Showing posts with label Kerajaan. Show all posts
Showing posts with label Kerajaan. Show all posts
Kerajaan Medang Kamulan

Kerajaan Medang Kamulan



Medang Kamulan (929-1016)
Berdirinya Kerajaan Medang Kamulan
Kerajaan Medang Kamulan adalah Kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Mpu Sindok. Mpu Sindok sendiri masih tergolong menantu Dyah Wawa sebab permaisurinya Mpu Kbin merupakan puteri Dyah Wawa.

Pada tahun 929 M, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pemindahan itu memiliki beberapa tujuan, diantaranya :
- Untuk menghindari terjadinya ancaman penyerangan oleh Kerajaan Sriwijaya,
- dan untuk menghindari terjadinya letusan Gunung Merapi.

Menurut catatan sejarah, pusat pemerintahan baru tersebut terletak di Watugaluh yang berada di tepian Sungai Brantas ( Sekarang kira-kira masuk ke dalam wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur ). Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram Kuno melainkan Medang Kamulan.

Nama Medang Kamulan menunjukkan bahwa Kerajaan itu merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Akan tetapi, Medang Kamulan tetap merupakan Kerajaan tersendiri karena diperintah oleh dinasti baru, yakni Dinasti Isyana. Dinasti Isyana memerintah sejak tahun 929 hingga 1016 M.

Sistem Pemerintahan
1. Mpu Sindok (929-949)
Mpu Sindok merupakan raja pertama dari Kerajaan Medang Kamulan. Ia memerintah selama 20 tahun. Mpu Sindok tidak memerintah sendiri, tetapi dibantu oleh permaisurinya Sri Wardhani Mpu Kbin. Saat memerintah Mpu Sindok bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isyana Wikrama Dharmattunggadewa.
Mpu Sindok memerintah dengan adil dan bijaksana. Berbagai usaha ia lakukan untuk memakmurkan rakyat, antara lain membangun bendungan atau tanggul untuk pengairan. Ia melarang rakyatnya untuk menangkap ikan di bendungan pada siang hari. Larangan itu ada kaitannya dengan pelestarian Sumber Daya Alam.
Meskipun beragama Hindu, Mpu Sindok tetap memperhatikan usaha penggubahan kitab Budha Mahayana. Hasil gubahan tersebut berupa kitab Sang Hyang Kamahayanikan. Perhatian itu menunjukkan bahwa agama Hindu dan Budha dapat hidup berdampingan secara damai.
2. Sri Isyana Tunggawijaya (949-     )
Mpu Sindok digantikan putrinya, yaitu Sri Isyana Tunggawijaya. Ia kawin dengan Lokapala. Dari hasil perkawinannya lahirlah Makutawangsa Wardhana (seorang putra mahkota) yang kelak meneruskan pemerintahannya.
3. Makutawangsa Wardhana (     -991)
Raja Makutawangsa Wardhana dikenal dengan julukan Matahari Dinasti Isyana. Ia dikaruniai dua orang anak, antara lain :
1. Dharmawangsa Teguh, yang kelak naik tahta di Medang Kamulan pada tahun (991), dengan gelar Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramattunggadewa diawal pemeritahannya pernah melakukan serangan ke Kerajaan Sriwijaya.
2. Mahendradatta, Ia bergelar Gumaprya Dharma Patri yang kawin dengan Udayana (Raja Bali). Yang kemudian dikaruniai putra bernama Airlangga (Raja Kahuripan).
4. Dharmawangsa Teguh (991-1016)
Pada masa pemerintahannya, ia pernah memerintahkan untuk menerjemahkan beberapa bagian kitab Mahabharata ke dalam bahasa Kawi. Dan untuk mengatur ketertiban masyarakat, disusunlah kitab hukum yang dinamakan Purwadigamaatau Siswasana.
Selain itu, ia juga berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Usaha itu dilaksanakan dengan cara meningkatkan sektor pertanian dan perdagangan. Akan tetapi, usaha untuk meningkatkan sektor perdagangan menjadi sulit karena perdagangan di kawasan perairan Jawa dan Sumatra masih dikuasai oleh Sriwijaya.
Dalam rangka mematahkan pengaruh Sriwijaya dan untuk mewujudkan cita-citanya yang ingin menguasai pelayaran Nusantara. Maka dari itu, ia berusaha untuk memperluas daerah kekuasannya dengan mengadakan sejumlah penaklukkan, termasuk Bali dan mendirikan koloni di Kalimantan Barat.
Kemudian pada tahun 1003 M, Dharmawangsa Teguh mengirimkan pasukannya untuk merebut pusat perdagangan di Selat Malaka dari kekuasaan Sriwijaya. Akan tetapi, serangan itu tidak berhasil. Bahkan, Sriwijaya membalas melalui serangan kerajaan Wurawuri (bawahan Medang Kamulan sendiri). Akibat serangan itu, Medang Kamulan menjadi terpecah belah dan mengalami kehancuran.
Dalam peristiwa yang disebut Pralaya Medang itu, Dharmawangsa Teguh gugur. Pralaya berarti "runtuh atau mati". Hal ini menandakan bahwa kerajaan Medang Kamulan telah hancur dan tiada lagi.
Kerajaan Kalingga

Kerajaan Kalingga



Kalingga

Kerajaan Sunda
632–732
 Letak pusat kerajaan Kalingga
Ibukota
di Jawa Tengah. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang.
Bahasa
 - 732—760
 - 985—1006
Sejarah

 - Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.[1]
752
 - Kekalahan Dharmawangsa dari Wurawari dan Sriwijaya
1045
Masa dan Tahil (koin emas dan perak lokal)

Kerajaan Kalingga dibangun orang - orang dari sebuah kerajaan di negara bagian Orrisa di negeri India yang kalah perang dari kekaisaran maurya pimpinan raja asoka. Keturunan-keturunan kerajaan tersebut lantas pindah menyebar hingga tanah Jawa.
Dalam berita Cina kerajaan ini disebut Holing. Di sana dijelaskan bahwa pada abad ke 7 di Jawa Tengah bagian utara sudah berdiri satu kerajaan. Rakyat dari kerajaan tersebut hidupnya makmur dari hasil bercocok tanam serta mempunyai sumber air asin. Hidup mereka tenteram, karena tidak ada kejahatan dan kebohongan. Ilmu perbintangan sudah dikenal dan dimanfaat dalam bercocok tanam.
Kerajaan ini bersahabat akrab dengan Maharaja Cina. Duta kerajaan Keling ada di sana, duta kerajaan Cina.ada di sini. Kerajaan ini didirikan oleh prabu Kirathasinga.
1.Kirathasinga (632-648)
pada tahun 562 Caka (667 Masehi) dan pada tahun 554 Caka (657 Masehi) mengirim dutanya ke kerajaan Cina, karena itu juga duta kerajaan Cina datang ke sini.
Rakyat Holing menganut agama Budha. Hal itu dapat diketahui dari berita Cina yang ditulis I-Tshing, yang menjelaskan bahwa pada tahun 644 masehi Hwi-Ning seorang pendeta budha dari cina datang ke Holing dan menetap selama 3 tahun. Hwi-Ning menterjemahkan salah satu kitab suci agama Budha Hinayana yang berbahasa Sanksekerta ke dalam bahasa Cina. Dalam usahanya Hwi-Ning dibantu oleh seorang pendeta kerajaan Holing yang bernama Janabadra.
2.Kartikeyasinga (648-674)
Prabhu Kartikeyasingha telah dua kali mengirimkan dutanya pembesar-pembesar kerajaan ke kerajaan Cina, pertama pada tahun 570 Caka (674 Masehi), kedua pada tahun 588 Caka (692 Masehi), yaitu pada permulaan Sang Prabhu memerintah kerajaan. Beliau wafat di Gunung Mahameru.
Dari perkawinan Sang Prabhu Kartikeyasingha dengan Dewi Sima, berputera 2 orang wanita dan laki‑laki, masing-masing ialah yang wanita Dewi Parwati diperisteri oleh Sang Mandiminyak dari Galuh, yang laki‑laki Sang Narayan namanya.
3.Maharani Sima (674-695)
Raja yang terkemuka dari kerajaan ini adalah Ratu Sima. Pemerintahannya berlangsung dari sekitar tahun 674 masehi. Ratu Sima menerapkan peraturan-peraturan secara disiplin. Kepada setiap pelanggar, selalu diberikan sangsi tegas. Suatu saat seorang saudagar Arab berkeinginan untuk membuktikan ketaatan rakyat Kalingga terhadap hukum yang diterapkan. Ia meletakkan pundi-pundi uang di jalan di tengah kota. Ternyata tak ada seorangpun menyentuh atau mengambilnya. Hingga suatu hari secara tidak sengaja kaki Putra Mahkota menyentuh pundi-pundi itu. Maka Ratu Sima memerintahkan agar anaknya di potong kakinya sebagai hukuman. Karena hukuman itu dirasa terlalu berat, para penasehat Ratu memohon agar hukuman diperingan, namun Ratu berkeras. Setelah didesak, Ratu Sima memutuskan untuk memperingan hukumannya. Kaki putra mahkota tidak jadi dipotong tetapi hanya jari-jari kakinya saja.
Sesudahnya Dewi Sima wafat pada tahun 617 Caka (720 Masehi), kemudian kerajaan dibuat dua wilayah kerajaan, di antaranya ialah yang wanita, Dewi Parwati, di sebelah utara, yang laki-laki, Sang Narayan, di sebelah selatan. Sang Mandiminyak, suami Dewi Parwati, tidak menggantikan di situ, karena ia menjadi raja di kerajaan Galuh.
Kerajaan Kalingga Utara
Kerajaan Kalingga Selatan
4. Dewi Parwati (695-717)
Dari pernikahan Prabhu Mandiminyak dengan Dewi Parwati berputeralah seorang wanita, Dewi Sannaha namanya. Kemudian Dewi Sannaha naik takhta menggantikan sang ibundanya.
4. Narayan (695-732)
Setelah Prabhu Narayan wafat, selanjutnya digantikan oleh puteranya ialah Sang Prabhu Dewa Singha namanya.
5. Dewi Sannaha (717-732)
Sanaha menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).
5. Prabhu Dewa Singha
Pada waktu itu Sang Prabhu Dewa Singha memerintah wilayah selatan yang tunduk di bawah kekuasaan Sanjaya.

Silsilah Raja-raja Kalingga :

Organization Chart

Bukti Sejarah :

*       1 Berita Cina
*       1.2 Catatan I-Tsing
*       2 Prasasti
*       3 Lihat pula
*       4 Referensi

[sunting] Berita Cina

Beritakeberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing.

[sunting] Catatan dari zaman Dinasti Tang

CeritaCina pada zaman Dinasti Tang (618 M - 906 M) memberikan tentang keterangan Ho-ling sebagai berikut.


Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Sima (Simo). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.

[sunting] Catatan I-Tsing

Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

[sunting] Prasasti

Prasastipeninggalan Kerajaan Ho-ling adalah Prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di Desa Dakwu daerah Grobogan, Purwodadi di lereng Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungaiyang mengalir dari sumber airtersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.[2]

[sunting] Lihat pula

*       Sejarah
*       Kerajaan

[sunting] Referensi

1.                               ^ Munoz, Paul Michel (1 November 2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. hlm. pages 171. ISBN 981-4155-67-5. 
2.                               ^ IPS Terpadu Kelas VII SMP/MTs, Penerbit Galaxy Puspa Mega:Tim IPS SMP/MTs.
Kerajaan Jenggala

Kerajaan Jenggala

SIDOARJO ADALAH PUSAT KERAJAAN JENGGOLO

Andai Dewi Kilisuci bersedia menjadi ratu di Kahuripan, barangkali sejarah tidak mengenal kerajaan Jenggala. Tetapi karena sang dewi lebih tertarik pada kesunyian gua Selomangleng (Kediri) daripada pesta pora hedonistik istana, maka Ayahnya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan menjadi dua.

Pembelahan kerajaan Kahuripan bukan saja merubah wajah Jawa secara geografis, tapi juga geopolitik dan ekonomi. Pusat pemerintahan yang sebelumnya ada di satu tempat kini menjadi dua. Hanya sayangnya pusat ekonomi tetap menjadi hak sebuah daerah belahan dari Kahuripan. Masing-masing dua daerah belahan Kahuripan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan. Jenggala, belahan sebelah utara ini kuat dalam ekonomi karena bandar dagang di Sungai Porong termasuk dalam wilayahnya. Sedangkan Dhaha (Kediri) yang bercorak agraris ini lebih kuat dalam bidang Yudhagama, olah keperajuritan, militer, bahkan mempunyai pasukan gajah.

Pembelahan kerajaan ini memang pada ujungnya juga menyisakan sebuah sengketa antar dua pewaris. Dimana di salah satu belahan mengalami tingkat perekonomian yang tinggi, sementara di belahan lain tingkat ekonominya sangat minus.

Kedua perbedaan inilah yang menimbulkan sebuah perang yang akan meluluh lantakkan sebuah kerajaan dari muka bumi. Dan kerajaan itu adalah Jenggala.

A.KETURUNAN DARI BALI KE KAHURIPAN
Bicara tentang sejarah jawa feodal, kita tidak bisa meninggalkan Airlangga. Walaupun ia tidak berasal dari Jawa, Airlangga mempunyai peran besar dalam menentukan arah kisaran sejarah Jawa Timur paska kerajaan Kahuripan. Airlangga adalah putra Raja Bali, Udayana dari pemaisuri Mahendratta. Ibu Airlangga ini masih adik kandung dari Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, Raja Medang Kamulan di Jawa Timur, sebuah kerajaan yang berjalur keturunan Dinasti Isyana dari jaman Mataram Hindu

Pada umur 17 tahun, Airlangga datang ke Mendang Kamulan untuk menikahi kedua putri Sri Darmawangsa Teguh yang bernama Sri dan Laksmi. Pada waktu pesta penikahan ketiga anak raja ini terjadi sebuah peristiwa yang membuat Airlangga muda merubah jalan hidupnya. Barangkali hanya Sri Dharmawangsa Teguh, raja Jawa yang berani menyerang Sriwijaya. Padahal, Sriwijaya yang bercorak Budha itu sedang mengalami jaman keemasannya oleh bandar dagang dan ketinggian filsafatnya. Bisa ditebak jika serangan dari Jawa itu kemudian mengalami kegagalan.

Namun itu tidak mengurungkan Sriwijaya untuk menghukum Medang Kamulan dengan menggunakan kerajaan Wura-wuri (Ponorogo) sekutunya di Jawa. Serbuan dari kerajaan Wura-wuri itu terjadi tepat di malam pesta pernikahan Airlangga dengan kedua Putri Dharmawangsa. Peristiwa tragis yang kemudian disebut

Pralaya (Malapetaka) di Kraton Medang itu menewaskan Sri Dharmawangsa Teguh berikut pemaisuri, patih dan menteri- menterinya.

Menurut batu Calcutta, seluruh Jawa bagaikan satu lautan yang dimusnahkan oleh raja Wura-wuri. Tapi ada yang lolos dari kehancuran, yaitu Airlangga beserta kedua istri dan sedikit pengawalnya yang melarikan diri ke Gunung Prawito (Penanggungan). Di sana, Airlangga bersembunyi dan mengatur kekuatan untuk merebut kembali kerajaan mertuanya.

Pada tahun 1019, Airlangga yang dinobatkan oleh para pendeta Budha, Siwa dan Brahmana, menggantikan Dharmawangsa, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramo-tunggadewa. Ia memerintah dengan daerah hanya kecil saja karena kerajaan Dharmawangsa sudah hancur, menjadi terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.

Sejak tahun 1028 Airlangga mulai merebut kembali daerah- daerah saat pemerintahan Dharmawangsa, yang bisa jadi juga ada hubungannya dengan kelemahan Sriwijaya yang baru saja diserang dari Colamandala (1023 dan 1030). Raja-raja yang ditaklukkan itu adalah Bhismaprabhawa (1028-1029), Wijaya dari Wengker (1030), Adhamapanuda (1031), raja Wengker (1035), Wurawari (1032) dan seorang seperti raksasa raja perempuan (1032). Peperangan Airlangga melawan Sang Ratu ini melahirkan legenda Calon Arang di Bali.

Kemakmuran dan ketentraman pemerintahan Airlangga (ia dibantu oleh Narottama/rakryan Kanuruhan dan Niti/rakryan Kuningan) yang ibukotanya pada tahun 1031 di Wotan Mas dipindahkan ke Kahuripan di tahun 1031, kraton dari kerajaan ini diperkirakan berada di desa Wotan Mas, wilayah Ngoro kabupaten Pasuruan, atau sekarang lebih dikenal dengan nama situs Kuto Girang.

Pemerintahan Airlangga diikuti dengan suburnya seni sastra, yang antara lain: kitab Arjuna Wiwaha karangan mpu Kanwa tahun 1030 M yang berisi cerita perkawinan Arjuna dengan para bidadari hadiah para dewa atas jerih payahnya mengalahkan para raksasa yang menyerang kayangan (kiasan hasil usaha Airlangga sendiri yang merupakan persembahan penulis kepada raja). Ini juga pertama kali keterangan wayang dijumpai, walau sebetulnya sudah ada sebelum Airlangga.

B.KERAJAAN KAHURIPAN ( AIRLANGGA ) TERBELAH
Prabu Airlangga mempunyai dua istri yaitu Sri dan Laksmi. Keduanya adalah putri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang tak lain pamannya sendiri. Dari perkawinannya dengan Sri, Prabu Airlangga mendapatkan seorang putri yang bergelar Dewi Kilisuci atau disebut juga Dewi Sanggramawijaya yamg ditetapkan sebagai mahamantri i hino (ialah berkedudukan tertinggi setelah raja). setelah tiba masanya menggantikan Airlangga, ia menolak dan memilih sebagai pertapa.

Semenjak awal Dewi Kilisuci telah menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Rupanya Kesunyian Gua Selomangleng (Kediri) dan Pucangan (gunung Penanggungan), ternyata lebih menarik perhatian sang Putri dari pada Hedonistik Istana. Dia memutuskan untuk menarik diri dari hiruk pikuk keduniawian, Sehingga ia menolak ketika harus menggantikan Airlangga menjadi ratu di Kahuripan.

Selain Dewi Kilisuci, Airlangga juga mempunyai dua orang bernama Lembu Amisena dan Lembu Amilihung. Keduanya putra dari selir. Karena pewaris tahta yang sah tidak bisa menggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan

untuk dipimpin kedua putranya. Sebelum Keputusan ini di ambil, Airlangga terlebih dahulu meminta saran Mpu Bharada yang menjadi penasehatnya. Menurut sang Mpu, membagi kerjaan bukanlah sebuah jalan keluar yang baik, sebab dikhawatirkan akan timbul perang saudara antar putra Airlangga.

Kemudian Mpu Bharada menyarankan agar salah satu putraAirlangga memerintah di Bali, karena masih punya darah dengan Udayana (ayah Airlangga). Saran Mpu Bharada di terima oleh Airlangga dan segera mengutusnya ke Bali. Di sana Mpu Bharada melakukan perundingan dengan Mpu Kuturan, seorang pandita tinggi. Tetapi usul Airlangga itu ditolak Mpu Kuturan karena yang bisa menjadi Raja Bali adalah keturunan Mpu Kuturan sendiri. Merasa menemukan jalan buntu, Mpu Bharada kembali ke Kahuripan.

Berdasarkan dua petimbangan di atas, maka Airlangga melaksanakan pembelahan kerajaan Kahuripan 1042. Proses pembagian kerajaan itu menjadikan Kahuripan menjadi Dua. Di Kahuripan bagian Utara berdiri kerajaan Jenggala yang dipimpin Lembu Amiluhung yang bergelar Sri Jayantaka, sedangkan di bagian Selatan berdiri Kerajaan Dhaha yang dipimpin Lembu Amisena yang bergelar Sri JayaWarsa. Peristiwa pembelahan ini dicatat oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Negarakertagama. Alasan pembagian kerajaan dilukiskan Oleh Mpu Prapanca sebagai “Demikian lah sejarah Jawa menurut tutur yang dipercaya. Kisah JenggalaNata di Kahuripan dan Sri Nata Kahuripan di Dhaha (Kediri). Waktu bumi Jawa di belah karena cintanya pada kedua putranya.
Sedangkan sosok tokoh pelaksana pembagian itu, Mpu Bharada, dilukiskan sebagai berikut: Mpu Bharada nama beliau, adalah pendeta Budha Mahayana yang telah putus ilmu Tantrayananya, bersemedi di lemah Tulis gunumg Prawito (penanggungan). Ia dikenal sebagai pelindung rakyat dan kemana-mana selalu jalan kaki.

Kemudian Mpu Prapanca juga mencatat proses pembagian kerajaan itu sebagai berikut: Beliau menyanggupi permintaan Raja untuk membelah kerajaan. Tapal batas dua bakal kerajaan itu di tandai dengan kucuran air dari kendi yang

dibawanya terbang ke langit. Dalam kitab ini Mpu Prapanca juga menuliskan sebuah peristiwa kecil yang menimpa Mpu Bharada dalam pekerjaannya: Turun dari langit sang Mpu berhenti di bawah pohon Asam. Kendi Suci di tar uh di desa Palungan (sekarang wilayah Gempol). Karena jubahnya tersangkut pohon Asam, marahlan sang Mpu, dan beliau mengutuk pohon Asam itu kerdil untuk selamanya.

Air kucuran kendi itu membuat garis demarkasi untuk kedua kerajaan. Mengenai garis itu Negara Kertagama menulis: Tapal batas Negara adalah Gunung Kawi sampai dengan aliran sungai Poro (Poro : porong, jawa kawi ; dibagi). Itulah tugu gaib yang tidak bisa mereka lalui. Maka dibangunkah Candi Belahan (Sumber Tetek) sebagai prasasti di belahnya Kahuripan. Semoga Baginda tetap teguh, tegak dan berjaya dalam memimpin Negara.

CANDI BELAHAN
Airlangga turun tahta setelah pembelahan Kahuripan. Dua kerajaan baru yang berdiri di atas Kahuripan telah dipimpin oleh putra-putranya. Seperti adat leluhurnya, ia pun lengser keprabon madeg mandita (turun tahta dan hidup seperti pendeta).

Dalam upayanya meninggalkan keduniawian ini ia memilih Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna. Selain meninggalkan tahta, ia juga menanggalkan gelarnya. Sebagai gantinya Airlangga menggunakan nama-nama yang menunjukkan kesiapannya menuju samsara.

Di Daerah Gunung Penanggungan inilah Airlangga dikenal se bagai Resi Jatinindra dan di Gunung Arjuna ia memakai nama Bega wan Mintaraga. Selain itu Airlangga juga dikenal sebagai Resi Gentayu, sebua ungkap an yang berasal dari kata Jatayu (burung Garuda yang menye lamatkan Sintha dalam cerita epos Ramayana). Tujuh tahun kemudian (1049 M) Airlangga wafat. Jenazahnya diperabukan di Candi Belahan (Sumber Tetek) disana ia diarcakan sebagai Wisnu yang menunggang garuda. Arca itu di sebut Garudamukha.

C.JENGGALA = UJUNG GALUH DI SIDOARJO
Dibandingkan Dhaha, faktor ekonomi Kerajaan Jenggala tumbuh sangat pesat. Jenggala menguasai sungai-sungai bermuara termasuk Bandar dagang di Sungai Porong memberikan income yang besar bagi kerajaan. Selain itu juga membuat Jenggala lebih di kenal oleh manca Negara karena Bandar dagang peninggalan Airlangga ini (berdasarkan catatan kerajaan China) adalah Bandar dagang kedua terbesar dan ramai setelah Sriwijaya. Tetapi Bandar dagang ini juga menjadi bibit perselisihan dengan Dhaha yang hanya menguasai sungai tanpa muara. Sebab bagi Dhaha sangat tergantung dengan hasil Agrokultur ini tidak mempunyai pasar yang cukup memadai bagi hasil buminya, karena pasar besar adalah Jenggala.

Kata Jenggala di percaya berasal dari ucapan salah untuk Ujung Galuh. Walaupun saat ini Ujung Galuh lebih menunjukkan suatu tempat di Surabaya atau Tuban. Tetapi untuk hubungan kalimat Jenggala dengan Ujung Galuh bisa dilihat dari catatan Pedagang China yang menuliskan Jenggala dengan Jung-ga-luh. Misalnya pedagang Chou ku fei yang datang pada tahun 982 Saka (1060 M) menuliskan: Negara asing yang merupakan lumbung padi terbesar saat itu adalah Jung-ga-luh (Jenggala) dan San-fo-tsi (Sriwijaya).

Raja-raja Jenggala di antaranya Lembu Amiluhung (Sri Jayantaka). Sri Jayantaka adalah putra Airlangga dari selir. Ia mulaimemerintah di Jenggala mulai tahun 1042 M. Pada masa pemerintahannya, Jenggala mengalami jaman keemasan sekaligus jaman kecemasan. Dikatakan jaman keemasan karena pada masa itu Jenggala mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari hasil Bandar Dagang Porong. Sementara dilain pihak Jenggala juga di cemaskan oleh ancaman serangan oleh Dhaha bila Bandar dagang itu tidak diserahkan ke Dhaha. Kecemasan itu cukup beralasan mengingat kekuatan militer Dhaha lebih kuat dari pada Jenggala.

Raja lainnya adalah Sri Maharaja Mapanji Garasakan (1044 - 1052). Pada masa pemerintahan Mapanji Garasakan, kerajaan Jenggala mengalami kemunduran akibat serangan dari Dhaha yang saat itu diperintah oleh Kameswara 1 (Inu Kertapati). Karena serangan itu pusat kerajaan Jenggala di tarik lebih ke Utara, diperkirakan sekarang berada di daerah Lamongan.

Bukti perpindahan pusat kerajaan itu dapat dilihat pada Prasasti Kembang Putih, Malengga yang ditemukan di daerah Tuban. Pada periode selanjutnya kerajaan Jenggala beribukota di Lamongan.

Tibalah Mapanji Alanjung Ahyes berkuasa (1052 - 1059). Jenggala di bawah Mapanji Alanjung Ahyes tetap berpusat di Lamongan. Pada masa pemerintahan nya sering di lancarakan serangan secara sporadis kepada pendudukan Dhaha.

Sri Samarotsaha adalah raja Jenggala terakhir sebelum kerajaan itu hilang dari pengamatan sejarah. Pusat kerajaan tetap di daerah Lamongan. Setalah tahun 1059 keberadaan Jenggala seperti hilang di telan bumi. Batas kerajaan Jenggala adalah sesuai dengan batas Kerajaan Kahuripan sebelah utara. Dalam hal ini batas daerah kekuasaan Jenggala meliputi Timur (Bali), Tenggara (Pasuruan), Barat daya (Kudus).

Sebagai sebuah catatan : istilah Jenggala pada awalnya adalah untuk menunjukkan sebuah tempat, Ujung Galuh, dan baru dipakai menjadi nama kerajaan setelah peristiwa pembelahan Kahuripan.

Untuk menentukan di mana letak kutaraja (kraton) Jenggala, tulisan ini menggunakan masa pemerintahan Sri jayantaka sebagai rujukan, yang mana kraton Jenggala ditempatkan di wilayah Sidoarjo. Adapun pertimbangannya adalah karena pada masa Sri Jayantaka yang Cuma tiga tahun itu, kerajaan Jenggala masih merupakan sebuah struktur pemerintahan yang otonom dan aktif. Artinya Jenggala pada waktu itu masih punya wilayah, pusat pemerintahan, pusat militer, fasilitas umum dan masih memegang kendali perkembangan Bandar dagang di sungai Porong.

Sedangkan untuk masa setelah Sri Jayantaka, Jenggala lebih berbentuk komunitas-komunitas kecil yang tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur. Termasuk juga pada pemerintahan Mapanji Garasakan dan Alanjung ayes yang masih memimpin perlawanan terhadap Kediri secara sporadis.

Selain merujuk pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, fakta lain yang menunjukkan hubungan Sidoarjo dengan Jenggala adalah;

1. Pertama, sebuah tulisan dari Kitab Negarakertagama yang menceritakan perjalanan dinas Hayam Wuruk untuk meninjau tiga daerah yang berdekatan yaitu Jenggala, Surabaya dan Bawean. Adapun kalimat dalam kitab tersebut adalah: Yen ring Jenggala ki sabha nrpati ring Curabhaya melulus mare Buwun (Jika raja berada di Jenggala, beliau pasti mengunjungi Surabaya sebelum ke Bawean).

2. Kedua, pada masa pemerintahan Mataram, wilayah Sidoarjo masih di sebut Jenggala. contohnya kawedanan di Sidoarjo diistilahkan Jenggala 1, Jenggala 2 dan seterusnya.

3. Banyaknya cerita rakyat yang berkembang dan peninggalan-peninggalan, misalnya : Makam Mbok Rondo Dadapan di Desa dadapan –Ande-Ande lumut, Tawang alun, Candi Kecana, Candi Sari serta bangunan-bangunan kuno di sepanjang sungai Pepe , Gunung Kalang Anyar dan Gunung Pulungan ( sekarang telah jadi perkampungan ) , adanya makam perkampungan lama di Tawang Alun, ditemukan adanya Arca serta ratusan bangunan lain yang banyak tersebar di wilayah Sidoarjo dan penanggungan.

Dengan beberapa fakta di atas bisa dikatakan bahwa kraton Jenggala pada mulanya ada wilayah Sidoarjo. Pertanyaan selanjutnya adalah di wilayah Sidoarjo sebelah manakah kraton Jenggala berdiri ? Ada beberapa pendapat yang berlainan mengenai keberadaan kraton Jenggala. tulisan ini hanya menghimpun pendapat-pendapat itu.

Menurut buku sejarah Sidoarjo yang di himpun PAPENSE (Panitia Penggalian Sejarah Sidoarjo, tahun 1970), letak kraton dari Jenggala berada di sekitar sungai Pepe. Hal ini dibuktikan dengan penemuan beberapa arca di lokasi itu. Pada saat ini lokasi yang diyakini kraton Jenggala itu berada di wilayah Kecamatan Gedangan.

Lain halnya dengan Totok Widiardi yang menyatakan bahwa kraton Jenggala berada di sekitar alun-alun. Tepatnya berada di lokasi yang kini menjadi rumah dinas Bupati Sidoarjo. Pendapat ini mendasarkan bukti tentang adanya patung katak raksasa dan arca Bathara Ismaya (Semar) yang masih berada di sana hingga tahun 1975.

Sampai saat ini kepastian di mana persis nya posisi kraton Jenggala masih misterius. Karena selain tidak adanya penelitian untuk itu juga belum ditemukannya situs purbakala yang menunjukkan bekas Kraton Jenggala. Di tambah lagi tidak adanya kitab-kitab peninggalan Jenggala.

D.PERTAHANAN JENGGALA
Sebenarnya kurang tepat bila disebut pusat militer, karena sebenarnya konsentrasi militer Jenggala (yang bisa terlacak saat ini) lebih bertujuan mengamankan Kutaraja (kraton) Jenggala.

Adapun pusat militer Jenggala dibagi dalam beberapa sektor-sektor sebagai berikut: sektor utara; kondisi geografis muara sungai Brantas memecah menjadi 9 sungai, yaitu : Krembangan, Mas, Pegirian, Greges, Anak, Bokor, Pecekan, Anda dan Palaca. Kesembilan sungai itu membentuk rawa dan delta-delta.

1. Batas paling Selatan dari muara Brantas ada di Wonokrmo, begitu juga garis pantai selat Madura.

2. Di sebelah Utara, militer Jenggala terpusat di daerah Wonokromo, Surabaya. Mengingat garis pantai pada saat itu adalah Wonokromo. Tujuan penempatan militer di posisi ini adalah untuk menghadang musuh dari utara. Selain itu juga berfungsi untuk mengawasi orang-orang hukuman (straafkoloni) yang di Surabaya. Perlu diketahui bila Surabaya mulai jaman Mataram Hindu (abad 9) sudah menjadi semacam “Nusa Kambangan” bagi para orang buangan. Komunitas perantaian yang di buang di situ terdiri dari narapidana, orang gila, cacat mental, cacat jasmani, tawanan perang dan perampok.

3. Di sektor tengah pusat militer Janggala diperkirakan berada di daerah Larangan (sekarang wilayah Kecamatan Candi). Peristiwa yang mendukung perkiraan itu adalah penemuan beberapa benda purbakala pada saat penggalian pondasi untuk Pasar Larangan yang terjadi di tahun 1980-an. Benda-benda purbakala itu berbentuk Binggal (gelang lengan), pedang, perhiasan dan rompi perang. Dari penemuan benda-benda keprajuritan itu beberapa orang sejarahwan menyimpulkan bahwa daerah Larangan dulunya merupakan komplek militer Jenggala. Walau pun hal itu harus dibuktikan dengan penelitian yang lebih lanjut, tetapi setidaknya akan membantu merekonstruksi komplek kraton Jenggala.

4. Di sebelah Selatan Jenggala menempatkan Miiternya di daerah Gempol. Tentu saja hal ini di maksudkan untuk melindungi asset ekonomi kerajaan Jenggala yaitu Bandar dagang Porong. Karena bagaimana pun juga bandar dagang ini merupakan keuntungan geografis yang menyumbang income terbesar bagi dana kerajaan. Selain itu juga dimaksudkan untuk mempertahankan Kutaraja dari serangan musuh yang datang dari selatan, terutama Kediri yang terang- terangan menuntut hak kepemilikan bandar dagang di Porong.

Beberapa pusat aktifitas Jenggala lainnya di antaranya diperkirakan dari proses persamaan kata (lingua franca). Dari proses persamaan kata ini, kita akan mendapati beberapa fakta bahwa pusat IPTEK Kerajaan Jenggala diperkirakan di kawasan kecamatan Taman. Tempat rekreasi bagi bagi putra-putri kerajaan diperkirakan di daerah Tropodo. Sementara itu Perpustakaan Kerajaan Jenggala (dalam sebuah riwayat di sebut Gedung Simpen) berada di Desa Entalsewu, Kecamatan Buduran. Sebuah sumber menyatakan lokasi perpustakaan ini berdasarkan lingua franca, kata Ental dengan TAL. Tal adalah sejenis pohon yang daunnya digunakan menjadi alat tulis-menulis, adapun daun pohon Tal secara jamak disebut RONTAL (Ron; daun, Tal; pohon Tal). Sedangkan kata sewu (seribu) dibelakangnya lebih menunjukkan jumlah yang banyak. Menurut sumber itu TAL SEWU berarti menunjukkan jumlah naskah-naskah yang banyak di sebuah tempat.

Masih berdasar lingua franca, pusat religi dan spiritual Jenggala diperkirakan berada di kawasan Buduran. Sebuah sumber mengkaitkan ini dengan kata Budur yang dalam Sansekerta berarti Biara. Kata Budur yang berarti biara ini bisa kita lihat dari kata Borobudur yang berarti biara yang tinggi (Boro: tinggi, Budur: Biara). Bila kata Budur ber-lingua franca dengan biara, maka Buduran berarti sebuah komplek berkumpulnya satu atau lebih biara. Dengan kata lain Kecamatan Buduran dimasa Jenggala adalah pemukiman bagi pemuka-pemuka agama.

E. SUNGAI PORONG DAN GUNUNG PENANGGUNGAN PUSAT POLITIK –BANDAR PERDAGANGAN

Pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, bandar dagang di Porong sedang dalam puncaknya. Konon bandar dagang ini dikatakan terbesar kedua setelah Sriwijaya. Banyaknya orang-orang asing yang berdagang semakin menunjukkan bandar dagang ini diperhitungkan di dunia internasional. Boleh jadi lahirnya bandar dagang ini merupakan babak baru bagi perjalanan sejarah Jawa.

Pada awalnya, kerajaan di Jawa bersifat agraris dan berada di lereng-lereng gunung. Segala aktifitas pemerintahan banyak dilakukan di sana. Tingkat interaksi dengan dunia luar tidak secepat Sriwijaya. Dengan keberadaan bandar dagang ini secara tidak langsung memindahkan kerajaan gunung ke kerajaan Pantai. Merubah budaya agraris dengan budaya merkantilis (perdagangan).

Ada dua orang dari negeri Cina yang sempat mencatat keberadaan Bandar dagang Porong.

1. Menurut Chou Yu Kua, menyatakan bahwa Bandar dagang di Porong merupakan sebuah pelabuhan yang besar dengan pajak murah dan kantor-kantor dagang yang berjejer dengan suasana yang menyenangkan. Kantor-kantor dagang itu mengurusi palawija, emas, gading, perak dan kerajinan tangan yang selalu disenangi dan dikagumi orang Ta-shi (Arab). Pusat perdagangan berada di tempat yang bernama Yeo-thong (Jedong, sekarang wilayah Ngoro). Di belakangnya ada gunung dengan sembilan puncak yang selalu diselimuti kabut tebal. Gunung yang bernama Pau-lian-an (Penanggungan) itu menjadi pedoman navigasi kapal yang akan masuk pelabuhan Porong.

2. Chou Ku Fei, seorang Pedagang, menuliskan kondisi subur tanah Jung-galuh (Jenggala) yang banyak dikelilingi sungai- sungai besar yang tembus dampai di gunung Pau-lain-an (Penanggungan). Sedangkan Bandar dagang di Porong banyak didatangi oleh para pedagang dari Cina, Arika, Thailand, Ta-shi (Arab) yang mengimpor beras, kayu Cendana, Kayu Gaharu dan bunga-bunga kering seperti Kenanga dan Melati.

Dalam sejarah kerajaan2 Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan adalah sebuah gunung yang penting (Daldjoeni, 1984; Lombard, 1990). Kerajaan2 yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat nadi Sungai Brantas, kerajaan2 itu mengelilingi Gunung Penanggungan, misalnya Kahuripan, Jenggala, Daha, Majapahit, dan Tumapel (Singhasari). Daerah genangan LUSI sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari zaman Sindok dan Erlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit.

Setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan2 itu, maka Gunung Penanggungan dijadikan ajang strategi perang. Erlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru. Penanggungan pun dijadikan tempat2 untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Erlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Erlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. Makam2 keramat ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus2 tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.

Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. Menurut Nash (1932) – "hydrogeologie der Brantas vlakte", Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan2 ini kelihatannya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.

Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 "Le Carrefour Javanais - Essai d'Histoire Globale" (sudah diterjemahkan oleh Gramedia sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang "Prasasti Kelagyan" zaman Erlangga bercandra sengkala 959 Caka (1037 M). Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan mmenceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah2 penduduk. Erlangga bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana "Banyu Pindah" dalam buku Pararaton. Bencana seperti ini kelihatannya terjadi berulang2, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256 Caka (1334 M) pada zaman Majapahit.

Sejak zaman Kerajaan Medang abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh). Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Kahuripan yang letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (sekitar 10 km ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan LUSI sekarang). Setelah kerajaan Erlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri, pelabuhan dari Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, dekat Mojokerto sekarang. Kemudian, Kediri digantikan Singhasari, lalu akhirnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M, pusat kerajaan kembali mendekati laut di Delta Brantas, sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang menguasai maritim.

F.SURUTNYA KERAJAAN JENGGALA”
Seperti yang telah dikemukakan bahwa Bandar dagang Porong merupakan sumber perselisihan yang mengarah pada pertumpahan darah. Sri Jayawarsa yang memerintah Kediri (Dhaha) menuntut kepada kerajaan Jenggala agar Bandar dagang di Porong diserahkan pada Dhaha. Tuntutan ini di tolak oleh Raja Jenggala yang mendasarkan pada hasil pembelahan Kahuripan di Jaman Airlangga. Atas jawaban ini raja Dhaha mengancam akan merebut Bandar dagang Porong dan menyerbu Jenggala dengan kekuatan militer. Patut diketahui dalam bidang militer Dhaha lebih unggul dari pada Jenggala. Karenanya dapat dipastikan bila terjadi perang maka Jenggala akan berada di pihak yang kalah.

Untuk menghindari terjadinya peperangan saudara ini, dan juga untuk agar Bandar dagang Porong dikuasai dua kerajaan, maka diusulkan untuk menggelar perkawinan antar dua putra mahkota. Dua orang itu adalah Inu Kertapati anak raja Jenggala, dan Dewi Sekartaji putri. Perkawinan ini diharapkan bisa mereda ketegangan antara Jenggala dan Dhaha.

Tetapi konsensus yang digagas itu kenyataannya tidak berjalan mulus. Walaupun Dewi Sekartaji sangat mencintai Inu Kertapati, tetapi Inu kertapati ternyata tidak mencintai sepupunya itu. Ia lebih memilih Dewi Anggaraini anak patih Jenggala. akibatnya ketegangan memuncak lagi. Kerajaan Dhaha kembali mengancam akan membumi hanguskan Jenggala bila perkawinan politik itu gagal. Oleh Kecemasan akan serbuan Dhaha itu, raja Jenggala membuat kebijakan dengan membunuh Dewi Anggraini. Sehingga diharapkan perkawinan antara Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji bisa berjalan Lancar.

Namun permasalahan tidak berhenti disini. Sedih karena kematian kekasihnya, Inu Kertapati diam-diam meninggalkan istana Jenggala. Ia pergi berkelana. Sedangkan Dewi Sekartaji yang merasa malu karena Inu Kertapati lebih mencintai Orang lain juga melakukan hal yang serupa. Sekartaji (atau juga disebut Galih Candra Kirana) meninggalkan Dhaha.

Dari perjalanan ini pula timbul banyak legenda Jawa yang terkenal sampai sekarang, Ande-ande lumut , entet dan mbok Rondo Dadapan. Dimana dalam cerita itu Inu Kertapati di simbolkan sebagai Ande-ande Lumut, Entit yaitu seorang jejaka anak pungut Mbok Rondo Dadapan yang membuat hati para gadis takluk. Sedangkan Dewi Sekartaji disimbolkan sebagai Klenting Kuning, seorang anak pungut yang disia-siakan saudara dan ibu tirinya, tetapi pada akhirnya ia yang dipilih Ande-ande lumut menjadi istri. Dan disamping itu “ Cah Ayu” yang menggoda “ Si entit ” adalah Dewi Sekartaji yang juga menyamar sebagai wanita desa. Perjalanan kedua putra mahkota ini juga di tulis oleh Mpu Dharmaja, seorang pujangga Dhaha, dalam kekawin Asmaradahana pada pemerintahan Kameswara 1.

Kemudian mereka melaksanakan pernikahan di Dhaha dan Inu Kertapati Marak dinobatkan menjadi Raja Dhaha dengan gelar Kamesywara 1 (1115-1130), bergelar Sri maharaja rake sirikan sri Kameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, lencana kerajaan berbentuk tengkorak bertaring yang disebut Chandrakapala, dan adanya mpu Dharmaja yang telah menggubah kitab Asmaradahana (berisi pujian yang mengatakan raja adalah titisan dewa Kama, ibukota kerajaan bernama Dahana yang dikagumi keindahannya oleh seluruh dunia, permaisuri yang sangat cantik bernama Dewi Candhra Kirana). Mereka dalam kesusasteraan Jawa terkenal dalam cerita Panji. Dengan dinobatkannya Inu Kertapati sebagai Raja Dhaha maka kerajaan Jenggala dan Dhaha disatukan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1045 M. Terhitung dari tahun ini Jenggala sebagai kerajaan Besar pelan-pelan menutup buku sejarah.

Dengan diangkatnya Inu Kertapati menjadi raja di Dhaha, maka secara tidak langsung wilayah Kahuripan yang sebelumnya terpecah dapat disatukan lagi. Hanya saja wilayah itu tidak dibawah bendera Jenggala tetapi bendera Kerajaan Dhaha. Bisa dikatakan bahwa pada saat itu Kerajaan Jenggala mulai surut. Raja-raja Jenggala setalah Sri Jayantaka menarik Kerajaan lebih ke jauh di Utara.

Sejarah masih bisa melacak keberadaan Jenggala hingga tahun 1059, peristiwa ini bisa dilihat dari prasasti Kembang Putih di Lamongan. Prasasti ini menulisakn bahwa kraton Jenggala berada di sebelah utara sungai Lanang. Kraton ini berada di sana sampai dengan pemerintahan raja Jenggala terakhir Sri Samarattongga. setelah itu Jenggala hilang dari panggung sejarah.

Sampai saat ini masih belum didapat sebuah sumber yang menjelaskan secara tepat perginya orang Jenggala setelah 1059. Apakah mereka dari raja hingga rakyatnya habis ditumpas bala tentara Dhaha ataukah orang-orang Jenggala itu hijrah ke tempat lain?

G.MITOLOGI CANDI PARI
Salah satu cagar budaya yang bisa dikatakan utuh sampai sekarang adalah Candi Pari. Candi yang terletak di kecamatan Porong ini di bangun pada jaman Majapahit atau seperti yang tertulis pada 1293 C (1371 M ). Candi Pari yang terletak di ketinggian 4,42 meter di atas permukaan air laut ini memiliki area luas mencapai 1310 meter persegi. Sementara bangunan induknya terletak di sisi timur area. Ada dua versi cerita tentang Candi Pari yang saling bertolak belakang.

1. Di satu versi Candi Pari di sebut sebagai bangunan persembahan untuk Ratu Campa, atau lebih tepatnya sebagai tempat persing gahan sang ratu bila ingin mengunjungi saudaranya di Majapahit.

2. Sedangkan di versi kedua, Candi Pari menjadi simbol pembangkang an rakyat sekitar candi terhadap penarikan upeti dari Majapahit yang saat itu diperintah Hayam Wuruk (Rajasa Negara). Menurut versi ini kondisi daerah di Candi Pari adalah hutan rimba. Adalah Jaka Pandelegan (konon masih anak Prabu Brawijaya dari perselingkuhannya dengan seorang gadis desa bernama Ni Jinjingan) yang berjasa menyulap daerah hutan menjadi daerah pertanian yang makmur. Kemakmuran itu membuat Majapahit menuntut upeti dengan jumlah yang tinggi. Jaka Pandelegan yang merasa tidak berhutang budi dengan Majapahit menolak tuntutan itu. Hasil pertanian tidak diserahkan ke Majapahit tetapi untuk kepentingan masyarakat di daerah itu. Majapahit yang sedang jaya itu menganggap sikap Jaka Pandelegan sebagai tantangan terhadap bala tentaranya. Untuk itu Majapahit kemudian mengirim pasukan untuk menangkap dan menghukum Jaka Pandelegan.

Singkat cerita pasukan itu sampai di desa Jaka Pandelegan. Mereka bergerak cepat untuk menangkap tokoh yang dianggap pembangkang itu. Jaka Pandelegan lari menghindari tangkapan prajurit Majapahit dan melompat di tumpukan padi, di sana ia muksa. Merasa tidak bisa menangkapnya, prajurit Majapahit bergerak untuk menangkap istri Jaka Pandelegan yang bernama Nyi Walang Angin. Sama dengan suaminya, wanita itu berlari dan menceburkan diri di sebuah sumur di sebelah selatan tumpukan padi itu, disana ia juga tidak pernah ditemukan. Untuk mengenang suami istri yang berjasa pada daerah itu maka didirikanlah Candi Pari di bekas tumpukan Padi dan Candi Sumur di daerah itu.

Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa kedua versi itu saling bertolak belakang. Salah satu versi melambangkan Candi Pari sebagai persembahan bagi penguasa, sedangkan versi satunya menjadikan Candi Pari sebagai simbol bagi perlawanan terhadap penguasa. Walaupun berbeda setidaknya kedua versi itu akan saling melengkapi, apalagi jika mau kita menggali, mengumpulkan dan mendokumentasi kejadian masa lampau.

DAFTAR PUSTAKA DAN BACAAN
1. Arsip Nasional Suriname, Achtergrondinformatie, 2006
2. Berg, C.C. Penulisan Sejarah Jawa, BHARATA 1976
3. Breg, C.C. Javaansche Geschiedschrijving, N.V. Uitgevers Maatschappij Amsterdam, 1938.
4. Dinas Purbakala Jawa Timur. Tafsir Kitab Negarakertagama, 1985.
5. De Graf, H. J, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Pustaka Grafiti Pers dan KITLF, 1986.
6. De Graf, H. J, Runtuhnya Istana Mataram, Pustaka Utama Grafiti dan KITLF, 1986.
7. Houben, Vincebt, J.H. Kraton and Kumpeni, KITLV press 1994.
8. Iswanto, Syaiful Ary. wawancara dengan Totok Widiardi, Juli 2005.
9. Iswanto, Syaiful Ary. Irisan Airlangga yang diiris Belanda, Januari 2005.
10. Hariyono. Kultur Cina dan Jawa, Pustaka Sinar Harapan 1993.
11. Kartodirjo, Sartono. Ratu adil, Sinar Harapan Jakarta, 1984.
12. Surat Keputusan Gubernur Jendral Stbl. No: 138 13 Juli 1889 Koeli Ordonantie & revisi surat keputusan lain tertanggal 11 Maret 1898, Stbl. No: 78
13. Moll, J.P.A.C. val. De Onlusten in Sidhoardjo (Mei 1904), Archief Java suker industri, 1905.
14. Nortier, J.J. De Japanese aanval op Java Maart 1942, De Bataafse Leeuw, 1994.
15. Panitia Penggalian Sejarah, Sejarah Sidoarjo, 1970
16. Radar Surabaya. Legenda Candi Pari Sarat dengan Nuansa Politik, 25 Juni 2003.
17. Staatsarchief Suriname, Archief Immigratiedepartement Gepubliceerd in Hoefte, 1998
18. Sidoarjo pos, Persembahan untuk Ratu, Minggu ke 2 April 2005.
19. Stapel, Dr. F.W. Geschiedenis van Nederlands Indie, N.V. Uitgevers Maatschappij Amsterdam, 1938.
20. Toer, Pramoedya ananta. Arok Dedes , Hasta Mitra Jakarta, 2000.
21. Widodo, Imam Dukut. Surabaya Tempo Doeloe, 2002
22. Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia, Republiek Suriname, 2005
23. Yuanzi, Prof Kong, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Yayasan Obor Indonesia, 2000
Di bawah ini adalah catatan2 sejarah yang berhubungan, geologi, dan folklore yang berselang lebih dari 100 tahun penerbitannya. Dimulai dari Daldjoeni (1984, 1992) "Geografi Kesejarahan", lalu bersambung ke depan dan ke belakang menuju Purwadi (2001) "Babad Tanah Jawi : Menelusuri Jejak Konflik", Slamet Muljana (1968, 2005) "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara", Slamet Muljana (1965, 2005) "Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)", Denys Lombard (1990) "Le Carrefour Javanais", James Nash (1932), "Enige voorlopige opmerkingen omtrent de hydrogeologie der Brantas vlakte - Handelingen van 6de Ned. Indische Natuur Wetenschappelijke Congres", H.J. de Graaf (1949) "de Geschiedenis van Indonesie", J. Brandes (1896) "Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit", buku2 geologi karya Duyfjes (1936-1938) untuk pemetaan wilayah Kendeng bagian timur ("Zur geologie und stratigraphie des Kendenggebietes zwischen Trinil und Soerabaja" dan "Toelichting bij blad 115,109, 110, 116), juga karya masterpiece van Bemmelen (1949, 1972) "The Geology of Indonesia", dan buku folklore karya James Danandjaja (1984) " Folklor Indonesia : Ilmu gossip, dongeng, cerita rakyat dan lain2.

Sumber : http://duniapusaka.com/index.php?route=product/product&product_id=789
Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya

Silsilah Kerajaan Sriwijaya

Silsilah raja-raja di Kerajaan Sriwijaya sampai saat ini belum ditemukan
secara utuh. Beberapa data yang dihimpun merupakan fragmen yang
dirangkai menurut alur waktu dari abad ke-7 sampai menjelang runtuhnya
Kerajaan Sriwijaya. Beberapa sumber yang dipakai dalam penulisan ini
diambil dari Paul Michel Munoz (2006:175); Marwati Djoenoed Poesponegoro
& Nugroho Notosusanto (1993); dan Slamet Muljana//(1981). Silsilah
raja-raja di Sriwijaya sebagai berikut:

 1. Dapunta Hyang Sri Jayanaga (683 M). Selama masa pemerintahannya,
    Raja Dapunta Hyang Sri Jayanaga telah menuliskan Prasasti Keduka Bukit , Talang
    Tuo (684 M), dan Kota Kapur. Selain itu, Dapunta Hyang Sri Jayanaga
    juga menaklukkan Kerajaan Melayu dan Tarumanegara.
 2. Indravarman (702 M). Selama masa kepemimpinan Indravarman, dikirim
    utusan ke Tiongkok pada 702-716 M,dan 724 M.
 3. Rudra Vikraman atau Lieou-t`eng-wei-kong (728 M). Selama masa
    kepemimpinan Rudra Vikraman, dikirim utusan ke Tiongkok pada 728-748 M.
 4. Dharmasetu (790 M).
 5. Wisnu (795 M) dengan gelar Sarwarimadawimathana yang artinya
     ?pembunuh musuh-musuh yang sombong tiada bersisa ? (775 M). Selama
    kepemimpinannya, Raja Wisnu memulai pembangunan Candi Borobudur pada
    770 M dan menaklukkan Kamboja Selatan.
 6. Samaratungga (792 M). Selama kepemimpinan Raja Samaratungga,
    Sriwijaya kehilangan daerah taklukannya di Kamboja Selatan pada 802 M.
 7. Balaputra Sri Kaluhunan (Balaputradewa) (835 M). Raja ini
    memerintahkan pembuatan biara untuk Kerajaan Cola di India dengan
    meninggalkan Prasasti Nalanda.
 8. Sri Udayadityawarman (960 M). Selama kepemimpinannya,  Raja Sri
    Udayadityawarman mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 960 M.//
 9. Sri Wuja atau Sri Udayadityan (961 M). Selama kepemimpinannya, Raja
    Sri Udayadityan mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 961-962 M.//
10. Hsiae-she (980 M). Selama kepemimpinannya, Raja Hsiae-she
    mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 980-983 M.//
11. Sri Cudamaniwarmadewa (988 M). Saat beliau memerintah, terjadi
    penyerangan dari Jawa.//
12. Sri Marawijayottunggawarman (1008 M). Selama kepemimpinannya, Raja
    Sri Marawijayottunggawarman mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1008
    M.//
13. Sumatrabhumi (1017 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sumatrabhumi
    mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1017 M.//
14. Sri Sanggramawijayottunggawarman (1025). Selama kepemimpinan Raja
    Sri Sanggramawijayottunggawarman, Sriwijaya dapat dikalahkan oleh
    Kerajaan Cola dan sang raja sempat ditawan. //
15. Sri Deva (1028 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Deva mengirimkan
    utusan ke Tiongkok pada 1028 M.//
16. Dharmavira (1064 M).
17. Sri Maharaja (1156 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Maharaja
    mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1156 M.
18. Trailokaraja Maulibhusana Varmadeva (1178 M). Selama
    kepemimpinannya, Raja Trailokaraja Maulibhusana Varmadevamengirimkan
    utusan ke Tiongkok pada 1178 M.
19. Pada tahun 1402, Parameswara, pangeran terakhir Sriwijaya mendirikan
    Kesultanan Malaka di Semenanjung Malaysia. //

Sumber : http://septianputrapratama-tp-unbara.blogspot.com/2012/11/silsilah-kerajaan-sriwijaya.html