-Buda Di makam beliau bertegak arca Siwa-Buda terlampau indah permai 
6.    Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan Serta arca Ardanareswari bertunggal dangan arca Sri Bajradewi Teman kerja dan tapa demi keselamatan dan kesuburan Negara Hyang Wairocana-Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, terkenal

1.    Tatkala Sri Baginda Kertanagara pulang ke Budabuana Merata takut, duka, huru hara, laksana zaman Kali kembali Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat
Berkhianat, karena ingin berkuasa diwilayah Kediri  
2.    Tahun Saka laut manusia (1144) itulah sirnanya raja Kertajaya Atas perintah Siwaputra Jayasaba berganti jadi raja Tahun Saka delapan satu satu (1180) Sastrajaya raja Kediri
Tahun tiga Sembilan Siwa raja (1193) Jayakatwang raja terakhir  
3.    Semua raja berbakti kepada cucu putera Girinata Segenap pulau tunduk kepada kuasa raja Kertanagara Tetapi raja Kediri Jayakatwang membuta dan mendurhaka Ternyata damai tak baka akibat bahaya anak piara Kali 
4.    Berkat keulungan sastra dan keuletannya jadi raja sebentar Lalu ditundukkan putera Baginda; ketenteraman kembali Sang menantu Dyah Wijaya, itu gelarnya yang terkenal di dunia Bersekutu dangan bangsa Tatar, menyerang melebur Jayakatwang

1.    Sepeninggal Jayakatwang jagad gilang-cemerlang kembali Tahun Saka masa rupa surya (1216) beliau menjadi raja Disembah di Majapahit, kesayangan rakyat, pelebur musuh
Bergelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana 
2.    Selama Kretarajasa Jayawardana duduk di takhtaSeluruh tanah Jawa bersatu padu, tunduk menengadahGirang memandang pasangan Baginda empat jumlahnya
Puteri Kertanagara cantik-cantik bagal bidadari

1.    Sang Parameswari Tribuwana yang sulung, luput dari celaLalu parameswari Mahadewi, rupawan tidak bertara Prajnyaparamita Jayendradewl, cantik manis menawan hati
Gayatri, yang bungsu, paling terkasih, digelari Rajapatni 
2.    Perkawinan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga Karena Batara Wisnu dangan Batara Narasingamurti Akrab tingkat pertama; Narasinga menurunkan Dyah Lembu Tal
Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dangan arca Buda

1.    Dyah Lembu Tal itulah bapa Baginda Nata Dalam hidup atut runtun sepakat sehati
Setitah raja diturut, menggirangkan pandang Tingkah laku mereka semua maresapkan 
2.    Tersebut tahun Saka tujuh orang dan surya (1217) Baginda menobatkan put'ranya di Kediri Perwira, bijak, pandai, putera lndreswari Bergelar Sang raja putera Jayanagara 
3.    Tahun Saka surya mengitari tiga bulan (1231) Sang prabu mangkat, ditanam di dalam puraAntahpura, begitu nama makam beliau Dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa

1.    Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta Dan dua orang puteri keturunan Rajapatni, terlalu cantik Bagai dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani Daha
2     Tersebut pada tahun Saka mukti gune memaksa rupa (1238) bulan Madu Baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Baginda
3.    Tahun Saka bulatan memanah surya (1250) beliau beliau berpulang Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama Di Sila Petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah Di Sukalila terpahat arca Buda sebagai jelmaan Amogasidi 


1.    Tahun Saka Uma memanah dwi rupa (1256) Rani  Jiwane Wijayatunggadewi
Bergilir mendaki takhta Wilwatikta Didampingi raja put'ra Singasari 
2.    Atas perintah ibunda Rajapatni Sumber bahagia dan pangkal kuasa Beliau jadi pengemban dan pengawas Raja muda, Sri Baginda Wilwatikta
3.    Tahun Saka api memanah hari (1253) Sirna musuh di Sadang, Keta diserang
Selama bertakhta, semua terserah Kepada menteri bijak, Mada namanya 
4.    Tahun Saka panah musim mata pusat (1265)Raja Bali yang alpa dan rendah budi
Diperangi, gugur bersama balanya Menjauh segala yang jahat, tenteram 
5.    Begitu ujar Dang Acarya Ratnamsah Sungguh dan mengharukan ujar Sang Kaki
Jelas keunggulan Baginda di dunia Dewa asalnya, titisan Girinata 
6.    Barang siapa mendangar kisah raja Tak puas hatinya, bertambah baktinya Pasti takut melakukan tindak jahat Menjauhkan diri dari tindak durhaka  
7.    Paduka Empu minta maaf berkata :"Hingga sekian kataku, sang rakawi Semoga bertambah pengetahuanmu Bagai buahnya, gubahlah puja sastra 
8.    Habis jamuan rakawi dangan sopan Minta diri kembali ke Singasari Hari surut sampai pesanggrahan lagi Paginya berangkat menghadap Baginda
 "Negarakretagama dan Tafsir Sejarahnya" Prof. Dr. Slametmulyana
Ramalan Jayabaya

Ramalan Jayabaya

Ramalan Jayabaya


“Ramalan Jayabaya”, atau “Jangka Jayabaya” orang Jawa menyebutnya, dikenal dan dipercaya oleh kalangan sangat luas masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Entah sejak kapan “ramalan” ini beredar di tengah masyarakat. Tapi yang pasti ia telah dan akan selalu berulang hadir pada setiap saat masyarakat di dalam kemelut. Entah kemelut karena sebab sosial-politik, entah pula karena adanya bencana atau musibah besar yang melanda. Orang boleh percaya tapi boleh juga tidak percaya, terpulang pada masing-masing dalam menyikapinya.

”Kreasi” menampilkan naskah “Ramalan Jayabaya” di bawah ini tidak dengan maksud mengajak memasuki debat, percaya atau tidak percaya terhadapnya. Tapi semata-mata melihatnya, bahwa “Jangka Jayabaya” merupakan hasil karya sastra lisan berbentuk syair yang beredar luas dan melampaui berbagai jaman. “Kreasi” ingin “menyimpannya” sebelum ia punah
oleh perjalanan waktu dan peristiwa.

Ada pepatah Jawa berbunyi “sadawa-dawane lurung isih luwih dawa gurung” - sepanjang-panjang jalan masih lebih panjang lagi kerongkongan. Itu suatu peringatan. Bahwasanya segala bentuk wacana yang disampaikan secara lisan, akan mengalami pengurangan dan penambahan terus-menerus. Mengalami pengausan. Timbul sangat banyak versi, oleh karenanya, sehingga pada suatu ketika versi-versi tua akan menjadi aus sama sekali, dan timbullah sekian banyak “makhluk-makhluk” baru. “Kreasi” menampilkan salah satu “makhluk baru” Ramalan Jayabaya itu, sebelum ia pun suatu
ketika akan punah.

Versi yang diturunkan di bawah ini, salah satu saja dari sekian banyak lainnya yang tak terbilang. Menilik isi dan bahasanya, termasuk salah satu versi yang mutakhir. Tidak ada di sini, misalnya, ungkapan yang mengatakan “ngalor ngulon abure si mliwis putih” (ke barat laut belibis putih terbang), konon ramalan tentang si kulit putih yang bakal terusir kembali ke negeri asal mereka di barat laut; atau ungkapan yang berbunyi “si cebol kate saumur jagung panguwasane” (si pendek katai yang berkuasa seumur jagung), konon ramalan tentang jangka
waktu masa pendudukan Jepang.


Teks di bawah ini, jika ditilik dari sudut kebahasaan, bertebaran di sana-sini kata-kata yang bukan Jawa; seperti “nglanggar sumpah” (melanggar sumpah), bukannya “nerak sesanti”, “ngendahake hukum” (mengindahkan hukum), bukannya “nggatekake wewaler”, bahkan - di ujung teks ada kata yang terbaca “selot-selote” (pada akhirnya), yang sangat jelas berasal dari
kata Belanda “ten slotte”.

Jayabaya salah seorang raja Kediri (1130-57), penerus Airlangga yang paling banyak dikenang, walaupun tentang masa pemerintahannya sendiri tidak banyak diketahui oleh sejarah. Ketika itulah Empu Sedhah dan Empu Panuluh diperintahnya menyadur Mahabharata Sanskerta ke dalam kakawin Jawa Kuno Bhratayuddha. Empu Panuluh juga menggubah kakawin   Gatotkacasraya  dan  Hariwamsa,   sebagai   puja-puji persembahannya pada junjungannya Sang
Mapanji Jayabhaya Sri Dharmeswara Madhusuddhama Wartamindita itu.

Jaman Kediri, khususnya semasa Kameswara (1115-30) dan Jayabaya (1130-57), memang merupakan jaman mas bagi perkembangan sastra Jawa Kuno. Karena itulah tradisi Jawa mengatakan, bahwa Raja Jayabaya telah meramalkan tentang masa keruntuhan kerajaannya sendiri, dan sekaligus tentang kebangkitan dan kejayaannya kembali di kelak kemudian hari. Ramalan tentang jatuh-bangunnya “Negeri Jawa” atau Nusantara.*




Serat Jayabaya
Syair Jayabaya
Jayabaya’s Words
Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
One day there will be a cart without a horse.
Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah Jawa berkalung besi.
The island of Java will wear a necklace of iron.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu berlayar di ruang angkasa.
There will be a boat flying in the sky.
Kali ilang kedhunge.
Sungai kehilangan lubuk.
The river will loose its current.
Pasar ilang kumandhang.
Pasar kehilangan suara.
There will be markets without crowds.
Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat.
These are the signs that the Jayabaya era is coming.
Bumi saya suwe saya mengkeret.
Bumi semakin lama semakin mengerut.
The earth will shrink.
Sekilan bumi dipajeki.
Sejengkal tanah dikenai pajak.
Every inch of land will be taxed.
Jaran doyan mangan sambel.
Kuda suka makan sambal.
Horses will devour chili sauce.
Wong wadon nganggo pakeyan lanang.
Orang perempuan berpakaian lelaki.
Women will dress in men’s clothes.
Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik.
These are signs that the people is facing the era of turning upside down.
Akeh janji ora ditetepi.
Banyak janji tidak ditepati.
Many promises unkept.
Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe.
Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Many break their oath.
Manungsa padha seneng nyalah.
Orang-orang saling lempar kesalahan.
People will tend to blame on each other.
Ora ngendahake hukum Allah.
Tak peduli akan hukum Allah.
They will ignore God’s law.
Barang jahat diangkat-angkat.
Yang jahat dijunjung-junjung.
Evil things will be lifted up.
Barang suci dibenci.
Yang suci (justru) dibenci.
Holy things will be despised.
Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.
Banyak orang hanya mementingkan uang.
Many people will become fixated on money.
Lali kamanungsan.
Lupa jati kemanusiaan.
Ignoring humanity.
Lali kabecikan.
Lupa hikmah kebaikan.
Forgetting kindness.
Lali sanak lali kadang.
Lupa sanak lupa saudara.
Abandoning their families.
Akeh bapa lali anak.
Banyak ayah lupa anak.
Fathers will abandon their children.
Akeh anak wani nglawan ibu.
Banyak anak berani melawan ibu.
Children will be disrespectful to their mothers.
Nantang bapa.
Menantang ayah.
And battle against their fathers.
Sedulur padha cidra.
Saudara dan saudara saling khianat.
Siblings will collide violently.

Kulawarga padha curiga.
Keluarga saling curiga.
Family members will be suspicious of each other.
Kanca dadi mungsuh.
Kawan menjadi lawan.
Friends become enemies.
Akeh manungsa lali asale.
Banyak orang lupa asal-usul.
People will forget their roots.
Ukuman Ratu ora adil.
Hukuman Raja tidak adil
The ruler’s judgements will be unjust.
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.Banyak pembesar jahat dan ganjil
There will be many peculiar and evil leaders.
Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak ulah-tabiat ganjil
Many will behave strangely.
Wong apik-apik padha kapencil.
Orang yang baik justru tersisih.
Good people will be isolated.
Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
Banyak orang kerja halal justru malu.
Many people will be too embarrassed to do the right things.
Luwih utama ngapusi.
Lebih mengutamakan menipu.
Choosing falsehood instead.
Wegah nyambut gawe.
Malas menunaikan kerja.
Many will be lazy to work.
Kepingin urip mewah.
Inginnya hidup mewah.
Seduced by luxury.
Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
They will take the easy path of crime and deceit.
Wong bener thenger-thenger.
Si benar termangu-mangu.
The honest will be confused.
Wong salah bungah.
Si salah gembira ria.
The dishonest will be joyful.
Wong apik ditampik-tampik.
Si baik ditolak ditampik.
The good will be rejected.
Wong jahat munggah pangkat.
Si jahat naik pangkat.
The evil ones will rise to the top.
Wong agung kasinggung.
Yang mulia dilecehkan
Noble people will be abused.
Wong ala kapuja.
Yang jahat dipuji-puji.
Evil doers will be worshipped.
Wong wadon ilang kawirangane.
Perempuan hilang malu.
Women will become shameless.
Wong lanang ilang kaprawirane.
Laki-laki hilang perwira
Men will loose their courage.
Akeh wong lanang ora duwe bojo.
Banyak laki-laki tak mau beristri.
Men will choose not to get married.
Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Banyak perempuan ingkar pada suami.
Women will be unfaithful to their husbands.
Akeh ibu padha ngedol anake.
Banyak ibu menjual anak.
Mothers will sell their babies.
Akeh wong wadon ngedol awake.
Banyak perempuan menjual diri.
Women will engage in prostitution.
Akeh wong ijol bebojo.
Banyak orang tukar pasangan.
Couples will trade partners.
Wong wadon nunggang jaran.
Perempuan menunggang kuda.
Women will ride horses.
Wong lanang linggih plangki.
Laki-laki naik tandu.
Men will be carried in a stretcher.
Randha seuang loro.
Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
Two divorcees will be valued at 8,5 cents.
Prawan seaga lima.
Lima perawan lima picis.
A virgin will be valued at 10 cents.
Dhudha pincang laku sembilan uang.
Duda pincang laku sembilan uang.
A crippled widower will be valued at nine uang’s
Akeh wong ngedol ngelmu.
Banyak orang berdagang ilmu.
Many will earn their living by trading their knowledge.
Akeh wong ngaku-aku.
Banyak orang mengaku diri.
Many will claims other’s merits as their own.
Njabane putih njerone dhadhu.
Di luar putih di dalam jingga.
White outwardly but orange inwardly
Ngakune suci, nanging sucine palsu.
Mengaku suci, tapi palsu belaka.
They will proclaim their righteousness despite their sinful ways.
Akeh bujuk akeh lojo.
Banyak tipu banyak muslihat.
Many will use sly and dirty tricks.
Akeh udan salah mangsa.
Banyak hujan salah musim.
Rains will fall in the wrong season.
Akeh prawan tuwa.
Banyak perawan tua.
Many women will remain virgins into their old age.
Akeh randha nglairake anak.
Banyak janda melahirkan bayi.
Many divorcees will give birth.
Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
Banyak anak lahir mencari bapanya.
Newborns will search for their fathers.
Agama akeh sing nantang.
Agama banyak ditentang.
Religions will be attacked.
Prikamanungsan saya ilang.
Perikemanusiaan semakin hilang.
Humanitarianism will no longer have importance.
Omah suci dibenci.
Rumah suci dijauhi.
Holy temples will be hated.
Omah ala saya dipuja.
Rumah maksiat makin dipuja.
They will be more fond of praising evil places.
Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Di mana-mana perempuan lacur
Prostitution will be everywhere.
Akeh laknat.
Banyak kutuk
There will be many worthy of damnation.
Akeh pengkianat.
Banyak pengkhianat.
There will be many betrayals.
Anak mangan bapak.
Anak makan bapak.
Children will be against father.
Sedulur mangan sedulur.
Saudara makan saudara.
Siblings will be against siblings.
Kanca dadi mungsuh.
Kawan menjadi lawan.
Friends will become enemies.
Guru disatru.
Guru dimusuhi.
Guru is treated as an enemy.
Tangga padha curiga.
Tetangga saling curiga.
Neighbours will become suspicious of each other.
Kana-kene saya angkara murka.
Angkara murka semakin menjadi-jadi.
And ruthlessness will be everywhere.
Sing weruh kebubuhan.
Barangsiapa tahu terkena beban.
The eyewitness has to take the responsibility.
Sing ora weruh ketutuh.
Sedang yang tak tahu disalahkan.
The ones who know nothing will be prosecuted.
Besuk yen ana peperangan.
Kelak jika terjadi perang.
One day when there will armagedon.
Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
In the east, in the west, in the south, and in the north.
Akeh wong becik saya sengsara.
Banyak orang baik makin sengsara.
Good people will suffer more.
Wong jahat saya seneng.
Sedang yang jahat makin bahagia.
Bad people will be happier.
Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul.
Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
When this happens, crow will be said heron.
Wong salah dianggep bener.
Orang salah dipandang benar.
The wrong person will be assumed to be honest.
Pengkhianat nikmat.
Pengkhianat nikmat.
Betrayers will live in the utmost of material comfort.
Durjana saya sempurna.
Durjana semakin sempurna.
The deceitful will decline even further.
Wong jahat munggah pangkat.
Orang jahat naik pangkat.
The evil persons will rise to the top.
Wong lugu kebelenggu.
Orang yang lugu dibelenggu.
The modest will be trapped.
Wong mulya dikunjara.
Orang yang mulia dipenjara.
The noble will be imprisoned.
Sing curang garang.
Yang curang berkuasa.
The fraudulent will be ferocious.
Sing jujur kojur.
Yang jujur sengsara.
The honest will unlucky.
Pedagang akeh sing keplarang.
Pedagang banyak yang tenggelam.
Many merchants will fly in a mess.
Wong main akeh sing ndadi.
Penjudi banyak merajalela.
Gamblers will become more addicted to gambling.
Akeh barang haram.
Banyak barang haram.
Illegal things will be everywhere.
Akeh anak haram.
Banyak anak haram.
Many babies will be born outside of legal marriage.
Wong wadon nglamar wong lanang.
Perempuan melamar laki-laki.
Women will propose marriage.
Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
Laki-laki memperhina derajat sendiri.
Men will lower their own status.
Akeh barang-barang mlebu luang.
Banyak barang terbuang-buang.
The merchandise will be left unsold.
Akeh wong kaliren lan wuda.
Banyak orang lapar dan telanjang.
Many people will suffer from starve and stark-naked.
Wong tuku ngglenik sing dodol.
Pembeli membujuk penjual.
Buyers will flatter the sellers.
Sing dodol akal okol.
Si penjual bermain siasat.
Sellers will play tricks and muscles.
Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
The way people earn a living will be as paddies being sifted.
Sing kebat kliwat.
Siapa tangkas lepas.
Some will go wild out of control.
Sing telah sambat.
Siapa terlanjur menggerutu.
Those who are too far groaning.
Sing gedhe kesasar.
Si besar tersasar.
The ones on the top will get lost.
Sing cilik kepleset.
Si kecil terpeleset.
The ordinary people will slip.
Sing anggak ketunggak.
Si congkak terbentur.
The arrogant ones will be collided.
Sing wedi mati.
Si takut mati.
The fearful ones will not survive.
Sing nekat mbrekat.
Si nekat mendapat berkat.
The risk takers will be successful.

Sing jerih ketindhih.
Si hati kecil tertindih
The ones who are afraid will be crushed.
Sing ngawur makmur.
Yang ngawur makmur
The careless ones will be wealthy.
Sing ngati-ati ngrintih.
Yang berhati-hati merintih.
The careful ones will whine about their suffering.
Sing ngedan keduman.
Yang main gila menerima bagian.
The crazy ones will get their portion.
Sing waras nggagas.
Yang sehat pikiran berpikir.
The ones who are healthy will think wisely.

Wong tani ditaleni.
Si tani diikat.
The farmers will be controlled.
Wong dora ura-ura.
Si bohong menyanyi-nyanyi
Those who are corrupt will sing happily.
Ratu ora netepi janji, musna panguwasane.
Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
The rulers do not keep their promises, will lose their power.
Bupati dadi rakyat.
Pegawai tinggi menjadi rakyat.
The leaders will become ordinary persons.
Wong cilik dadi priyayi.
Rakyat kecil jadi priyayi.
The ordinary people will become leaders.
Sing mendele dadi gedhe.
Yang curang jadi besar.
The dishonest persons will rise to the top.
Sing jujur kojur.
Yang jujur celaka.
The honest ones will be unlucky.
Akeh omah ing ndhuwur jaran.
Banyak rumah di punggung kuda.
There will be many houses on horses’ back.
Wong mangan wong.
Orang makan sesamanya.
People will attack other people.
Anak lali bapak.
Anak lupa bapa.
Children will ignore their fathers.
Wong tuwa lali tuwane.
Orang tua lupa ketuaan mereka.
The olds forget their oldness.
Pedagang adol barang saya laris.
Jualan pedagang semakin laris.
Merchants will sell out of their merchandise.
Bandhane saya ludhes.
Namun harta mereka makin habis.
Yet, they will lose money.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Banyak orang mati lapar di samping makanan.
Many people will die from starvation in prosperous times.
Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara.
Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
Many people will have lots of money yet, be unhappy in their live.
Sing edan bisa dandan.
Yang gila bisa bersolek.
The crazy one will be beautifully attired.
Sing bengkong bisa nggalang gedhong.
Si bengkok membangun mahligai.
The insane will be able to build a lavish estate.
Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.
Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
The ones who are fair and sane will suffer in their lives and will be isolated.
Ana peperangan ing njero.
Terjadi perang di dalam.
There will be internal wars.
Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham.
Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
As a result of misunderstandings between those at the top.
Durjana saya ngambra-ambra.
Kejahatan makin merajalela.
The numbers of evil doers will increase sharply.
Penjahat saya tambah.
Penjahat makin banyak.
There will be more criminals.
Wong apik saya sengsara.
Yang baik makin sengsara.
The good people will live in misery.
Akeh wong mati jalaran saka peperangan.
Banyak orang mati karena perang.
There will be many people die in a war.
Kebingungan lan kobongan.
Karena bingung dan kebakaran.
Others will be disoriented, and their property burnt.
Wong bener saya thenger-thenger.
Si benar makin tertegun.
The honest will be confused.
Wong salah saya bungah-bungah.
Si salah makin sorak sorai.
The dishonest will be joyful.
Akeh bandha musna ora karuan lungane.
Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe

Banyak harta hilang entah ke mana.
Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
There will be disappearance of great riches, titles, and jobs.
Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.
Banyak barang haram, banyak anak haram.
There will be many illegal goods.
Bejane sing lali, bejane sing eling.
Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
Good luck for the ignoramus, good luck for anyone who is aware.
Nanging sauntung-untunge sing lali.
Tapi betapapun beruntung si lupa.
Yet, no matter how lucky is the ignoramus.
Isih untung sing waspada.
Masih lebih beruntung si waspada.
It is more lucky for anyone who is alert.
Angkara murka saya ndadi.
Angkara murka semakin menjadi.
Ruthlessness will become worse.
Kana-kene saya bingung.
Di sana-sini makin bingung.
Everywhere the situation will be chaotic.
Pedagang akeh alangane.
Pedagang banyak rintangan.
Doing business will be more difficult.
Akeh buruh nantang juragan.
Banyak buruh melawan majikan.
Workers will challenge their employers.
Juragan dadi umpan.
Majikan menjadi umpan.
The employers will become bait.
Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
Those who speak out will be more influential.
Wong pinter diingar-ingar.
Si pandai direcoki.
The wise ones will be ridiculed.
Wong ala diuja.
Si jahat dimanjakan.
The evil ones will be spoiled.
Wong ngerti mangan ati.
Orang yang mengerti makan hati.
The knowledgeable ones will be in much distress.
Bandha dadi memala.
Hartabenda menjadi penyakit
The material comfort will incite crime.
Pangkat dadi pemikat.
Pangkat menjadi pemukau.
Rank and position will become enticing.
Sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Yang sewenang-wenang merasa menang
Those who act arbitrarily will feel as if they are the winners.
Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
Yang mengalah merasa serba salah.
Those who act wisely will feel as if everything is wrong.
Ana Bupati saka wong sing asor imane.
Ada raja berasal orang beriman rendah.
There will be leaders who are weak in their faith.
Patihe kepala judhi.
Maha menterinya benggol judi
The chief minister is no one but a leader of the gamblers.
Wong sing atine suci dibenci.
Yang berhati suci dibenci
Those who have a holy heart will be rejected.
Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.
Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
Those who are evil, and know how to flatter their boss, will be promoted.
Pemerasan saya ndadra.
Pemerasan merajalela.
Human exploitation will be worse.
Maling lungguh wetenge mblenduk.
Pencuri duduk berperut gendut.
The corpulent thieves will be able to sit back and relax.
Pitik angrem saduwure pikulan.
Ayam mengeram di atas pikulan.
The hen will hacth eggs in a carrying pole.
Maling wani nantang sing duwe omah.
Pencuri menantang si empunya rumah.
Thieves will not be afraid to challenge the target.
Begal pada ndhugal.
Penyamun semakin kurang ajar.
Robbers will dissent into greater evil.
Rampok padha keplok-keplok.
Perampok semua bersorak-sorai.
Looters will be given applause.
Wong momong mitenah sing diemong.
Si pengasuh memfitnah yang diasuh
People will slander their caregivers.
Wong jaga nyolong sing dijaga.
Si penjaga mencuri yang dijaga.
Guards will steel the very things they are to protect.
Wong njamin njaluk dijamin.
Si penjamin minta dijamin.
Guarantors will ask for collateral.
Akeh wong mendem donga.
Banyak orang mabuk doa.
Many will ask for blessings.

Kana-kene rebutan unggul.

Di mana-mana berebut menang.
Everybody will compete for personal victory.
Angkara murka ngombro-ombro.
Angkara murka menjadi-jadi.
Ruthlessness will be everywhere.
Agama ditantang.
Agama ditantang.
Religions will be questioned.
Akeh wong angkara murka.
Banyak orang angkara murka.
Many people will be greedy for power, wealth and position.
Nggedhekake duraka.
Membesar-besarkan durhaka.
Rebelliousness will increase.
Ukum agama dilanggar.
Hukum agama dilanggar.
Religious law will be broken.
Prikamanungsan di-iles-iles.
Perikemanusiaan diinjak-injak.
Human rights will be violated.
Kasusilan ditinggal.
Tata susila diabaikan
Ethics will left
behind.
Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
Many will be insane, cruel and immoral.
Wong cilik akeh sing kepencil.
Rakyat kecil banyak tersingkir.
Ordinary people will be segregated.
Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.
Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
They will become the victims of evil and cruel persons.
Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
Then there will come a ruler who is influential.
Lan duwe prajurit.
Dan punya prajurit.
And having armies.
Negarane ambane saprawolon.
Lebar negeri seperdelapan dunia.
The country will measured one-eighth of the world.
Tukang mangan suap saya ndadra.
Pemakan suap semakin merajalela.
The number of people who commit bribery will increase.
Wong jahat ditampa.
Orang jahat diterima.
The evil ones will be accepted.
Wong suci dibenci.
Orang suci dibenci.
The innocent ones will be rejected.
Timah dianggep perak.
Timah dianggap perak.
Tin will be thought to be silver.
Emas diarani tembaga.
Emas dibilang tembaga
Gold will be thought to be copper.
Dandang dikandakake kuntul.
Gagak disebut bangau.
A crow will be thought to be an heron.
Wong dosa sentosa.
Orang berdosa sentausa.
The sinful ones will be safe and live in tranquility.
Wong cilik disalahake.
Rakyat jelata dipersalahkan.
The poor will be blamed.
Wong nganggur kesungkur.
Si penganggur tersungkur.
The unemployed will be rooted up.
Wong sregep krungkep.
Si tekun terjerembab.
The diligent ones will be forced down.
Wong nyengit kesengit.
Orang busuk hati dibenci.
The people will seek revenge against the fiercely violent ones.
Buruh mangluh.
Buruh menangis.
Workers will suffer from overwork.
Wong sugih krasa wedi.
Orang kaya ketakutan.
The rich will feel unsafe.
Wong wedi dadi priyayi.
Orang takut jadi priyayi.
People who belong to the upper class will feel insecure.
Senenge wong jahat.
Berbahagialah si jahat.
Happiness will belong to the evil persons.
Susahe wong cilik.
Bersusahlah rakyat kecil.
Trouble will belong to the poor.
Akeh wong dakwa dinakwa.
Banyak orang saling tuduh.
Many will sue each other.

Tindake manungsa saya kuciwa.

Ulah manusia semakin tercela.
Human behaviour will fall short of moral enlightenment.
Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi.
Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
Leaders will discuss and choose which countries are their favourites and which ones are not.
Hore! Hore!
Hore! Hore!
HurraHurrah!
Wong Jawa kari separo.
Orang Jawa tinggal separo.
The Javanese will remain half.
Landa-Cina kari sejodho.
Belanda-Cina tinggal sepasang.
The Dutch and the Chinese each will remain a pair.
Akeh wong ijir, akeh wong cethil.
Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
Many become stingy.
Sing eman ora keduman.
Si hemat tidak mendapat bagian.
The cautious ones will not get their portion.
Sing keduman ora eman.
Yang mendapat bagian tidak berhemat.
The ones who receive their portion will be prodigal.
Akeh wong mbambung.
Banyak orang berulah dungu.
Stupidity will be everywhere.
Akeh wong limbung.
Banyak orang limbung.
Bewildered persons will be everywhere.

Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka.
Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya jaman.
One day, yet slowly, the age of turbulence will come.

(Sumber : Copas dari berbagai sumber)