Nama Raja-Raja Bali Sebelum & Sesudah Majapahit

Nama Raja-Raja Bali Sebelum & Sesudah Majapahit

Raja2 Bali sebelum Majapahit yang datangnya di dapat berdasarkan prasasti :
1. Çri Keçari Warmadēwa (Saka 835/913M)
2. Çri Ugrasēna (Saka 837-864/915-942M)
3. Agni Nripati (Saka 841-875/953-953 M)
4. Tabanēndra Warmadēwa (Saka 877-889/955-967 M)
5. Candrabhaya Singha Warmadēwa (Saka 878-896/956-974M) –> Pendiri Tirta Empul.
6. Jana Sadhu Warmadēwa (Saka 897/975M)
7. Gunapryadharmapatni-Dharmo
dayana Warmadēwa (Saka 910-933/998-1011M)
Memiliki tiga Putra :

a. Airlangga (Kemudian menjadi Raja Kahuripan/Sebelum disebut Kadiri)
b. Marakata
c. Anak Wungsu
8. Çri Adnya Dewi (Saka 933-938/1011-1016M)
9. Marakata Pangkaja Sthana Tunggadēwa (Saka 938-962/1016-1040M)
10. Anak Wungsu (Saka 971-999/1049-1077M)
11. Sakalendu Kirana (Saka 1020-1023/1088-1101M)
12. Suradipa (Saka 1037-1041/1115-1119M)
13. Jaya Çakti (Saka 1055-1072/1133-1150M)
14. Ragajaya (Saka 1077-1092/1155-1170M)
15. Jayapangus (Saka 1099-1103/1177-1181M)
16. Arjaya Deng Jayaketana (Tidak diketemukan tahunnya, namun dari cara penulisan dan isinya diperkirakan antara Jayapangus dengan Ekajayalancana)
17. Ekajayalancana (Saka 1122-1126/1200-1204M)
18. Adhikuntiketana (Saka 1126/1204M)
19. Masula Masuli
20. Pameswara Çri Hyangning Hyang Adhidewalancana (Saka 1182-1208/1260-1286M)
Serangan Prabhu Kerthanegara Raja Singhasari Saka 1208/1286M
Pemerintahan Bali di bawah Singhasari :
1. Kryan Demung Sasabungalan (Saka 1206/1284M)
2. Kebo Parud Makakasir (Saka 1206-1246/1284-1324M)
a. Kedatangan para Arya dan Rohaniwan Kerajaan Singhasari
b. Kedatangan Para Mpu Keturunan Sapta Rsi bersama Bhujangga
Runtuhnya Singhasari, Bali kembali Mandiri :
1. Bethara Çri Maha Guru (Saka 1246/1324M)
2. Çri Walajaya Krethaningrat (Saka 1250-1259/1328-1337M)
3. Asta Sura Ratna Bumi Banten (Saka 1259-1265/1337-1343M)
Serangan Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada, bersama masuknya para Arya :
1. Arya Damar (1343-1345M)
2. Arya Kenceng (1343-1345M)
3. Arya Gajahpara (1343-1345M)
Kemenangan akhirnya diperoleh walau pun dengan berbagai trik dan tipu muslihat sebab kalah sakti oleh orang Bali Aga dan Bali Mula.
Pemerintahan Bali oleh Raja yang ditunjuk oleh Majapahit dan masih berasal dari Bali :
1. Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel (Saka 1265-1272/1343-1350M)
Pemerintahan Bali oleh Raja (Adipati/sekarang = Gubernur) yang ditunjuk oleh Majapahit dan masih berasal dari Jawa :
1. Çri Kresna Kapakisan / Adipati Samprangan (Saka 1272-1295/1350-1373M)
Kemudian karena Çri Kresna Kapakisan merasa tidak sanggup memerintah Bali, maka bermaksud ingin meletakkan jabatan dan melapor ke Kota Raja Majapahit.
Akhirnya Gajah Mada mengutus Arya Kepakisan sebagai Patih Agung untuk mendampingi Çri Kresna Kapakisan. Sebab Gajah Mada memahami bahwa rakyat Bali tetap tidak akan mau tunduk kepada Majapahit jika tidak dipimpin oleh bukan orang2 keturunan Bali. Arya Kepakisan adalah keturunan dari Prabu Airlangga (Raja Kahuripan) yang merupakan anak kandung dari Gunapryadharmapatni-Dharmodayana Warmadēwa.
2. Çri Agra Samprangan (Saka 1295/1373M)
3. Çri Smara Kapakisan (Saka 1302-1382/1380-1460M)
4. Dalem Watur Enggong (Saka 1382-1472/1460-1550M)
5. Dalem Bekung (Saka 1472-1502/1550-1580M)
6. Dalem Sagening (Saka 1502-1543/1580-1621M)
7. Dalem Di Made (Saka 1543-1573/1621-1651M)
8. Gusti Anglurah Ketut Karang (Saka 1572-1602/1650-1680M)
9. I Gusti Agung Maruti (Saka 1573-1599/1677-1651M)
10. I Dewa Agung Jambe (Saka 1599-1664/1722-1736M)
11. I Dewa Agung Di Made (Saka 1664-1742/1714-1792M)
12. I Dewa Agung Gde (Saka 1714-1759/1792-1837M)
13. I Dewa Agung Sakti (Saka 1759/1837M)
14. …..
15. ….
Dst… Hingga akhirnya masuknya Penjajahan Belanda
Ulasan lengkapnya lihat di catatan/note di akun saya berjudul “Puspa Harum Banoa Bangsul”.
Kembali ke topik.
Yang digunakan untuk mengklaim oleh orang yang mengaku Raja Majapahit yang berasal dari Mojokerto kemudian mengungsi di wilayah Bukit saat ini adalah mengaku dari keturunan Jayasabha. Jayasabha adalah saudara kandung dari Jayabhaya keturunan dari Prabu Airlangga. Namun saya sendiri pernah bertanya dengan maksud menggali informasi, ternyata mereka tidak bisa menunjukkan bukti silsilah (pengelintih) keturunan manakah yang menyebabkan dia ada. Kemudian, kalau tidak salah, yang mengaku Raja Bali Majapahit itu pun diangkat oleh Raja Majapahit yang dari Mojokerto tersebut. Selanjutnya tinggal teman2 simpulkan sendiri…
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan, saya semata2 mengangkat berdasarkan bukti prasasti berdasarkan sumber2 yang saya temukan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Salinan Lontar Sari Manik Tuluk Biyu Batur Kintamani
2. Narendra Dev. Pandit Shastri, Sejarah Bali Dwipa 26 Januari 1963
3. Anonim, rangkuman salinan berbagai Lontar Babad
4. Salinan Lontar Babad Mangwi Gedong Kirtya 1039
5. Salinan Lontar “Pamungkah Panamaskarang sakula Gotra Para Arya saking Jawi ikang tumedun ngiring Sira Çri Dalem Cili Kresna Kepakisan” katedunang saking Lontar Prasasti saking Puri Agung Semarapura Klungkung.
6. Sejarah Politik Bali dari abad X sampai dengan pendudukan Kolonial Belanda, oleh I Made Dwi Putra Sanjaya, S.Sos, MIB. 8 April 2003.

Sumber : http://pmhdwarmadewa.wordpress.com/2011/05/15/nama-raja-raja-bali-sebelum-sesudah-majapahit/
Kerajaan Jenggala

Kerajaan Jenggala

SIDOARJO ADALAH PUSAT KERAJAAN JENGGOLO

Andai Dewi Kilisuci bersedia menjadi ratu di Kahuripan, barangkali sejarah tidak mengenal kerajaan Jenggala. Tetapi karena sang dewi lebih tertarik pada kesunyian gua Selomangleng (Kediri) daripada pesta pora hedonistik istana, maka Ayahnya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan menjadi dua.

Pembelahan kerajaan Kahuripan bukan saja merubah wajah Jawa secara geografis, tapi juga geopolitik dan ekonomi. Pusat pemerintahan yang sebelumnya ada di satu tempat kini menjadi dua. Hanya sayangnya pusat ekonomi tetap menjadi hak sebuah daerah belahan dari Kahuripan. Masing-masing dua daerah belahan Kahuripan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan. Jenggala, belahan sebelah utara ini kuat dalam ekonomi karena bandar dagang di Sungai Porong termasuk dalam wilayahnya. Sedangkan Dhaha (Kediri) yang bercorak agraris ini lebih kuat dalam bidang Yudhagama, olah keperajuritan, militer, bahkan mempunyai pasukan gajah.

Pembelahan kerajaan ini memang pada ujungnya juga menyisakan sebuah sengketa antar dua pewaris. Dimana di salah satu belahan mengalami tingkat perekonomian yang tinggi, sementara di belahan lain tingkat ekonominya sangat minus.

Kedua perbedaan inilah yang menimbulkan sebuah perang yang akan meluluh lantakkan sebuah kerajaan dari muka bumi. Dan kerajaan itu adalah Jenggala.

A.KETURUNAN DARI BALI KE KAHURIPAN
Bicara tentang sejarah jawa feodal, kita tidak bisa meninggalkan Airlangga. Walaupun ia tidak berasal dari Jawa, Airlangga mempunyai peran besar dalam menentukan arah kisaran sejarah Jawa Timur paska kerajaan Kahuripan. Airlangga adalah putra Raja Bali, Udayana dari pemaisuri Mahendratta. Ibu Airlangga ini masih adik kandung dari Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, Raja Medang Kamulan di Jawa Timur, sebuah kerajaan yang berjalur keturunan Dinasti Isyana dari jaman Mataram Hindu

Pada umur 17 tahun, Airlangga datang ke Mendang Kamulan untuk menikahi kedua putri Sri Darmawangsa Teguh yang bernama Sri dan Laksmi. Pada waktu pesta penikahan ketiga anak raja ini terjadi sebuah peristiwa yang membuat Airlangga muda merubah jalan hidupnya. Barangkali hanya Sri Dharmawangsa Teguh, raja Jawa yang berani menyerang Sriwijaya. Padahal, Sriwijaya yang bercorak Budha itu sedang mengalami jaman keemasannya oleh bandar dagang dan ketinggian filsafatnya. Bisa ditebak jika serangan dari Jawa itu kemudian mengalami kegagalan.

Namun itu tidak mengurungkan Sriwijaya untuk menghukum Medang Kamulan dengan menggunakan kerajaan Wura-wuri (Ponorogo) sekutunya di Jawa. Serbuan dari kerajaan Wura-wuri itu terjadi tepat di malam pesta pernikahan Airlangga dengan kedua Putri Dharmawangsa. Peristiwa tragis yang kemudian disebut

Pralaya (Malapetaka) di Kraton Medang itu menewaskan Sri Dharmawangsa Teguh berikut pemaisuri, patih dan menteri- menterinya.

Menurut batu Calcutta, seluruh Jawa bagaikan satu lautan yang dimusnahkan oleh raja Wura-wuri. Tapi ada yang lolos dari kehancuran, yaitu Airlangga beserta kedua istri dan sedikit pengawalnya yang melarikan diri ke Gunung Prawito (Penanggungan). Di sana, Airlangga bersembunyi dan mengatur kekuatan untuk merebut kembali kerajaan mertuanya.

Pada tahun 1019, Airlangga yang dinobatkan oleh para pendeta Budha, Siwa dan Brahmana, menggantikan Dharmawangsa, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramo-tunggadewa. Ia memerintah dengan daerah hanya kecil saja karena kerajaan Dharmawangsa sudah hancur, menjadi terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.

Sejak tahun 1028 Airlangga mulai merebut kembali daerah- daerah saat pemerintahan Dharmawangsa, yang bisa jadi juga ada hubungannya dengan kelemahan Sriwijaya yang baru saja diserang dari Colamandala (1023 dan 1030). Raja-raja yang ditaklukkan itu adalah Bhismaprabhawa (1028-1029), Wijaya dari Wengker (1030), Adhamapanuda (1031), raja Wengker (1035), Wurawari (1032) dan seorang seperti raksasa raja perempuan (1032). Peperangan Airlangga melawan Sang Ratu ini melahirkan legenda Calon Arang di Bali.

Kemakmuran dan ketentraman pemerintahan Airlangga (ia dibantu oleh Narottama/rakryan Kanuruhan dan Niti/rakryan Kuningan) yang ibukotanya pada tahun 1031 di Wotan Mas dipindahkan ke Kahuripan di tahun 1031, kraton dari kerajaan ini diperkirakan berada di desa Wotan Mas, wilayah Ngoro kabupaten Pasuruan, atau sekarang lebih dikenal dengan nama situs Kuto Girang.

Pemerintahan Airlangga diikuti dengan suburnya seni sastra, yang antara lain: kitab Arjuna Wiwaha karangan mpu Kanwa tahun 1030 M yang berisi cerita perkawinan Arjuna dengan para bidadari hadiah para dewa atas jerih payahnya mengalahkan para raksasa yang menyerang kayangan (kiasan hasil usaha Airlangga sendiri yang merupakan persembahan penulis kepada raja). Ini juga pertama kali keterangan wayang dijumpai, walau sebetulnya sudah ada sebelum Airlangga.

B.KERAJAAN KAHURIPAN ( AIRLANGGA ) TERBELAH
Prabu Airlangga mempunyai dua istri yaitu Sri dan Laksmi. Keduanya adalah putri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang tak lain pamannya sendiri. Dari perkawinannya dengan Sri, Prabu Airlangga mendapatkan seorang putri yang bergelar Dewi Kilisuci atau disebut juga Dewi Sanggramawijaya yamg ditetapkan sebagai mahamantri i hino (ialah berkedudukan tertinggi setelah raja). setelah tiba masanya menggantikan Airlangga, ia menolak dan memilih sebagai pertapa.

Semenjak awal Dewi Kilisuci telah menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Rupanya Kesunyian Gua Selomangleng (Kediri) dan Pucangan (gunung Penanggungan), ternyata lebih menarik perhatian sang Putri dari pada Hedonistik Istana. Dia memutuskan untuk menarik diri dari hiruk pikuk keduniawian, Sehingga ia menolak ketika harus menggantikan Airlangga menjadi ratu di Kahuripan.

Selain Dewi Kilisuci, Airlangga juga mempunyai dua orang bernama Lembu Amisena dan Lembu Amilihung. Keduanya putra dari selir. Karena pewaris tahta yang sah tidak bisa menggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan

untuk dipimpin kedua putranya. Sebelum Keputusan ini di ambil, Airlangga terlebih dahulu meminta saran Mpu Bharada yang menjadi penasehatnya. Menurut sang Mpu, membagi kerjaan bukanlah sebuah jalan keluar yang baik, sebab dikhawatirkan akan timbul perang saudara antar putra Airlangga.

Kemudian Mpu Bharada menyarankan agar salah satu putraAirlangga memerintah di Bali, karena masih punya darah dengan Udayana (ayah Airlangga). Saran Mpu Bharada di terima oleh Airlangga dan segera mengutusnya ke Bali. Di sana Mpu Bharada melakukan perundingan dengan Mpu Kuturan, seorang pandita tinggi. Tetapi usul Airlangga itu ditolak Mpu Kuturan karena yang bisa menjadi Raja Bali adalah keturunan Mpu Kuturan sendiri. Merasa menemukan jalan buntu, Mpu Bharada kembali ke Kahuripan.

Berdasarkan dua petimbangan di atas, maka Airlangga melaksanakan pembelahan kerajaan Kahuripan 1042. Proses pembagian kerajaan itu menjadikan Kahuripan menjadi Dua. Di Kahuripan bagian Utara berdiri kerajaan Jenggala yang dipimpin Lembu Amiluhung yang bergelar Sri Jayantaka, sedangkan di bagian Selatan berdiri Kerajaan Dhaha yang dipimpin Lembu Amisena yang bergelar Sri JayaWarsa. Peristiwa pembelahan ini dicatat oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Negarakertagama. Alasan pembagian kerajaan dilukiskan Oleh Mpu Prapanca sebagai “Demikian lah sejarah Jawa menurut tutur yang dipercaya. Kisah JenggalaNata di Kahuripan dan Sri Nata Kahuripan di Dhaha (Kediri). Waktu bumi Jawa di belah karena cintanya pada kedua putranya.
Sedangkan sosok tokoh pelaksana pembagian itu, Mpu Bharada, dilukiskan sebagai berikut: Mpu Bharada nama beliau, adalah pendeta Budha Mahayana yang telah putus ilmu Tantrayananya, bersemedi di lemah Tulis gunumg Prawito (penanggungan). Ia dikenal sebagai pelindung rakyat dan kemana-mana selalu jalan kaki.

Kemudian Mpu Prapanca juga mencatat proses pembagian kerajaan itu sebagai berikut: Beliau menyanggupi permintaan Raja untuk membelah kerajaan. Tapal batas dua bakal kerajaan itu di tandai dengan kucuran air dari kendi yang

dibawanya terbang ke langit. Dalam kitab ini Mpu Prapanca juga menuliskan sebuah peristiwa kecil yang menimpa Mpu Bharada dalam pekerjaannya: Turun dari langit sang Mpu berhenti di bawah pohon Asam. Kendi Suci di tar uh di desa Palungan (sekarang wilayah Gempol). Karena jubahnya tersangkut pohon Asam, marahlan sang Mpu, dan beliau mengutuk pohon Asam itu kerdil untuk selamanya.

Air kucuran kendi itu membuat garis demarkasi untuk kedua kerajaan. Mengenai garis itu Negara Kertagama menulis: Tapal batas Negara adalah Gunung Kawi sampai dengan aliran sungai Poro (Poro : porong, jawa kawi ; dibagi). Itulah tugu gaib yang tidak bisa mereka lalui. Maka dibangunkah Candi Belahan (Sumber Tetek) sebagai prasasti di belahnya Kahuripan. Semoga Baginda tetap teguh, tegak dan berjaya dalam memimpin Negara.

CANDI BELAHAN
Airlangga turun tahta setelah pembelahan Kahuripan. Dua kerajaan baru yang berdiri di atas Kahuripan telah dipimpin oleh putra-putranya. Seperti adat leluhurnya, ia pun lengser keprabon madeg mandita (turun tahta dan hidup seperti pendeta).

Dalam upayanya meninggalkan keduniawian ini ia memilih Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna. Selain meninggalkan tahta, ia juga menanggalkan gelarnya. Sebagai gantinya Airlangga menggunakan nama-nama yang menunjukkan kesiapannya menuju samsara.

Di Daerah Gunung Penanggungan inilah Airlangga dikenal se bagai Resi Jatinindra dan di Gunung Arjuna ia memakai nama Bega wan Mintaraga. Selain itu Airlangga juga dikenal sebagai Resi Gentayu, sebua ungkap an yang berasal dari kata Jatayu (burung Garuda yang menye lamatkan Sintha dalam cerita epos Ramayana). Tujuh tahun kemudian (1049 M) Airlangga wafat. Jenazahnya diperabukan di Candi Belahan (Sumber Tetek) disana ia diarcakan sebagai Wisnu yang menunggang garuda. Arca itu di sebut Garudamukha.

C.JENGGALA = UJUNG GALUH DI SIDOARJO
Dibandingkan Dhaha, faktor ekonomi Kerajaan Jenggala tumbuh sangat pesat. Jenggala menguasai sungai-sungai bermuara termasuk Bandar dagang di Sungai Porong memberikan income yang besar bagi kerajaan. Selain itu juga membuat Jenggala lebih di kenal oleh manca Negara karena Bandar dagang peninggalan Airlangga ini (berdasarkan catatan kerajaan China) adalah Bandar dagang kedua terbesar dan ramai setelah Sriwijaya. Tetapi Bandar dagang ini juga menjadi bibit perselisihan dengan Dhaha yang hanya menguasai sungai tanpa muara. Sebab bagi Dhaha sangat tergantung dengan hasil Agrokultur ini tidak mempunyai pasar yang cukup memadai bagi hasil buminya, karena pasar besar adalah Jenggala.

Kata Jenggala di percaya berasal dari ucapan salah untuk Ujung Galuh. Walaupun saat ini Ujung Galuh lebih menunjukkan suatu tempat di Surabaya atau Tuban. Tetapi untuk hubungan kalimat Jenggala dengan Ujung Galuh bisa dilihat dari catatan Pedagang China yang menuliskan Jenggala dengan Jung-ga-luh. Misalnya pedagang Chou ku fei yang datang pada tahun 982 Saka (1060 M) menuliskan: Negara asing yang merupakan lumbung padi terbesar saat itu adalah Jung-ga-luh (Jenggala) dan San-fo-tsi (Sriwijaya).

Raja-raja Jenggala di antaranya Lembu Amiluhung (Sri Jayantaka). Sri Jayantaka adalah putra Airlangga dari selir. Ia mulaimemerintah di Jenggala mulai tahun 1042 M. Pada masa pemerintahannya, Jenggala mengalami jaman keemasan sekaligus jaman kecemasan. Dikatakan jaman keemasan karena pada masa itu Jenggala mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari hasil Bandar Dagang Porong. Sementara dilain pihak Jenggala juga di cemaskan oleh ancaman serangan oleh Dhaha bila Bandar dagang itu tidak diserahkan ke Dhaha. Kecemasan itu cukup beralasan mengingat kekuatan militer Dhaha lebih kuat dari pada Jenggala.

Raja lainnya adalah Sri Maharaja Mapanji Garasakan (1044 - 1052). Pada masa pemerintahan Mapanji Garasakan, kerajaan Jenggala mengalami kemunduran akibat serangan dari Dhaha yang saat itu diperintah oleh Kameswara 1 (Inu Kertapati). Karena serangan itu pusat kerajaan Jenggala di tarik lebih ke Utara, diperkirakan sekarang berada di daerah Lamongan.

Bukti perpindahan pusat kerajaan itu dapat dilihat pada Prasasti Kembang Putih, Malengga yang ditemukan di daerah Tuban. Pada periode selanjutnya kerajaan Jenggala beribukota di Lamongan.

Tibalah Mapanji Alanjung Ahyes berkuasa (1052 - 1059). Jenggala di bawah Mapanji Alanjung Ahyes tetap berpusat di Lamongan. Pada masa pemerintahan nya sering di lancarakan serangan secara sporadis kepada pendudukan Dhaha.

Sri Samarotsaha adalah raja Jenggala terakhir sebelum kerajaan itu hilang dari pengamatan sejarah. Pusat kerajaan tetap di daerah Lamongan. Setalah tahun 1059 keberadaan Jenggala seperti hilang di telan bumi. Batas kerajaan Jenggala adalah sesuai dengan batas Kerajaan Kahuripan sebelah utara. Dalam hal ini batas daerah kekuasaan Jenggala meliputi Timur (Bali), Tenggara (Pasuruan), Barat daya (Kudus).

Sebagai sebuah catatan : istilah Jenggala pada awalnya adalah untuk menunjukkan sebuah tempat, Ujung Galuh, dan baru dipakai menjadi nama kerajaan setelah peristiwa pembelahan Kahuripan.

Untuk menentukan di mana letak kutaraja (kraton) Jenggala, tulisan ini menggunakan masa pemerintahan Sri jayantaka sebagai rujukan, yang mana kraton Jenggala ditempatkan di wilayah Sidoarjo. Adapun pertimbangannya adalah karena pada masa Sri Jayantaka yang Cuma tiga tahun itu, kerajaan Jenggala masih merupakan sebuah struktur pemerintahan yang otonom dan aktif. Artinya Jenggala pada waktu itu masih punya wilayah, pusat pemerintahan, pusat militer, fasilitas umum dan masih memegang kendali perkembangan Bandar dagang di sungai Porong.

Sedangkan untuk masa setelah Sri Jayantaka, Jenggala lebih berbentuk komunitas-komunitas kecil yang tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur. Termasuk juga pada pemerintahan Mapanji Garasakan dan Alanjung ayes yang masih memimpin perlawanan terhadap Kediri secara sporadis.

Selain merujuk pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, fakta lain yang menunjukkan hubungan Sidoarjo dengan Jenggala adalah;

1. Pertama, sebuah tulisan dari Kitab Negarakertagama yang menceritakan perjalanan dinas Hayam Wuruk untuk meninjau tiga daerah yang berdekatan yaitu Jenggala, Surabaya dan Bawean. Adapun kalimat dalam kitab tersebut adalah: Yen ring Jenggala ki sabha nrpati ring Curabhaya melulus mare Buwun (Jika raja berada di Jenggala, beliau pasti mengunjungi Surabaya sebelum ke Bawean).

2. Kedua, pada masa pemerintahan Mataram, wilayah Sidoarjo masih di sebut Jenggala. contohnya kawedanan di Sidoarjo diistilahkan Jenggala 1, Jenggala 2 dan seterusnya.

3. Banyaknya cerita rakyat yang berkembang dan peninggalan-peninggalan, misalnya : Makam Mbok Rondo Dadapan di Desa dadapan –Ande-Ande lumut, Tawang alun, Candi Kecana, Candi Sari serta bangunan-bangunan kuno di sepanjang sungai Pepe , Gunung Kalang Anyar dan Gunung Pulungan ( sekarang telah jadi perkampungan ) , adanya makam perkampungan lama di Tawang Alun, ditemukan adanya Arca serta ratusan bangunan lain yang banyak tersebar di wilayah Sidoarjo dan penanggungan.

Dengan beberapa fakta di atas bisa dikatakan bahwa kraton Jenggala pada mulanya ada wilayah Sidoarjo. Pertanyaan selanjutnya adalah di wilayah Sidoarjo sebelah manakah kraton Jenggala berdiri ? Ada beberapa pendapat yang berlainan mengenai keberadaan kraton Jenggala. tulisan ini hanya menghimpun pendapat-pendapat itu.

Menurut buku sejarah Sidoarjo yang di himpun PAPENSE (Panitia Penggalian Sejarah Sidoarjo, tahun 1970), letak kraton dari Jenggala berada di sekitar sungai Pepe. Hal ini dibuktikan dengan penemuan beberapa arca di lokasi itu. Pada saat ini lokasi yang diyakini kraton Jenggala itu berada di wilayah Kecamatan Gedangan.

Lain halnya dengan Totok Widiardi yang menyatakan bahwa kraton Jenggala berada di sekitar alun-alun. Tepatnya berada di lokasi yang kini menjadi rumah dinas Bupati Sidoarjo. Pendapat ini mendasarkan bukti tentang adanya patung katak raksasa dan arca Bathara Ismaya (Semar) yang masih berada di sana hingga tahun 1975.

Sampai saat ini kepastian di mana persis nya posisi kraton Jenggala masih misterius. Karena selain tidak adanya penelitian untuk itu juga belum ditemukannya situs purbakala yang menunjukkan bekas Kraton Jenggala. Di tambah lagi tidak adanya kitab-kitab peninggalan Jenggala.

D.PERTAHANAN JENGGALA
Sebenarnya kurang tepat bila disebut pusat militer, karena sebenarnya konsentrasi militer Jenggala (yang bisa terlacak saat ini) lebih bertujuan mengamankan Kutaraja (kraton) Jenggala.

Adapun pusat militer Jenggala dibagi dalam beberapa sektor-sektor sebagai berikut: sektor utara; kondisi geografis muara sungai Brantas memecah menjadi 9 sungai, yaitu : Krembangan, Mas, Pegirian, Greges, Anak, Bokor, Pecekan, Anda dan Palaca. Kesembilan sungai itu membentuk rawa dan delta-delta.

1. Batas paling Selatan dari muara Brantas ada di Wonokrmo, begitu juga garis pantai selat Madura.

2. Di sebelah Utara, militer Jenggala terpusat di daerah Wonokromo, Surabaya. Mengingat garis pantai pada saat itu adalah Wonokromo. Tujuan penempatan militer di posisi ini adalah untuk menghadang musuh dari utara. Selain itu juga berfungsi untuk mengawasi orang-orang hukuman (straafkoloni) yang di Surabaya. Perlu diketahui bila Surabaya mulai jaman Mataram Hindu (abad 9) sudah menjadi semacam “Nusa Kambangan” bagi para orang buangan. Komunitas perantaian yang di buang di situ terdiri dari narapidana, orang gila, cacat mental, cacat jasmani, tawanan perang dan perampok.

3. Di sektor tengah pusat militer Janggala diperkirakan berada di daerah Larangan (sekarang wilayah Kecamatan Candi). Peristiwa yang mendukung perkiraan itu adalah penemuan beberapa benda purbakala pada saat penggalian pondasi untuk Pasar Larangan yang terjadi di tahun 1980-an. Benda-benda purbakala itu berbentuk Binggal (gelang lengan), pedang, perhiasan dan rompi perang. Dari penemuan benda-benda keprajuritan itu beberapa orang sejarahwan menyimpulkan bahwa daerah Larangan dulunya merupakan komplek militer Jenggala. Walau pun hal itu harus dibuktikan dengan penelitian yang lebih lanjut, tetapi setidaknya akan membantu merekonstruksi komplek kraton Jenggala.

4. Di sebelah Selatan Jenggala menempatkan Miiternya di daerah Gempol. Tentu saja hal ini di maksudkan untuk melindungi asset ekonomi kerajaan Jenggala yaitu Bandar dagang Porong. Karena bagaimana pun juga bandar dagang ini merupakan keuntungan geografis yang menyumbang income terbesar bagi dana kerajaan. Selain itu juga dimaksudkan untuk mempertahankan Kutaraja dari serangan musuh yang datang dari selatan, terutama Kediri yang terang- terangan menuntut hak kepemilikan bandar dagang di Porong.

Beberapa pusat aktifitas Jenggala lainnya di antaranya diperkirakan dari proses persamaan kata (lingua franca). Dari proses persamaan kata ini, kita akan mendapati beberapa fakta bahwa pusat IPTEK Kerajaan Jenggala diperkirakan di kawasan kecamatan Taman. Tempat rekreasi bagi bagi putra-putri kerajaan diperkirakan di daerah Tropodo. Sementara itu Perpustakaan Kerajaan Jenggala (dalam sebuah riwayat di sebut Gedung Simpen) berada di Desa Entalsewu, Kecamatan Buduran. Sebuah sumber menyatakan lokasi perpustakaan ini berdasarkan lingua franca, kata Ental dengan TAL. Tal adalah sejenis pohon yang daunnya digunakan menjadi alat tulis-menulis, adapun daun pohon Tal secara jamak disebut RONTAL (Ron; daun, Tal; pohon Tal). Sedangkan kata sewu (seribu) dibelakangnya lebih menunjukkan jumlah yang banyak. Menurut sumber itu TAL SEWU berarti menunjukkan jumlah naskah-naskah yang banyak di sebuah tempat.

Masih berdasar lingua franca, pusat religi dan spiritual Jenggala diperkirakan berada di kawasan Buduran. Sebuah sumber mengkaitkan ini dengan kata Budur yang dalam Sansekerta berarti Biara. Kata Budur yang berarti biara ini bisa kita lihat dari kata Borobudur yang berarti biara yang tinggi (Boro: tinggi, Budur: Biara). Bila kata Budur ber-lingua franca dengan biara, maka Buduran berarti sebuah komplek berkumpulnya satu atau lebih biara. Dengan kata lain Kecamatan Buduran dimasa Jenggala adalah pemukiman bagi pemuka-pemuka agama.

E. SUNGAI PORONG DAN GUNUNG PENANGGUNGAN PUSAT POLITIK –BANDAR PERDAGANGAN

Pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, bandar dagang di Porong sedang dalam puncaknya. Konon bandar dagang ini dikatakan terbesar kedua setelah Sriwijaya. Banyaknya orang-orang asing yang berdagang semakin menunjukkan bandar dagang ini diperhitungkan di dunia internasional. Boleh jadi lahirnya bandar dagang ini merupakan babak baru bagi perjalanan sejarah Jawa.

Pada awalnya, kerajaan di Jawa bersifat agraris dan berada di lereng-lereng gunung. Segala aktifitas pemerintahan banyak dilakukan di sana. Tingkat interaksi dengan dunia luar tidak secepat Sriwijaya. Dengan keberadaan bandar dagang ini secara tidak langsung memindahkan kerajaan gunung ke kerajaan Pantai. Merubah budaya agraris dengan budaya merkantilis (perdagangan).

Ada dua orang dari negeri Cina yang sempat mencatat keberadaan Bandar dagang Porong.

1. Menurut Chou Yu Kua, menyatakan bahwa Bandar dagang di Porong merupakan sebuah pelabuhan yang besar dengan pajak murah dan kantor-kantor dagang yang berjejer dengan suasana yang menyenangkan. Kantor-kantor dagang itu mengurusi palawija, emas, gading, perak dan kerajinan tangan yang selalu disenangi dan dikagumi orang Ta-shi (Arab). Pusat perdagangan berada di tempat yang bernama Yeo-thong (Jedong, sekarang wilayah Ngoro). Di belakangnya ada gunung dengan sembilan puncak yang selalu diselimuti kabut tebal. Gunung yang bernama Pau-lian-an (Penanggungan) itu menjadi pedoman navigasi kapal yang akan masuk pelabuhan Porong.

2. Chou Ku Fei, seorang Pedagang, menuliskan kondisi subur tanah Jung-galuh (Jenggala) yang banyak dikelilingi sungai- sungai besar yang tembus dampai di gunung Pau-lain-an (Penanggungan). Sedangkan Bandar dagang di Porong banyak didatangi oleh para pedagang dari Cina, Arika, Thailand, Ta-shi (Arab) yang mengimpor beras, kayu Cendana, Kayu Gaharu dan bunga-bunga kering seperti Kenanga dan Melati.

Dalam sejarah kerajaan2 Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan adalah sebuah gunung yang penting (Daldjoeni, 1984; Lombard, 1990). Kerajaan2 yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat nadi Sungai Brantas, kerajaan2 itu mengelilingi Gunung Penanggungan, misalnya Kahuripan, Jenggala, Daha, Majapahit, dan Tumapel (Singhasari). Daerah genangan LUSI sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari zaman Sindok dan Erlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit.

Setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan2 itu, maka Gunung Penanggungan dijadikan ajang strategi perang. Erlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Maha Pralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru. Penanggungan pun dijadikan tempat2 untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Erlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Erlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. Makam2 keramat ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus2 tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.

Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. Menurut Nash (1932) – "hydrogeologie der Brantas vlakte", Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya; dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. Kemajuan dan kemunduran kerajaan2 ini kelihatannya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.

Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 "Le Carrefour Javanais - Essai d'Histoire Globale" (sudah diterjemahkan oleh Gramedia sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang "Prasasti Kelagyan" zaman Erlangga bercandra sengkala 959 Caka (1037 M). Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. Prasasti Kelagyan mmenceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah2 penduduk. Erlangga bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana "Banyu Pindah" dalam buku Pararaton. Bencana seperti ini kelihatannya terjadi berulang2, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256 Caka (1334 M) pada zaman Majapahit.

Sejak zaman Kerajaan Medang abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh). Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Kahuripan yang letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (sekitar 10 km ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan LUSI sekarang). Setelah kerajaan Erlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri, pelabuhan dari Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, dekat Mojokerto sekarang. Kemudian, Kediri digantikan Singhasari, lalu akhirnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M, pusat kerajaan kembali mendekati laut di Delta Brantas, sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang menguasai maritim.

F.SURUTNYA KERAJAAN JENGGALA”
Seperti yang telah dikemukakan bahwa Bandar dagang Porong merupakan sumber perselisihan yang mengarah pada pertumpahan darah. Sri Jayawarsa yang memerintah Kediri (Dhaha) menuntut kepada kerajaan Jenggala agar Bandar dagang di Porong diserahkan pada Dhaha. Tuntutan ini di tolak oleh Raja Jenggala yang mendasarkan pada hasil pembelahan Kahuripan di Jaman Airlangga. Atas jawaban ini raja Dhaha mengancam akan merebut Bandar dagang Porong dan menyerbu Jenggala dengan kekuatan militer. Patut diketahui dalam bidang militer Dhaha lebih unggul dari pada Jenggala. Karenanya dapat dipastikan bila terjadi perang maka Jenggala akan berada di pihak yang kalah.

Untuk menghindari terjadinya peperangan saudara ini, dan juga untuk agar Bandar dagang Porong dikuasai dua kerajaan, maka diusulkan untuk menggelar perkawinan antar dua putra mahkota. Dua orang itu adalah Inu Kertapati anak raja Jenggala, dan Dewi Sekartaji putri. Perkawinan ini diharapkan bisa mereda ketegangan antara Jenggala dan Dhaha.

Tetapi konsensus yang digagas itu kenyataannya tidak berjalan mulus. Walaupun Dewi Sekartaji sangat mencintai Inu Kertapati, tetapi Inu kertapati ternyata tidak mencintai sepupunya itu. Ia lebih memilih Dewi Anggaraini anak patih Jenggala. akibatnya ketegangan memuncak lagi. Kerajaan Dhaha kembali mengancam akan membumi hanguskan Jenggala bila perkawinan politik itu gagal. Oleh Kecemasan akan serbuan Dhaha itu, raja Jenggala membuat kebijakan dengan membunuh Dewi Anggraini. Sehingga diharapkan perkawinan antara Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji bisa berjalan Lancar.

Namun permasalahan tidak berhenti disini. Sedih karena kematian kekasihnya, Inu Kertapati diam-diam meninggalkan istana Jenggala. Ia pergi berkelana. Sedangkan Dewi Sekartaji yang merasa malu karena Inu Kertapati lebih mencintai Orang lain juga melakukan hal yang serupa. Sekartaji (atau juga disebut Galih Candra Kirana) meninggalkan Dhaha.

Dari perjalanan ini pula timbul banyak legenda Jawa yang terkenal sampai sekarang, Ande-ande lumut , entet dan mbok Rondo Dadapan. Dimana dalam cerita itu Inu Kertapati di simbolkan sebagai Ande-ande Lumut, Entit yaitu seorang jejaka anak pungut Mbok Rondo Dadapan yang membuat hati para gadis takluk. Sedangkan Dewi Sekartaji disimbolkan sebagai Klenting Kuning, seorang anak pungut yang disia-siakan saudara dan ibu tirinya, tetapi pada akhirnya ia yang dipilih Ande-ande lumut menjadi istri. Dan disamping itu “ Cah Ayu” yang menggoda “ Si entit ” adalah Dewi Sekartaji yang juga menyamar sebagai wanita desa. Perjalanan kedua putra mahkota ini juga di tulis oleh Mpu Dharmaja, seorang pujangga Dhaha, dalam kekawin Asmaradahana pada pemerintahan Kameswara 1.

Kemudian mereka melaksanakan pernikahan di Dhaha dan Inu Kertapati Marak dinobatkan menjadi Raja Dhaha dengan gelar Kamesywara 1 (1115-1130), bergelar Sri maharaja rake sirikan sri Kameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, lencana kerajaan berbentuk tengkorak bertaring yang disebut Chandrakapala, dan adanya mpu Dharmaja yang telah menggubah kitab Asmaradahana (berisi pujian yang mengatakan raja adalah titisan dewa Kama, ibukota kerajaan bernama Dahana yang dikagumi keindahannya oleh seluruh dunia, permaisuri yang sangat cantik bernama Dewi Candhra Kirana). Mereka dalam kesusasteraan Jawa terkenal dalam cerita Panji. Dengan dinobatkannya Inu Kertapati sebagai Raja Dhaha maka kerajaan Jenggala dan Dhaha disatukan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1045 M. Terhitung dari tahun ini Jenggala sebagai kerajaan Besar pelan-pelan menutup buku sejarah.

Dengan diangkatnya Inu Kertapati menjadi raja di Dhaha, maka secara tidak langsung wilayah Kahuripan yang sebelumnya terpecah dapat disatukan lagi. Hanya saja wilayah itu tidak dibawah bendera Jenggala tetapi bendera Kerajaan Dhaha. Bisa dikatakan bahwa pada saat itu Kerajaan Jenggala mulai surut. Raja-raja Jenggala setalah Sri Jayantaka menarik Kerajaan lebih ke jauh di Utara.

Sejarah masih bisa melacak keberadaan Jenggala hingga tahun 1059, peristiwa ini bisa dilihat dari prasasti Kembang Putih di Lamongan. Prasasti ini menulisakn bahwa kraton Jenggala berada di sebelah utara sungai Lanang. Kraton ini berada di sana sampai dengan pemerintahan raja Jenggala terakhir Sri Samarattongga. setelah itu Jenggala hilang dari panggung sejarah.

Sampai saat ini masih belum didapat sebuah sumber yang menjelaskan secara tepat perginya orang Jenggala setelah 1059. Apakah mereka dari raja hingga rakyatnya habis ditumpas bala tentara Dhaha ataukah orang-orang Jenggala itu hijrah ke tempat lain?

G.MITOLOGI CANDI PARI
Salah satu cagar budaya yang bisa dikatakan utuh sampai sekarang adalah Candi Pari. Candi yang terletak di kecamatan Porong ini di bangun pada jaman Majapahit atau seperti yang tertulis pada 1293 C (1371 M ). Candi Pari yang terletak di ketinggian 4,42 meter di atas permukaan air laut ini memiliki area luas mencapai 1310 meter persegi. Sementara bangunan induknya terletak di sisi timur area. Ada dua versi cerita tentang Candi Pari yang saling bertolak belakang.

1. Di satu versi Candi Pari di sebut sebagai bangunan persembahan untuk Ratu Campa, atau lebih tepatnya sebagai tempat persing gahan sang ratu bila ingin mengunjungi saudaranya di Majapahit.

2. Sedangkan di versi kedua, Candi Pari menjadi simbol pembangkang an rakyat sekitar candi terhadap penarikan upeti dari Majapahit yang saat itu diperintah Hayam Wuruk (Rajasa Negara). Menurut versi ini kondisi daerah di Candi Pari adalah hutan rimba. Adalah Jaka Pandelegan (konon masih anak Prabu Brawijaya dari perselingkuhannya dengan seorang gadis desa bernama Ni Jinjingan) yang berjasa menyulap daerah hutan menjadi daerah pertanian yang makmur. Kemakmuran itu membuat Majapahit menuntut upeti dengan jumlah yang tinggi. Jaka Pandelegan yang merasa tidak berhutang budi dengan Majapahit menolak tuntutan itu. Hasil pertanian tidak diserahkan ke Majapahit tetapi untuk kepentingan masyarakat di daerah itu. Majapahit yang sedang jaya itu menganggap sikap Jaka Pandelegan sebagai tantangan terhadap bala tentaranya. Untuk itu Majapahit kemudian mengirim pasukan untuk menangkap dan menghukum Jaka Pandelegan.

Singkat cerita pasukan itu sampai di desa Jaka Pandelegan. Mereka bergerak cepat untuk menangkap tokoh yang dianggap pembangkang itu. Jaka Pandelegan lari menghindari tangkapan prajurit Majapahit dan melompat di tumpukan padi, di sana ia muksa. Merasa tidak bisa menangkapnya, prajurit Majapahit bergerak untuk menangkap istri Jaka Pandelegan yang bernama Nyi Walang Angin. Sama dengan suaminya, wanita itu berlari dan menceburkan diri di sebuah sumur di sebelah selatan tumpukan padi itu, disana ia juga tidak pernah ditemukan. Untuk mengenang suami istri yang berjasa pada daerah itu maka didirikanlah Candi Pari di bekas tumpukan Padi dan Candi Sumur di daerah itu.

Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa kedua versi itu saling bertolak belakang. Salah satu versi melambangkan Candi Pari sebagai persembahan bagi penguasa, sedangkan versi satunya menjadikan Candi Pari sebagai simbol bagi perlawanan terhadap penguasa. Walaupun berbeda setidaknya kedua versi itu akan saling melengkapi, apalagi jika mau kita menggali, mengumpulkan dan mendokumentasi kejadian masa lampau.

DAFTAR PUSTAKA DAN BACAAN
1. Arsip Nasional Suriname, Achtergrondinformatie, 2006
2. Berg, C.C. Penulisan Sejarah Jawa, BHARATA 1976
3. Breg, C.C. Javaansche Geschiedschrijving, N.V. Uitgevers Maatschappij Amsterdam, 1938.
4. Dinas Purbakala Jawa Timur. Tafsir Kitab Negarakertagama, 1985.
5. De Graf, H. J, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Pustaka Grafiti Pers dan KITLF, 1986.
6. De Graf, H. J, Runtuhnya Istana Mataram, Pustaka Utama Grafiti dan KITLF, 1986.
7. Houben, Vincebt, J.H. Kraton and Kumpeni, KITLV press 1994.
8. Iswanto, Syaiful Ary. wawancara dengan Totok Widiardi, Juli 2005.
9. Iswanto, Syaiful Ary. Irisan Airlangga yang diiris Belanda, Januari 2005.
10. Hariyono. Kultur Cina dan Jawa, Pustaka Sinar Harapan 1993.
11. Kartodirjo, Sartono. Ratu adil, Sinar Harapan Jakarta, 1984.
12. Surat Keputusan Gubernur Jendral Stbl. No: 138 13 Juli 1889 Koeli Ordonantie & revisi surat keputusan lain tertanggal 11 Maret 1898, Stbl. No: 78
13. Moll, J.P.A.C. val. De Onlusten in Sidhoardjo (Mei 1904), Archief Java suker industri, 1905.
14. Nortier, J.J. De Japanese aanval op Java Maart 1942, De Bataafse Leeuw, 1994.
15. Panitia Penggalian Sejarah, Sejarah Sidoarjo, 1970
16. Radar Surabaya. Legenda Candi Pari Sarat dengan Nuansa Politik, 25 Juni 2003.
17. Staatsarchief Suriname, Archief Immigratiedepartement Gepubliceerd in Hoefte, 1998
18. Sidoarjo pos, Persembahan untuk Ratu, Minggu ke 2 April 2005.
19. Stapel, Dr. F.W. Geschiedenis van Nederlands Indie, N.V. Uitgevers Maatschappij Amsterdam, 1938.
20. Toer, Pramoedya ananta. Arok Dedes , Hasta Mitra Jakarta, 2000.
21. Widodo, Imam Dukut. Surabaya Tempo Doeloe, 2002
22. Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia, Republiek Suriname, 2005
23. Yuanzi, Prof Kong, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Yayasan Obor Indonesia, 2000
Di bawah ini adalah catatan2 sejarah yang berhubungan, geologi, dan folklore yang berselang lebih dari 100 tahun penerbitannya. Dimulai dari Daldjoeni (1984, 1992) "Geografi Kesejarahan", lalu bersambung ke depan dan ke belakang menuju Purwadi (2001) "Babad Tanah Jawi : Menelusuri Jejak Konflik", Slamet Muljana (1968, 2005) "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara", Slamet Muljana (1965, 2005) "Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit)", Denys Lombard (1990) "Le Carrefour Javanais", James Nash (1932), "Enige voorlopige opmerkingen omtrent de hydrogeologie der Brantas vlakte - Handelingen van 6de Ned. Indische Natuur Wetenschappelijke Congres", H.J. de Graaf (1949) "de Geschiedenis van Indonesie", J. Brandes (1896) "Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit", buku2 geologi karya Duyfjes (1936-1938) untuk pemetaan wilayah Kendeng bagian timur ("Zur geologie und stratigraphie des Kendenggebietes zwischen Trinil und Soerabaja" dan "Toelichting bij blad 115,109, 110, 116), juga karya masterpiece van Bemmelen (1949, 1972) "The Geology of Indonesia", dan buku folklore karya James Danandjaja (1984) " Folklor Indonesia : Ilmu gossip, dongeng, cerita rakyat dan lain2.

Sumber : http://duniapusaka.com/index.php?route=product/product&product_id=789
Silsilah Keluarga Majapahit

Silsilah Keluarga Majapahit

Sejak akhir abad ke-19, setelah penemuan naskah Pararaton yang menguraikan keluarga raja-raja Majapahit, para ahli sejarah mulai menyusun sejarah kerajaan Hindu terbesar di Jawa itu secara ilmiah, sebab data Pararaton ternyata banyak yang sesuai dengan prasasti-prasasti dari zaman Majapahit. Sayangnya, uraian Pararaton mengenai keluarga raja-raja Majapahit sering terlampau singkat, kurang lengkap, dan kadang-kadang membingungkan, sehingga para ilmuwan harus jeli dalam membaca dan menafsirkannya. Itulah sebabnya sampai awal abad ke-21 sekarang rekonstruksi sejarah Majapahit belumlah tuntas. Tulisan ini khusus membahas hubungan kekeluargaan dinasti Majapahit dan diharapkan dapat menjembatani perbedaan penafsiran naskah Pararaton di kalangan para ahli sejarah.


Sejak akhir abad ke-19, setelah penemuan naskah Pararaton yang menguraikan keluarga raja-raja Majapahit, para ahli sejarah mulai menyusun sejarah kerajaan Hindu terbesar di Jawa itu secara ilmiah, sebab data Pararaton ternyata banyak yang sesuai dengan prasasti-prasasti dari zaman Majapahit. Sayangnya, uraian Pararaton mengenai keluarga raja-raja Majapahit sering terlampau singkat, kurang lengkap, dan kadang-kadang membingungkan, sehingga para ilmuwan harus jeli dalam membaca dan menafsirkannya. Itulah sebabnya sampai awal abad ke-21 sekarang rekonstruksi sejarah Majapahit belumlah tuntas. Tulisan ini khusus membahas hubungan kekeluargaan dinasti Majapahit dan diharapkan dapat menjembatani perbedaan penafsiran naskah Pararaton di kalangan para ahli sejarah.

Terlebih dahulu kita catat daftar raja-raja Majapahit. Raja pertama, Kertarajasa Jayawardhana Dyah Sanggramawijaya yang dikenal dengan Raden Wijaya (1294–1309), digantikan putranya, Jayanagara Raden Kalagemet (1309-1328). Jayanagara digantikan adik wanitanya, Tribhuwana Wijayottunggadewi Dyah Gitarja (1328–1350). Lalu tahta kerajaan diwarisi putra Tribhuwana, Rajasanagara Dyah Hayam Wuruk (1350–1389). Hayam Wuruk digantikan keponakan dan menantunya, Wikramawardhana Hyang Wisesa (1389–1429). Setelah itu naik tahta putri Wikramawardhana, Prabhu Stri Dyah Suhita (1429–1447). Selanjutnya Suhita digantikan adiknya, Wijayaparakramawardhana Dyah Kertawijaya (1447–1451). Kemudian tahta Majapahit secara berturut-turut diwarisi oleh tiga orang putra Kertawijaya: Rajasawardhana Dyah Wijayakumara Sang Sinagara (1451–1453); Girisawardhana Dyah Suryawikrama Hyang Purwawisesa (1456–1466); serta Singawikramawardhana Dyah Suraprabhawa (1466–1478).

Majapahit tiga kali mengalami pertikaian tahta di antara keluarga kerajaan. Pertikaian pertama berlangsung 30 tahun (1376–1406) ketika kadaton wetan memisahkan diri dari pusat pemerintahan. Pertikaian kedua terjadi pada tahun 1453-1456 sehingga Majapahit tidak mempunyai raja selama tiga tahun. Pertikaian terakhir tahun 1468–1478 menyebabkan keruntuhan Majapahit.

Penafsiran data Pararaton harus didasari pemahaman terhadap konsep kosmogoni Siwa-Buddha yang menganggap suatu kerajaan sebagai perwujudan Gunung Mahameru tempat kediaman Bhatara Indra. Itulah sebabnya keluarga Majapahit menamakan diri mereka Girindrawangsa, dan berabad-abad sebelumnya keluarga Sriwijaya juga mengklaim sebagai Sailendrawangsa, yang sama-sama berarti ‘Keluarga Gunung Indra’. Pusat kerajaan Majapahit (di sekitar Mojokerto sekarang) dikelilingi daerah-daerah bawahan (mandala-mandala) yang meliputi delapan penjuru (lokapala), yaitu Kahuripan, Tumapel, Paguhan, Wengker, Daha, Lasem, Pajang, dan Kabalan. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Dr.Boechari, “While the kingdom is compared with Mount Meru and Indra’s heaven, the king is thought to be Indra on earth, and that the eight Lokapala are incorporated in his nature” (MIISI, V/1, 1973). Dua mandala utama, yaitu Kahuripan (Janggala, Jiwana) dan Daha (Kadiri, Panjalu), merupakan poros yang menyangga kestabilan sistem, dan hal ini sudah dibakukan sejak zaman raja Airlangga pada abad ke-11. Itulah sebabnya kombinasi wilwatikta-janggala-kadiri (Majapahit-Kahuripan-Daha) banyak dijumpai dalam prasasti-prasasti.

Sebagai kepala pemerintahan, raja atau ratu Majapahit bergelar Bhatara Prabhu (Bhre Prabhu) atau Sri Maharaja. Para anggota keluarga kerajaan diberi gelar Bhatara (Bhre) dari mandala tertentu, misalnya Bhre Kahuripan, Bhre Daha, Bhre Tumapel, dan sebagainya. (Gelar apanage semacam ini sekarang masih berlaku di Kerajaan Inggris: suami Ratu Elizabeth diberi gelar Duke of Edinburgh, sedangkan putra mereka bergelar Prince of Wales.) Sesuai dengan keseimbangan gender, gelar Bhre Tumapel, Bhre Paguhan dan Bhre Wengker dijabat oleh pria, sedangkan gelar Bhre Lasem, Bhre Pajang dan Bhre Kabalan jatah untuk wanita. Adapun gelar Bhre Kahuripan dan Bhre Daha, sebagai daerah poros (axis region), boleh disandang pria atau wanita asalkan hubungan kerabatnya dekat dengan sang prabhu. Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Bertram Johannes Otto Schrieke, “Kahuripan and Daha were the regions assigned to the most highly placed members of the royal family” (Ruler and Realm in Early Java, 1957). Jika anggota keluarga kerajaan cukup banyak, mandala diperluas menurut kebutuhan, misalnya Bhre Mataram, Bhre Matahun, Bhre Wirabhumi, dan sebagainya.

PERIODE AWAL MAJAPAHIT (1294–1375)

Kertarajasa Jayawardhana Dyah Sanggramawijaya, yang naik tahta pada tahun 1294, beristri empat putri Kertanagara (raja terakhir Singasari), yaitu Tribhuwaneswari, Mahadewi, Jayendradewi, Rajapatni Gayatri. Kertarajasa juga beristri Dara Petak Sri Indreswari, putri dari Malayu. Dari Gayatri, Kertarajasa memperoleh dua putri: Bhre Kahuripan(I) Tribhuwana Wijayottunggadewi Dyah Gitarja dan Rajadewi Maharajasa Dyah Wiyat. Putri-putri Kertanagara yang lain tidak berketurunan. Dari Dara Petak, Kertarajasa berputra Bhre Daha(I) Jayanagara Raden Kalagemet, yang diakui sebagai putra permaisuri Tribhuwaneswari. Setelah Kertarajasa wafat tahun 1309, Jayanagara menjadi raja Majapahit, dan gelar Bhre Daha(II) disandang oleh Rajadewi.

Ketika Jayanagara wafat tanpa keturunan tahun 1328, Tribhuwana menjadi ratu Majapahit. Dia bersuami Bhre Tumapel(I) Kertawardhana Raden Cakradhara, dan memperoleh sepasang putra-putri: Bhre Kahuripan(II) Rajasanagara Dyah Hayam Wuruk dan Bhre Pajang(I) Rajasaduhiteswari Dyah Nartaja. Kertawardhana dari selir juga berputra Raden Sotor. Adapun Bhre Daha(II) Rajadewi bersuami Bhre Wengker(I) Wijayarajasa Raden Kudamerta, dan memperoleh putri Bhre Lasem(I) Rajasaduhita Indudewi. Wijayarajasa dari selir juga berputri Sri Sudewi Padukasori.

Pada tahun 1350 Hayam Wuruk menggantikan sang ibunda di atas tahta Majapahit, dan Tribhuwana kembali bergelar Bhre Kahuripan(I). Hayam Wuruk menikahi Sri Sudewi, dan berputri Bhre Kabalan(I) Kusumawardhani. Dari selir, Hayam Wuruk memperoleh seorang putra yang tidak jelas namanya. Bhre Pajang(I) Dyah Nartaja bersuami Bhre Paguhan(I) Singawardhana Raden Sumana, memperoleh satu putra dan dua putri: Bhre Mataram(I) Wikramawardhana, Bhre Wirabhumi(I) Nagarawardhani, dan Bhre Pawanawan Surawardhani atau Rajasawardhani. Adapun Bhre Lasem(I) Indudewi bersuami Bhre Matahun(I) Rajasawardhana Raden Larang. Oleh karena pasangan ini tidak berketurunan, mereka mengadopsi putra Hayam Wuruk dari selir.

Kemudian terjadilah pernikahan antar sepupu: Kusumawardhani bersuami Wikramawardhana; Nagarawardhani bersuami putra Hayam Wuruk dari selir; dan Surawardhani bersuami Bhre Pandansalas(I) Ranamanggala Raden Sumirat, putra Raden Sotor. Setelah Bhre Daha(II) Rajadewi dan Bhre Kahuripan(I) Tribhuwana wafat antara tahun 1372 dan 1375, terjadilah rotasi gelar: Indudewi menjadi Bhre Daha(III); Nagarawardhani menjadi Bhre Lasem(II), dan suaminya menyandang gelar Bhre Wirabhumi(II). Adapun gelar Bhre Kahuripan(III) paling layak diwarisi putra mahkota Wikramawardhana, meskipun hal ini tidak disebutkan dalam Pararaton.

Wikramawardhana dan Kusumawardhani memperoleh tiga putra dan satu putri: putra sulung Bhre Mataram(II) Rajasakusuma yang mewarisi gelar ayahnya, putra kedua yang tidak jelas namanya, putri Suhita, dan putra bungsu Kertawijaya. Ranamanggala dan Surawardhani memperoleh satu putra dan dua putri: Ratnapangkaja yang menjadi suami Suhita, putri sulung yang menjadi istri putra kedua Wikramawardhana, dan putri bungsu Jayeswari yang menjadi istri Kertawijaya. Bhre Wirabhumi(II) dan Nagarawardhani memperoleh putra Bhre Pakembangan yang wafat dalam ‘perburuan’ (ketika berburu di hutan ataukah ketika menjadi buronan politik?) serta tiga orang putri.

PERIODE KADATON WETAN (1376–1406)

Pertikaian tahta mulai terjadi ketika muncul kerajaan separatis yang dalam Pararaton disebut kadaton wetan (istana timur), untuk membedakannya dari kerajaan Majapahit yang disebut kadaton kulon (istana barat). Hal ini diungkapkan oleh Pararaton dengan kalimat tumuli hana gunung anyar i saka 1298 (“lalu terjadi gunung baru pada 1298 Saka = 1376 Masehi”). Oleh karena ‘gunung’ melambangkan tahta kekuasaan, informasi ini mengisyaratkan munculnya kerajaan baru.

Kerajaan tandingan ini tercatat dalam kronik Cina Ming-shih (Sejarah Dinasti Ming). Kronik Ming-shih menerangkan dua rombongan utusan dari Jawa tahun 1377, yang diterjemahkan W.P.Groeneveldt sebagai berikut: “In this country there is a western and an eastern king. The latter is called Wu-lao-wang-chieh and the former Wu-lao-po-wu. Both of them sent envoys with tribute”. Para ahli sejarah tidak sulit mengenali tokoh kerajaan barat, Wu-lao-po-wu, sebagai ‘Bhatara Prabhu’, yaitu raja Hayam Wuruk. Akan tetapi baru pada tahun 1964 Prof.George Coedes mampu mengidentifikasi tokoh kerajaan timur, Wu-lao-wang-chieh, sebagai ‘Bhatara Wengker’.

Bhre Wengker pada zaman Hayam Wuruk adalah Wijayarajasa, suami Rajadewi bibi Hayam Wuruk. Wijayarajasa juga mertua Hayam Wuruk sebab merupakan ayah dari permaisuri Sri Sudewi. Dari kitab Nagarakretagama yang ditulis pujangga Prapanca tahun 1365 kita memperoleh gambaran bahwa Wijayarajasa memang mempunyai ambisi untuk berkuasa. Setelah Patih Gajah Mada wafat tahun 1364, lalu disusul oleh wafatnya Tribhuwana dan Rajadewi antara 1372 dan 1375, Wijayarajasa mewujudkan ambisinya sebab tokoh-tokoh yang diseganinya tidak ada lagi. Pada tahun 1376 dia memproklamasikan kadaton wetan yang lepas dari Majapahit. Tahun berikutnya Majapahit dan kadaton wetan sama-sama mengirimkan utusan kepada Dinasti Ming di Cina.

Di manakah letak kadaton wetan? Menurut Pararaton dan prasasti Biluluk, Wijayarajasa bergelar Bhatara Parameswara ring Pamotan (Yang Dipertuan di Pamotan). Oleh karena kata muwat bersinonim dengan nanggung, maka Pamotan (Pamuwatan) barangkali adalah Gunung Penanggungan di sebelah timur Mojokerto sekarang. Wijayarajasa agaknya sengaja memilih tempat itu menjadi pusat kerajaan sebagai pembenaran tindakan separatisnya. Daerah Penanggungan atau Pamotan merupakan tempat suci raja Airlangga, sehingga Wijayarajasa kiranya ingin menunjukkan bahwa pembentukan negara baru itu mengikuti tradisi Airlangga yang pernah membagi dua kerajaannya.

Adanya kadaton wetan menyebabkan keluarga Majapahit pecah menjadi dua kelompok. Sebagian besar tetap setia kepada Hayam Wuruk. Akan tetapi mereka yang berkerabat dengan Wijayarajasa terpaksa hijrah memihak kadaton wetan, yaitu Bhre Daha(III) Indudewi dengan suaminya Bhre Matahun(I) Raden Larang, dan anak angkat mereka Bhre Wirabhumi(II) dengan istrinya Bhre Lasem(II) Nagarawardhani, serta tiga orang putri Bhre Wirabhumi(II). Hayam Wuruk segan bertindak tegas menghadapi negara separatis itu sebab Wijayarajasa adalah mertuanya, Indudewi adalah sepupunya, dan Bhre Wirabhumi(II) adalah putranya dari selir. Selagi tokoh-tokoh senior masih hidup, kadaton kulon dan kadaton wetan saling menenggang rasa sehingga konfrontasi terbuka dapat dihindari.

Akan tetapi keadaan seperti itu tidaklah dapat dipertahankan setelah para tokoh senior meninggal dunia. Pada tahun 1386 Kertawardhana (ayah Hayam Wuruk) wafat. Dua tahun berikutnya, 1388, wafat pula secara berturut-turut permaisuri Sri Sudewi, Dyah Nartaja (adik Hayam Wuruk) dan suaminya Raden Sumana. Dua tokoh kadaton wetan, Raden Larang dan Wijayarajasa sendiri, juga wafat. Akhirnya mangkat pula raja Hayam Wuruk tahun 1389.

Wikramawardhana menjadi raja Majapahit dan kemudian dikenal dengan Hyang Wisesa, sedangkan tahta kadaton wetan diwarisi Bhre Wirabhumi(II). Gelar Bhre Kahuripan(IV) disandang Surawardhani, dan putra kedua Wikramawardhana digelari Bhre Tumapel(II). Suhita dan suaminya, Ratnapangkaja, masing-masing kiranya menjadi Bhre Pajang(II) dan Bhre Paguhan(II), meskipun tidak disebutkan dalam Pararaton. Wikramawardhana bertindak konfrontatif terhadap kadaton wetan dengan memberikan gelar Bhre Lasem (padahal sedang disandang adiknya, Nagarawardhani) kepada permaisurinya, Kusumawardhani. Dalam Pararaton, Kusumawardhani disebut Bhre Lasem Yang Cantik (Sang Ahayu) dan Nagarawardhani disebut Bhre Lasem Yang Gemuk (Sang Alemu).

Putra mahkota Rajasakusuma wafat tahun 1399 dan bergelar anumerta Hyang Wekas ing Sukha. Tahun 1400 wafat pula Bhre Lasem(II) Nagarawardhani, Bhre Lasem(III) Kusumawardhani, Bhre Kahuripan(IV) Surawardhani, dan Bhre Pandansalas(I) Ranamanggala. Maka terjadilah regenerasi gelar bagi yang muda. Ratnapangkaja menjadi Bhre Kahuripan(V), dan adiknya, istri Bhre Tumapel(II), menjadi Bhre Lasem(IV). Gelar Bhre Pandansalas(II) disandang oleh Raden Jagulu, adik Ranamanggala. Dua orang putra Bhre Tumapel(II) dengan Bhre Lasem(IV) masing-masing diberi gelar Bhre Wengker(II) dan Bhre Paguhan(III). Satu-satunya tokoh senior yang masih hidup saat itu adalah Bhre Daha(III) Indudewi yang mendampingi anak angkatnya, Bhre Wirabhumi(II), di kadaton wetan.

Konfrontasi antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi(II) akhirnya menimbulkan Perang Paregreg tahun 1405–1406. Kadaton wetan mengalami kekalahan dengan gugurnya Bhre Wirabhumi(II), sehingga Majapahit utuh kembali setelah pecah 30 tahun. Untuk menghilangkan benih balas dendam, tiga putri Bhre Wirabhumi(II) masing-masing dinikahi oleh Wikramawardhana, Bhre Tumapel(II) putra Wikramawardhana dan Bhre Wengker(II) cucu Wikramawardhana. Ketiga putri itu berturut-turut diberi gelar Bhre Mataram(III), Bhre Lasem(V), dan Bhre Matahun(II). Sungguh suatu pernikahan yang sangat unik: tiga putri bersaudara bersuamikan orang-orang tiga generasi!

PERIODE PASCA PAREGREG (1406–1453)

Seusai Perang Paregreg, Bhre Daha(III) Indudewi diboyong pulang oleh Wikramawardhana ke Majapahit dan dihormati sebagai sesepuh. Saudara sepupu Hayam Wuruk ini wafat tahun 1415 bersama-sama Bhre Mataram(III) dan Bhre Matahun(II). Gelar Bhre Daha(IV) paling layak diwarisi oleh Suhita, dan adiknya, Kertawijaya, kiranya menjadi Bhre Mataram(IV). Istri Kertawijaya, Jayeswari, pantas menjadi Bhre Kabalan(II).

Bhre Tumapel(II) dan putranya, Bhre Wengker(II), wafat tahun 1427. Dua tahun kemudian, 1429, mangkat pula raja Wikramawardhana, dan Suhita menjadi ratu Majapahit. Kertawijaya menjadi Bhre Tumapel(III), sedangkan gelar Bhre Daha(V) diwarisi Jayeswari. Sekitar tahun 1430 wafat pula Bhre Lasem(IV), Bhre Lasem(V), dan Bhre Pandansalas(II). Oleh karena Suhita tidak berketurunan, maka yang mewarnai sejarah Majapahit selanjutnya adalah keturunan Bhre Tumapel(II) dan Bhre Tumapel(III) Kertawijaya.

Bhre Tumapel(II) dengan istrinya Bhre Lasem(V) mempunyai tiga putri dan satu putra: Bhre Jagaraga Wijayendudewi Dyah Wijayaduhita, Bhre Tanjungpura Manggalawardhani Dyah Suragharini, Bhre Pajang(III) Dyah Sureswari, dan putra bungsu Bhre Keling(I). Bhre Jagaraga dinikahi Ratnapangkaja, sedangkan Bhre Tanjungpura dan Bhre Pajang(III) menjadi istri Bhre Paguhan(III). Bhre Keling(I) beristri Bhre Kembangjenar Rajanandaneswari Dyah Sudharmini, putri Bhre Pandansalas(II) Raden Jagulu. Menurut Pararaton, semua pernikahan di atas tidak membuahkan keturunan.

Bhre Tumapel(III) Wijayaparakramawardhana Dyah Kertawijaya dengan istrinya Bhre Daha(V) Jayawardhani Dyah Jayeswari mempunyai tiga putra, yaitu Bhre Pamotan(I) Rajasawardhana Dyah Wijayakumara, Bhre Wengker(III) Girisawardhana Dyah Suryawikrama, dan Bhre Pandansalas(III) Singawikramawardhana Dyah Suraprabhawa. Setelah Bhre Paguhan(III) wafat tahun 1440, Rajasawardhana menikahi Bhre Tanjungpura Manggalawardhani. Girisawardhana beristri Bhre Kabalan(III) Mahamahisi Dyah Sawitri, putri Bhre Wengker(II) dengan Bhre Matahun(II). Suraprabhawa menikahi Bhre Singapura Rajasawardhanidewi Dyah Sripura, putri Bhre Paguhan(III) dari selir.

Bhre Kahuripan(V) dan Bhre Keling(I) wafat tahun 1446. Rajasawardhana menjadi Bhre Keling(II). Setelah ratu Suhita mangkat tahun 1447, Kertawijaya mewarisi tahta Majapahit, dan gelar Bhre Tumapel(IV) disandang Suraprabhawa. Rajasawardhana yang kini putra mahkota kembali bertukar gelar menjadi Bhre Kahuripan(VI) dan kelak dikenal dengan julukan Sang Sinagara. Daftar keluarga Majapahit pada masa Kertawijaya tercantum lengkap dalam prasasti Waringin Pitu tahun 1447.

Pararaton menyebutkan bahwa putra-putra Sang Sinagara ada empat orang. Dalam prasasti Waringin Pitu tercantum nama-nama putra pertama dan kedua, yaitu Bhre Matahun(III) Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya serta Bhre Keling(III) Girindrawardhana Dyah Wijayakarana. Putra ketiga dan keempat belum lahir pada tahun 1447. Menurut prasasti Waringin Pitu, Samarawijaya dan Wijayakarana sejak kecil dijodohkan masing-masing dengan Bhre Wirabhumi(III) Rajasawardhanendudewi Dyah Pureswari dan Bhre Kalinggapura Kamalawarnadewi Dyah Sudayita, yaitu putri-putri Bhre Wengker(III) Girisawardhana dengan Bhre Kabalan(III) Sawitri.

Bhre Kabalan(III) Sawitri dan Bhre Pajang(III) Sureswari wafat tahun 1450. Setahun kemudian mangkat pula raja Kertawijaya, dan Rajasawardhana naik tahta Majapahit tahun 1451. Gelar Bhre Kahuripan(VII) diwarisi putra mahkota Samarawijaya, sedangkan adiknya, Wijayakarana, menjadi Bhre Mataram(V). Kiranya saat itu putra ketiga dan keempat Rajasawardhana sudah lahir, yang masing-masing menyandang Bhre Pamotan(II) dan Bhre Kertabhumi. Nama-nama dua orang yang terakhir ini tercantum dalam prasasti Trailokyapuri, yaitu Singawardhana Dyah Wijayakusuma dan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.

PERIODE AKHIR MAJAPAHIT (1453–1478)

Ketika Rajasawardhana Sang Sinagara mangkat tahun 1453, terjadilah pertikaian tahta antara Bhre Kahuripan(VII) Samarawijaya dan Bhre Wengker(III) Girisawardhana. Kemelut paman dan keponakan ini menyebabkan Majapahit tiga tahun tidak mempunyai raja (telung tahun tan hana prabhu, kata Pararaton). Kevakuman tahta ini berakhir tahun 1456 tatkala Girisawardhana menjadi raja dengan gelar Hyang Purwawisesa. Kiranya Samarawijaya yang masih muda mengalah terhadap paman yang sekaligus mertuanya, dan rela menjadi putra mahkota untuk kedua kalinya. Peranan ibu suri Bhre Daha(V) Jayeswari tentu sangat besar dalam proses rekonsiliasi tersebut.

Bhre Daha(V) Jayeswari wafat tahun 1464, dan gelar Bhre Daha(VI) disandang Manggalawardhani. Ketika Bhre Jagaraga Wijayaduhita dan raja Girisawardhana wafat pula tahun 1466, sengketa kekuasaan muncul kembali.

Adik bungsu Sang Sinagara, Bhre Tumapel(IV) Suraprabhawa, ternyata berambisi juga menjadi raja. Dia menduduki tahta Majapahit. Sudah tentu para keponakannya sakit hati. Baru saja dua tahun Suraprabhawa bertahta (prabhu rong tahun), yaitu tahun 1468, keempat putra Sang Sinagara memperlihatkan sikap oposisi dengan ‘pergi dari istana’ (tumuli sah saking kadaton putranira sang sinagara), yaitu Bhre Kahuripan(VII) Samarawijaya, Bhre Mataram(V) Wijayakarana, Bhre Pamotan(II) Wijayakusuma, dan si bungsu Bhre Kertabhumi Ranawijaya. Mereka menyingkir ke Jinggan (antara Mojokerto dan Surabaya sekarang), menyusun kekuatan untuk merebut hak mereka atas tahta. Sejak itu Samarawijaya disebut Sang Munggwing Jinggan (Yang Berdiam di Jinggan).

Pada tahun 1478 Sang Munggwing Jinggan Samarawijaya dan adik-adiknya memimpin pasukan dalam penyerbuan ke ibukota Majapahit, yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Hindu terbesar di Jawa itu. Pararaton menutup uraian sejarah Majapahit dengan kalimat kapernah paman, bhre prabhu sang mokta ring kadaton i saka 1400 (“paman mereka, sang raja, mangkat di istana tahun 1478”).

Ungkapan mokta ring kadaton (‘mangkat di istana’) mengisyaratkan bahwa Suraprabhawa mati terbunuh. Jika kematiannya wajar, tentu dipakai kalimat yang berbau surga, misalnya mokta ring wisnubhawana, mokta ring somyalaya, dan semacamnya. Raja Jayanagara yang terbunuh tahun 1328 diungkapkan Pararaton dengan istilah mokta ring pagulingan (‘mangkat di tempat tidur’). Kiranya Suraprabhawa bernasib serupa. Raja terakhir Majapahit ini gugur di istana ketika bertempur melawan para keponakannya.

Kemenangan putra-putra Sang Sinagara ternyata harus ditebus dengan ikut gugurnya Sang Munggwing Jinggan Samarawijaya. Prasasti Petak menyebutkan kadigwijayanira sang munggwing jinggan duk ayun-ayunan yudha lawaning majapahit (“kemenangan Sang Munggwing Jinggan yang naik-jatuh berperang melawan Majapahit”). Ungkapan ayun-ayunan (‘naik-jatuh’) berarti meraih kemenangan tetapi gugur dalam pertempuran (won the war but lost the battle).

KERAJAAN KELING DAN DAHA (1478–1527)

Sesudah Majapahit runtuh tahun 1478, tiga orang adik Sang Munggwing Jinggan, yaitu Wijayakarana, Wijayakusuma, dan Ranawijaya, mendirikan kerajaan baru di Keling (antara Mojokerto dan Kediri sekarang). Mereka bertiga secara berturut-turut menjadi raja dengan gelar Sri Maharaja Bhatara Keling. Mula-mula Girindrawardhana Dyah Wijayakarana bertahta (1478–1486), dan setelah wafat berjuluk Sang Mokta ring Amertawisesalaya. Dia digantikan oleh Singawardhana Dyah Wijayakusuma yang memerintah mungkin hanya beberapa bulan, lalu mendadak wafat dan berjuluk Sang Mokta ring Mahalayabhawana. Akhirnya Girindrawardhana Dyah Ranawijaya menjadi raja (1486–1527), yang dikenal sebagai Bhatara Wijaya atau Brawijaya.

Ranawijaya mengeluarkan prasasti Petak dan Trailokyapuri tahun 1486. Prasasti Petak menceritakan kemenangan Sang Munggwing Jinggan melawan Majapahit. Prasasti Trailokyapuri menguraikan upacara sradha mengenang 12 tahun wafatnya Bhatara Daha Sang Mokta ring Indranibhawana, ibunda Ranawijaya (janda Sang Sinagara), yaitu Bhre Daha(VI) Manggalawardhani Dyah Suragharini yang wafat tahun 1474.

Pada tahun 1513, pengembara Portugis bernama Tome Pires mengunjungi Jawa Timur. Dia berdiam di Malaka dari 1512 sampai 1515 dan menuliskan kisah perjalanannya dalam buku Suma Oriental (Catatan Dunia Timur). Tome Pires mengatakan bahwa raja Jawa saat itu adalah Batara Vigiaya, dan raja sebelumnya adalah Batara Mataram, yang menggantikan ayahnya, Batara Sinagara. Informasi ini diperoleh Tome Pires dari Pate Vira (Adipati Wira), penguasa Tuban yang beragama Islam tetapi sangat setia kepada Batara Vigiaya.

Uraian Tome Pires bahwa Batara Mataram menjadi raja menggantikan Batara Sinagara jelas tidak benar. Sang Sinagara wafat tahun 1453, sedangkan Bhre Mataram Wijayakarana naik tahta tahun 1478 setelah dia dan saudara-saudaranya meruntuhkan Majapahit. Tetapi uraian Tome Pires mudah kita pahami, sebab dia memperoleh informasi dari pihak Ranawijaya. Putra-putra Sang Sinagara tentu beranggapan bahwa paman-paman mereka, Girisawardhana dan Suraprabhawa, ‘kurang sah’ menjadi raja.

Tome Pires mengatakan Batara Vigiaya bertahta di Daha. Ini berarti antara tahun 1486 dan 1513 (sekitar tahun 1500) Ranawijaya memindahkan pusat kerajaan dari Keling ke Daha. Menurut Tome Pires, Batara Vigiaya hanyalah raja boneka, sebab kekuasaan negara dipegang mertuanya, Guste Pate Amdura. Persahabatan Guste Pate dengan Portugis membuat marah Pate Rodin Senior, raja Demak yang merupakan musuh Portugis. Pate Rodin Senior mempunyai putra Rodin Junior dan mempunyai menantu Pate Unus yang pernah menyerang benteng Portugis di Malaka. Yang disebut Pate Rodin Senior, Pate Unus, dan Rodin Junior oleh Tome Pires tiada lain adalah sultan-sultan Demak: Raden Patah (1481–1518), Pangeran Sabrang Lor Adipati Yunus (1518–1521), dan Raden Trenggana (1521–1546). Kesultanan Demak menaklukkan Daha tahun 1527 pada masa pemerintahan Trenggana, sehingga berakhirlah zaman kerajaan Hindu di Jawa Timur.

ISLAM DAN MAJAPAHIT

Masyarakat Islam sudah eksis di Jawa Timur sejak abad ke-11, dua abad sebelum berdirinya Majapahit. Di Leran, dekat Gresik, ditemukan nisan bertuliskan huruf Arab yang menerangkan wafatnya Fatimah binti Maimun tanggal 7 Rajab 475 Hijri (2 Desember 1082). Beberapa istilah bahasa Arab sudah dipakai dalam Kakawin Ghatotkacasraya gubahan Mpu Panuluh, pujangga kerajaan Panjalu abad ke-12. Pemakaman kuno di Tralaya, lokasi bekas keraton Majapahit, dipenuhi batu nisan yang bertuliskan huruf Arab, dan ada yang dilengkapi kutipan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tiga buah makam berasal dari zaman raja Hayam Wuruk, masing-masing bertarikh 1290, 1298 dan 1302 Saka (1368, 1376 dan 1380 Masehi). Hal ini merupakan bukti nyata bahwa agama Islam sudah dianut oleh sebagian penduduk ibukota Majapahit pada masa kerajaan Hindu itu mencapai kejayaannya.

Sebuah makam bertarikh 1370 Saka (1448) dikenal masyarakat sebagai makam Putri Cempa yang beragama Islam. Mungkin ini ucapan lidah Jawa untuk “Putri Jeumpa” yang menyatakan asal putri itu dari Aceh Serambi Mekkah. Menurut Babad Tanah Jawi, Putri Cempa adalah permaisuri Brawijaya. Istilah ‘Brawijaya’ (singkatan dari Bhatara Wijaya) harus kita cermati, sebab ada tujuh orang keluarga Majapahit yang namanya memakai kata wijaya, yaitu Sanggramawijaya (raja pertama), Kertawijaya (raja ke-7), Wijayakumara (Sang Sinagara, raja ke-8), serta putra-putra Sang Sinagara: Samarawijaya, Wijayakarana, Wijayakusuma, dan Ranawijaya. Jika cerita tentang Putri Cempa ini benar, barangkali dia adalah selir Kertawijaya (1447–1451), sebab sang permaisuri adalah Bhre Daha(V) Jayeswari.

Babad Tanah Jawi yang ditulis pada masa kesultanan Mataram menerangkan tujuh raja Majapahit yang bergelar Brawijaya, dan tahta Brawijaya terakhir diruntuhkan putranya sendiri, Raden Patah, adipati Demak yang beragama Islam. Mitos yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa itu jelas menyesatkan, sebab Majapahit runtuh tahun 1478 lantaran pertikaian sesama keluarga kerajaan itu sendiri. Justru kevakuman kekuasaan akibat runtuhnya Majapahit dimanfaatkan oleh Demak untuk tampil sebagai kesultanan Islam pertama di Jawa.

Kerajaan Hindu yang ditaklukkan oleh Demak bukanlah Majapahit, melainkan Kerajaan Daha, yaitu tahta Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (Brawijaya terakhir) yang tidak pernah menjadi raja Majapahit. Justru Majapahit runtuh oleh serangan Ranawijaya dan kakak-kakaknya. Dengan demikian, Babad Tanah Jawi ternyata mencampuradukkan dua fakta sejarah yang berlainan: (1) runtuhnya Majapahit tahun 1478 akibat serangan putra-putra Sang Sinagara, serta (2) runtuhnya tahta Brawijaya di Daha tahun 1527 akibat penaklukan oleh Demak.


Sumber : http://loekynugroho.blogspot.com/2008/11/silsilah-keluarga-majapahit.html

Silsilah Raja-Raja Nusantara

SILSILAH KETURUNAN RAJA KUTAI MARTAPURA DI MUARA KAMAN DIMASA TAHUN 1605 INDONESIA MERDEKA DI TAHUN 1945.
YANG DISALIN DARI BEBERAPA MAKALAH : PANEL DISCUSSION SEJARAH KUTAI TAHUN 1972. DAN PENYESUAIAN SUMBER DATA DARI BUKU YANG MEMUAT SEJARAH KUTAI DAN WAWANCARA DENGAN PARA TOKOH ADAT DI MUARA KAMAN.





Silsilah Raja-Raja Di India Yang Menurunkan Raja-Raja Tertua Di Nusantara Indonesia, Berita Bermula Dari Masa Kerajaan Di Maghada Dilembah Sungai Gangga Diperintah Oleh Maharaja Susunaga, Maharaja Bimbisara Dan Maharaja Ajatasatru Berpusat Di Petaliputra Yang Diserang Pasukan Iskandar Zulkarnain Dari Mecedonia Pada Tahun 327 Sebelum Masehi Kemudian Kerajaan Ini Diteruskan Oleh Kerajaan Maurya Dan Kerajaan Gupta Dimasa Akhir Kerajaan Ini Di India Terjadi Kekacauan Karna Diserang Bangsa Huna (Syiung Nu) Kajian Dalam (Sejarah Nasional Dan Umum Kurikulum 1994).

Masa Dinasty Mawiya Dalam Pemerintahan Sri Maharaja Bhrihadrata Di Kerajaan Maghada Beribukota Dipetaliputra Di India Yang Berperang Dengan Mahasenopati Pushwamitra Yang Mendirikan Dinasti Sungga Yang Melahirkan Maharaja Agnimitra Membangun Kota Wisida Dan Keturunanya Bernama Wasuma Mitra Melahirkan, Mitroga Menurunkan Raja-Raja Di Nusantara. Kajian dalam (ulasan mengenai awal saka).

Silsilah Penghulu Negeri Bakulapura Di Kalimantan Yang Mendirikan Kerajaan Kutai Martapura Muara Kaman (Kerajaan Mulawarman) Dan Kerajaan Tarumanegara (Jawa Barat) Dan Kerajaan Sriwidjaya Di Sumatra. Mitroga Melahirkan Atwangga Yang Kawin Dengan Seorang Putri Kakak Dari Permaisuri Danawarman VII (Raja Salakanegara) Dan Melahirkan Maharaja Sri Kundungga (Menjadi Penghulu Bakulapura Di Kalimantan). Dan Maharaja Radjendra Warman Yang Membangun Negara Campa (Kamboja) Adalah Satu Keturunan Pula Dengan Maharaja Sri Kudungga Yang Adalah Mertua Dari Maharaja Aswawarman Yang Mengawini Mahasuri Dewi Gari Putri Maharaja Sri Kundungga.

Maharaja Sri Kundungga (Menjadi Penghulu Bakulapura Di Kalimantan). Memperisteri Anak Puan Serdang (Raja Singkarak) Dimalaya Bernama Puan Gamboh Yang Bergelar Mahasuri Sri Gamboh Dan Melahirkan Anak 5 Orang Kesemuanya Putri Antara Lain ;
1. Putri Mayang Kelungsu.
2. Putri Ragel Mayang.
3. Putri Ragel Kemuning.
4. Putri Mayang Sari.
5. Putri Sri Gari Gelar Mahasuri Dewi Gari.
Mahasuri Dewi Gari Diperisteri Oleh Maharaja Sri Aswawarman Yang Kawin Pula Dengan Dewi Indrami Adik Mahaputri Minawati, Anak Dewawarman Viii Sewaktu Tinggal Diasrama Sebagai Murid Sang Maharesi Jayasingawarman Di Kerajaan Tarumanegara Namun Tidak Memiliki Anak. Mahasuri Dewi Gari Diperisteri oleh Maharaja Sri Aswawarman Melahirkan Anak Antara Lain :
1. Wamseragen Gelar Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa.
2. Wamseteku Gelar Wirawarman Memperisteri Dewi Candika Putri Maharaja Yudhana Putra Maharaja Maladewa Di Medang Jawa Tengah Yang Kawin Dengan Putri Raja Tarumanegara Bernama Dewi Amrawati Dan Melahirkan Anak 2 Orang Yakni 1. Amudrawarman dan 2. Dewi Jwalita Yang Diperisteri Maharaja Purnawarman Raja Taruma Negara.
3. Wamsejenjat Gelar Maharaja Dijayawarman Kawin Dengan Putri Raja Campa Menurunkan Raja Sriwidjaya Bernama Dapunta Hiyang Memerintah Di Sumatra Dalam Tahun 584 M. Catatan Putri Raja Dewawarman VII Yang Melahirkan Putri Spatikarnawa Diperisteri Oleh Dewawarman VIII (Prabu Dhrmawirya Dewawarman Salakabhuwana) Melahirkan Mahaputri Dewi Minawati Gelar Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi Diperisteri Maharesi Dari Wamsa Salankayana Di Bharata Raja Tarumanegara I Gelar Jaya Singawarman Atau Guru Darmapurusa. Yang Melahirkan Purnawarman Raja Tarumanegara II. Adapun Saudara Purnawarman Satu Ibu :1.Mahadewi Harinawarmandewi Bersuami Pedagang Kaya Dibharata. 2.Candrawarman menjadi duta Kerajaan Tarumanegara di Kerajaan Cina. dan adapun adiknya lain ibu antara lain : 1. Sang Gajahwarman Menjadi Duta Kerajaan Tarumanegara Di Sumatra, 2. Sang Padmawarman Duta Kerajaan Tarumanegara Di Srilangka, 3. Sang Barunawarman Menjadi Menteri Panglima Laut Tarumanegara, 4. Sang Sukretawarman Menjadi Hakim Kerajaan Tarumanegara.
Catatan Dewawarman Vii Bersaudara Dengna Gopala Jayengrana Dan Putri Gandhari Lengkaradewi Putra Putri Dari Dewawarman VI Yang Kawin Dengan Putri Dari Bharatanagari, Adapun Dewawarman VII Memperisteri Seorang Bernama Putri Candralocana Melahirkan Aditiyawarman Dan Ke Empat Saudaranya.

Negeri Bakulapuran Disebut Juga Kutanegara Dan Kemudian Bernama Kutai Martapura Di Kenal Dengan Kerajaan Kutai Mulawarman Sekarang Berpusat Di Muara Kaman Dan Seorang Putra Maharaja Sri Acwawarman Yakni Wamseragen Gelar Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa Yang Membangun Istana Didaerah Tepian Batu (Berubus) Tanjung Gelumbang Serta Atas Anugerah Ayahdanya Maharaja Sri Aswawarman Dalam Kurban Agastya Di Kutai Martapura Tepi Sungai Mahakama, Maharaja Sri Mulawarman Diberi Hak Memerintah Dari Tahun (400-446 Masehi), Dan Membangun Pesangrahan Tiang Kayu Besi (Telihan Sepuhun) Di Tanjung Serai Dan Tempat Pemujaan Pure Atau 9 Candi Di Gunung Berubus (Benua Lawas) Maka Sepanjang Sejarah Raja Mulawarman Pernah Melaksanakan Kurban Diantaranya Bahuswarnakam, Waprakswara, Kalpataru, Jiwandana Dan Bahagrata Dengan Bukti Pendirian 7 Buah Perasasti Yupa Dan Pendirian Yoni Serta Tiang Batu Dikenal Dengan Lesung Batu Dan Gerbang Istana Dari Batu Merah Dengan Dua Ekor Patung Bernama Lembu Ngeram Sebagai Lambang Kerajaannya Bermoto Tuah Emba Arai, Dan Dari Semua Bangunan Serta Kurban Ini Menandakan Raja Mulawarman Menjadi Raja Kuat Dan Berkuasa Dan Dialah Raja Pertama Kutai Martapura (Muara Kaman).

Maharaja Sri Wangsawarman Adalah Putra Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa Yang Menjadi Raja Di Muara Kaman Dari Tahun 446-495 Masehi), Yang Menurunkan Raja-Raja Kutai Martapura Antara Lain Maharaja Mahawidjaya Warman Memerintah (495-543 Masehi), Maharaja Gaja Yanawarman Memerintah (543-590 Masehi), Maharaja Wijaya Tungga Warman Memerintah (590-637 Masehi), Maharaja Jaya Tungga Nagawarman Memerintah (637-686 Masehi), Maharaja Nala Singawarman Memerintah (686-736 Masehi), Maharaja Nala Perana Tunggawarman Dewa Memerintah (736-783 Masehi), Maharaja Gadinggawarman Dewa Memerintah (783-832 Masehi), Maharaja Indrawarman Dewa Memerintah (832-879 Masehi), Maharaja Singa Wiramawarman Dewa Memerintah (879-926 Masehi), Maharaja Singa Wargala Warmandewa Memerintah (926-972 Masehi).
MAHARAJA SINGA WARGALAWARMAN Raja Kutai Martapura ke 14 mempunyai Putra antaranya : 1. MAHARAJA CENDRA WARMAN DEWA menjadi Raja ke 15 di Kutai Martapura (Muara Kaman), 2. MAHARAJA DIRAJA JAYAWARMAN menjadi Raja Sriwidjaya Siguntang Mahameru (Sumatra)

MAHARAJA PRABU MULA TUNGGAL DEWA Raja Kutai Martapura (Muara Kaman) ke 16 mempunyai anak antara lain: 1. MAHARAJA NALA INDRA DEWA Raja Kutai Martapura (Muara Kaman) ke17 melahirkan PUTRI AJI BIDARA PUTIH yang Menjadi Ratu ke 18 di Kutai Martapura dengan gelar MAHASURI MAYANG MULAWARNI yang berperang dengan Pangeran dari Cina. 2. MAHAPUTRI NILA PERKASETIAWATI DEWI kawin dengan PRABU WISNU DEWATA MURTI gelar HING GILING WESI Raja Pajajaran di Pakwan (Jawa Barat) dalam tahun 1030.

PUTRI AJI PIDARA PUTIH yang Menjadi Ratu ke 18 di Kutai Martapura dengan gelar MAHARATU MAYANG MULAWARNI yang berperang dengan Pangeran dari Cina, adapun putranya MAHARAJA INDRA MULIA TUNGGAWARMAN DEWA yang Menjadi Rata ke 19 di Kutai Martapura. Yang berputra kan MAHARAJA SRI LANGKA DEWA menjadi Raja Kutai Martapura Dan Saudaranya PANJI SENGIYANG memperisteri PUTRI SURAK (Indu Anjat di Perian) dan membangun Lamin di Juno daerah Batang Lunang serta menjadi Adipati Wilayah di Keham Dalam dan mempunyai Putra bernama SERANDING DIPATI I yang memperisteri PUAN METAM putri Raja Melayu yang bersaudara dengan Petinggi Hulu Dusun BABU JALUMA, dan melahirkan 2 orang anak : 1. AJI SERANDING DIPATI II menjadi Adipati di Indu Anjat melahirkan SINGA JAYA I.(Turunanya Liat Silsilah Adipati Lamin Juno Indu Anjat Perian. 2. AJI PUTRI KARANG MELENU di Peristeri RADEN KUSUMA saudara tiri RADEN WIDJAYA gelar KARTARAJASA JAYA WARDANA Raja dari Kerajaan Majapahit sedangkan RADEN KUSUMA anak LEMBUNTAL putra MAHISA CEMPAKA gelar NARA SINHAMURTI putra MAHISA WONGA TELONG yang adalah anak hasil perkawinan KEN AROK dan KEN DEDES, yang diangkat Batara (Pimpinan Pangkalan Militer di Tanjung Kute) dan oleh karna itu RADEN KUSUMA diberi gelar AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI diangkat menjadi Adipati Wilayah Majapahit dengan jabatan Mangkubumi menguasai wilayah Hulu Dusun,Jahitan Layar dan Tepian Batu. Turunanya Liat dalam Silsilah Raja Kutai Kartanegara.
MAHARAJA GUNA PERANA TUNGGA Raja Kutai Martapura ke 21 mempunyai anak antara lain : 1. TAN RENIQ gelar MAHARAJA WIDJAYA WARMAN menjadi Raja ke-23 di Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman. 2. MAHAPUTRI INDRA PERWATI DEWI gelar MAHASURI PADUKA SURI alias PUTRI BENGALON diperisteri Adipati Wilayah Kutai Kartanegara bernama AJI BATARA AGUNG PADUKA NIRA.

Adapun MAHARAJA NALA PRADITHA melahirkan MAHARAJA INDRA PARUTHA yang berputrakan antara lain: 1. MAHARAJA DERMASETIYA. 2. MAHARAJA SETIYA GUNA. 3. SETIYA GUNA Menjadi Raja Kutai Martapura Muara Kaman terakhir 4. PANJI WENING PATI yang memperisteri PUTRI CINDURMATA anak Raja Galuh (Jawa). Didalam sejarahnya pemerintahan ini disebut pemerintahan 3 Raja sekalinobat karena yang berperang dengan Kerajaan Kutai Kartanegara maka didalam pemerintahan di Kerajaan Kutai Martapura Dibantu Oleh MAHARAJA SETIYA YUDA dan MAHARAJA SETIYA GUNA serta orang besarnya terdiri dari :
1. PERDANA MENTERI UJUNG NALI.
2. PANGLIMA MENTERI SRI TAMA.
3. MAHAMENTERI PUAN AJANG (Orang dari Negeri Serajang).
4. MENTERI NGABEHI CACU.
5. MANGKUBUMI KI NARANG BAYA.

Setelah Kerajaan Kutai Martapura ditaklukan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara, maka wilayahnya menjadi Negari (Keadipatian) pimpinanya di sebut kepala negeri setingkat Mangkubumi adapun yang sempat memerintah menjadi Kepala Negeri di Muara Kaman dari Tahun 1605-1900. diantaranya :

NALA PERANA, menjadi kepala negeri (Adipati Muara Kaman) adalah Putra Mahkota Kerajaan Kutai Martapura anak dari MAHARAJA DERMA SETIYA yang meninggal saat berperang dengan AJI KIJI PATI JAYA PERANA dari Kerajaan Kutai Kartanegra atas bantuan SINGA LENGGAWA (Adipati Indu Anjat) dan seorang Arab bernama SYID MUHAMMAD SULEMAN yang memperisteri anak bangsawan yang berdiam di Sabintulung bernama PUTRI NIRADIAH atas batuan tuan dari Arab ini beliau di Islamkan dan memperisteri seorang saudara dari SAYID MUHAMMAD SULEMAN bernama PUTRI SERIFAH KENCANA yamg melahirkan NALA SINGA (tinggal di Muara Kaman) dan adiknya PATEH RENEQ (tinggal di ketebang siguntung pedalaman Sabintulung) dan NALA SINGGA, menjadi Adipati di Muara Kaman, melahirkan SINGA LENGGAWA yang menjadi Adipati di Indu Anjat kawin dengan DINGIN cucu JENTUI gelar RADEN TUMENGGUNG (Adipati Indu Anjat Perian) yang melahirkan PASANG mertua dari NALA SINGA juga melahirkan SINGA YUDA.
SINGA YUDA, menjadi Adipati di Muara Kaman, melahirkan anak antaranya : 1. MARGA gelar MAHARAJA MARGA NATA KUSUMA diangkat menjadi Adipati di Muara Gelumbang (Muara Bengkal) yang melahirkan PUAN PANJANG alias (TUAN PANJANG) yang melahirkan DAYANG SUNGKA isteri SULTAN AJI MUHAMMAD IDRIS. 2. NALA MARTA diangkat menjadi (Adipati di Muara Kaman) melahirkan anak diantaranya : 1. NALA MAYANG melahirkan anak antara bernama NALA PERANA berputrakan PENDAIK yang melahirkan H. MUSTAFA yang melahirkan DAYANG PURNAMA yang diambil isteri oleh SULTAN AJI MUHAMMAD SULEMAN setelah menjadi Permaisuri ke 4 DAYANG PURNAMA ber gelar RATU PURNAMA. 2. LINGKA gelar NALA PATI menjadi Adipati di Muara Kaman. 3. SINGA MUDA menjadi Kepala Kampung di Sabintulung dan keturunanya tinggal menetap disana. 4. WANGSA MUDA menjadi Kepala Kampong di Menamang dan keturunanya menetap disana. Sedangkan LINGKA gelar NALA PATI menjadi Adipati di Muara Kaman, melahirkan DANDA gelar NALA GUNA menjadi Adipati di Muara Kaman dan melahirkan MAJA gelar NALA RAJA TUHA menjadi Adipati di Muara Kaman, melahirkan SALONG gelar NALA MAYANG, menjadi Adipati di Muara Kaman yang terakhir pada taun 1900, dan bersaudara dengan TAPA.


Silsilah Keturunan Raja
Kerajaan Kutai Martapura Di Muara Kaman

Diera Tahun 1900 Wilayah Muara Kaman Telah Menjadi Distric Hoofd Dalam Wilayah Penjajah Belanda Sedangkan Kepala Wilayahnya Diangkat Dari Kerabat Raja-Raja Dari Kutai Kartanegara Sedangkan Para Kerabat Kerajaan Kutai Di Muara Kaman Hanya Menjadi Kepala Kampung Catatan Keluarga

MAJA GELAR NALA RAJA TUHA bin DANDA gelar NALA GUNA melahirkan : 1. SALONG gelar NALA MAYANG, 2.TAPA, 3. TIRA, 4. SETA, 5. SALAR, 6.DITA, 7. DIRA.

SALONG gelar NALA MAYANG bin MAJA gelar NALA RAJA TUHA melahirkan anak 3 orang : 1. BENDUL gelar JAYA KERAMA. (Belum diketahui Keturunanya), 2. KERINCING. 3. SELAT, 4. NAI (Belum diketahui Keturunanya).

TAPA bin MAJA gelar NALA RAJA TUHA melahirkan : 1. MOYAH. 2. BUNGGEK. 3. BIYAH alias MANG. 4. ALI.

TIRA bin MAJA gelar NALA RAJA TUHA melahirkan : 1. KAMEW. 2. SEMAR. 3. PINDOK.

SETA bin MAJA gelar NALA RAJA TUHA melahirkan : 1. KADER. 2. TIDOK. 3. NYOMBET. 4. AMSA.

DITA bin MAJA gelar NALA RAJA TUHA melahirkan : UWON. Tidak Ada Saudaranya anak Tunggal.

SALAR bin MAJA gelar NALA RAJA TUHA melahirkan : 1. IPIL. 2. MAMAT. 3. YEW 4. KEPANG.

DIRA bin MAJA gelar NALA RAJA TUHA melahirkan : 1. PANGERAN PERDAH. 2.KOMPAL. 3. LAGOK.

KERINCING bin SALONG gelar NALA MAYANG beristeri TIDOK bin SETA melahirkan : 1. UGENG. 2.SAID. 3. MAS alias SUMIK. 4. ENGKEH, 5. LAMAH, 6. JAMAL.

UGENG bin KERINCING Melahirkan : 1. DULAH bebini GILET. 2. MIAH belaki GEBOK. 3. SALUS bebini SUNOT. 4. KABIK bebini NYONYAH.

SAID bin KERINCING bebini TIJAH alias KOKOH melahirkan : 1. GARIT bebini MUNAH, 2. RA’AH belaki IJAB (Banjar), 3. NYONYAH belaki KABIK bin UGENG, 4. KUNYAK belaki UTAL (Tenggarong), 5. MANSUR bebini SEMI binti RAKA’AT, 6. DA’UT bebini NOR GABAM tidak ada turunan, 7. JUM alias GO bebini ENAH alias TUGING, 8. SULEMAN bebini NENG binti NUDIN, 9. DERON Bebini 2 orang 1. SENAH. 2.IDAR.

MAS alias SUMIK bin KERINCING bebini BIDAH alias ENDOK melahirkan : 1. ALIAH alias TIBUK. belaki GEDON. 2. DUDUI belaki JAMUK. 3. JAPAR bebini JERAH. 4. ASMAEL bebini CEMOT. 5. SIDIK (bujang). 6. DRAHMAN (bujang). 7. ARPAN bebini SIAM. 8. ASON.

IPIL bin SALAR Bebini MOYAH Binti TAPA Melahirkan : 1. TUYAH. 2. SAMSIAH. 3. JUMAT. 4. MASNAH. 5. NDURI.

ALI bin TAPA bebini LUPUS UNGKING (Dayak Modang) Melahirkan : 1. SAIDI alias KO’OI. 2, SOOT. 3. UMON. 4. KIKIK alias NUDIN. 5. CEMOK. 6. UKUK. 7. UNYUT. 8. MANTAN.

UWON bin DITA bin MAJA gelar NALA RAJA TUHA bebini EMEU binti TIRA melahirkan : KIYAH.

EMEU binti TIRA Belaki SELAT bin SALONG melahirkan: 1. RAKA’AT. 2.RAHMAT alias NYUNYUNG 3. ALIP alias BILAL. 3. BIDAH alias ENDOK.


RAKA’AT bin SELAT bebini TUYAH melahirkan : 1. H. ASMA bebini JERA’AH. 2. BADAR bebini SURI. 3. SEMI belaki MASUR bin SAID dan bersuami kan SAHA. 4. GEDON bebini ALIAH alias TIBUK. 5.RABAINAH. 6. JEMARI. 7. CE’EW bebini AJI MURNI binti AJI ASAN, 8. SAPUTRI, 9.MISRA bebini MASURA bin TARIP. 10. DILONG bebini AJI NORIA binti AJI ASAN

Catatan Khusus : RAHMAT alias NYUNYUNG bin SELAT melahirkan : 1. SAIDI. 2.TENGAU bebini MIDAH binti JAPAR (Menamang). 3. TERAH belaki SAMSU (Senambah). 4. MA belaki HENDRI (Jawa). 5. ARSINAH alias NOT. 6. ABDUL bebini BIYAH.

Silsilah keturunan raja kutai martapura di muara kaman bernama kerincing bin salong gelar nala mayang beristeri tidok bin seta melahirkan jamal dan menurunkan A.Iansyahrechza.F gelar Maharaja Srinala Praditha Wangsawarman dan menurunkan Rahmadi.S.Pd gelar Pangeran Sri Nala Wangsa Dipura (mangkubumi kerajaan kutai mulawarman) Raja pemangku adat kerajaan kutai mulawarman pertama tahun 2001 Catatan keluarga sebagai berikut :

1. JAMAL melahirkan DEDONG diperisteri Oleh BONE bin SAMPO sepupu sekali dengan RONGGE gelar SUTA KANAN di Kota Bangun,
2. DEDONG diperisteri Oleh BONE bin SAMPO melahirkan anak antara lain : 1. HAJAH ROHANI. BOMBAY 2. USMAN. 3. BAKRI. 4. BORHAN.B. 5. MASKOER. 6. ANUAR.B. 7. IFAH. 8.MASFAH. 9.IDARIANSYAH PIDOY. 10. ABDUL HAMID.
3. HAJAH ROHANI BOMBAY gelar MAHAPUTRI SRI NILA MARTA DEWI bersuamikan AMER melahirkan : 1. AHMID. 2. JAMLI. 3. ALIANSYAH. 4. HANAFI. 5. SABRAN. 6. RUSDIANA. 7. ASWAR BUENG.
4. USMAN beristeri JUYAH dan TIMAH melahirkan : 1. RUSTINI. 2. MOHDAR. 3. NYOK. 4. JAINAL. 5. IRIANI.
5. BAKRI TODAK beristeri DIOK (Tuana Tuha) melahirkan : 1. KARTINI, 2. SURYADI. 3. ARTINAH. 4. SAPRI gelar PANGERAN SRINALA WANGSA INDRA. 5. RUSNIAH. 6. RATNAWATI gelar MAHAPUTRI MAYANG NILA DEWI. 7.ENDANG, 8. SANIAH.
6. BORHAN IBOR gelar PANGERAN SRINALA NATA KUSUMA beristerikan BADARIAH gelar MAHAPUTRI SRINILA PURNA DEWI melahirkan : 1. SAIDI. 2. SAHRUNI. 3. HADRI. 4. ASTUTY. 5. RAHMADI gelar PANGERAN SRINALA MANGKU NEGARA. 6. MULYADI gelar NI RADEN NALA KUSUMA NEGARA.
7. MASKOER gelar PANGERAN SRINALA PRABU WANGSA WARMAN beristerikan RAKNI gelar MAHASURI SRINILA DEWI GARI melahirkan : 1. SADELI gelar PANGERAN SRINALA WANGSARAGEN. 2. FATHUL gelar PANGERAN SRINALA WANGSAYUDA. 3. INDAR NUR AINI gelar MAHAPUTRI SRINILA KUMALA DEWI. 4. AZIS meninggal. 5. MURAINI gelar PANGERAN SRINALA WANGSA WARMAN. 6. MIRNIWATI gelar MAHAPUTRI SRINILA RATU KUMALA. 7. A.IANSYAHRECHZA.F. gelar MAHARAJA SRINALA PRADITHA WANGSAWARMAN. 8. ILIANSYAH gelar PANGERAN SRINALA WANGSAPERDANA.
8. ANUAR B. gelar PANGERAN SRINALA WANGSAPATI beristerikan MALA melahirkan : 1. MIRNA. 2. USMAN. 3.AGUS. 4. PILIK.
9. IPAH gelar PUTRI NILA WATI bersuamikan DARHAM berputrakan : 1. SAIPUL gelar NI RADEN NALA SAKTI. 2.ARMIAH. 3. AMRUL. 4.KUPAT. 5. GULIK. 6. ADUT. 7. ATENG. 8.JAMHARI. 9.JAILANI. 10.MIAR.
10. MASFAH TIDAK ADA TURUNAN.
11. IDARIANSYAH PIDOY gelar PANGERAN SRINALA WANGSAKELANA beristeri MAMAH (Sunda) melahirkan : 1.MUH.SAPII. 2.SITI FATIMAH. 3. NITA HANDAYANI. 4.JULIANA. 5. MUH.SOPYAN. 6. SINTA.
12. ABDUL HAMID TIDAK ADA TURUNAN.

SILSILAH PETINGGI SUGUK BIN KADER PETINGGI PERTAMA DI DESA SEDULANG MUARA KAMAN
Catatan Yakub Alias Kuyak Gelar Pangeran Nala Indra Kelana (Kepala Adat Desa Sedulang) sebagai berikut :
I. KADER BIN SETA BIN MAJA GELAR NALA RAJA TUHA KAWIN DENGAN BUNGGEK BIN TAPA BIN MAJA GELAR NALARAJA TUHA MELAHIRKAN ANAK ANTARA LAIN : 1. SUGUK. 2. UKIK.
II. SUGUK BIN KADER BERISTERIKAN REKOS MELAHIRKAN : 1. SIDOT. 2. SEBAM. 3. JADI. 4 MAUN. 5. SARI ALIAS SEREW. 6. CEMA’I. 7. KERAN. 8. TEMOT.
III. UKIK BINTI KADER BERSUAMIKAN BERAHIM ALIAS KESONG BIN PINDOK BIN DIRA BIN MAJA GELAR NALARAJA TUHA MELAHIRKAN : 1. LUYAH. 2. OROK ALIAS TURKI.
IV. SIDOT BINTI SUGUK BERSUAMIKAN BAEN MELAHIRKAN : 1. RIBOT. 2. SIAH. 3. NAH. 4. DAR.
V. SEBAM BINTI SUGUK BERSUAMIKAN MUG MELAHIRKAN : 1. TAMBAL. 2.HAMI.
VI. JADI BIN SUGUK BERISTERIKAN SIAH MELAHIRKAN : 1. DULAH. 2. DERIS. 3. DENAN. 4. MIMING.
VII. MAUN BIN SUGUK BERISTERIKAN PIAH MELAHIRKAN : 1. MISAH. 2. SIAH. 3. CUANG. 4. MISRA. 5. ASNAN. 6.IJUH.
VIII. SARI ALIAS SEREW BIN SUGUK TIDAK DIKETAHUI KETURUNANNYA.
IX. CEMAI BINTI SUGUK BERSUAMIKAN KUYON MELAHIRKAN : 1.RABAK. 2.NOT. 3.MAHAT. 4.ALI. 5.LEMAN. 6.INAP. 7.IJAI. 8.IYOT. 9.TAYOT.
X. KERAN BIN SUGUK MEMPERISTERI BAI BINTI ABEB MELAHIRKAN : 1. YAKUB ALIAS KUYAK GELAR PANGERAN NALA INDRA KELANA (KEPALA ADAT DESA SEDULANG). 2.MAR.
XI. YAKUB ALIAS KUYAK GELAR PANGERAN NALA INDRA KELANA (KEPALA ADAT DESA SEDULANG) BIN KERAN BEBINI SALAMAH BIN JAMRI MELAHIRKAN : 1.DAHLIA. 2.SOPIAN. 3.MASDIAN 4. NUAR. 5. DUAR. 6. LENA. 7.IJEHAR 8.LENI.

SILSILAH MALAY MELAHIRKAN DAYUK BERISTERIKAN LEDOK DAN DO’ONG
I. DAYUK BERISTERIKAN LEDOK MELAHIRKAN : 1. ABD.GALIB, 2. JUMAIN ALIAS PEK, 3. H. BUSTANI ALIAS NENG, 4. OT, 5. MINA.
1. ABD.GALIB BIN DAYUK BEBINI DAYANG SRI WAHYUDA (TENGGARONG), BIN AWANG ACHMAD MELAHIRKAAN : 1. M. CHADARMAWAN.A.Md. 2. IBNU AL-FARISI.SE. 3. YONAL ISKANDAR. 4. ILHAM NUR. 5. GAZALI. 6. ZAIN MUTAQIN.
2. JUMAIN ALIAS PEK BIN DAYUK.BEBINI MARIA MELAHIRKAN : 1.RUSNA. 2. JAPARUDIN. 3. RUSDIANA. 4. FAHRUDIN. 5. RUSDIAH. 6. RAHIDAH. 7. FAUZI RAHMAN.
3. H.BUSTANI ALIAS NENG BEBINI MIOL (MA-BENGKAL) MELAHIRKAN : 1. NANANG. 2. JAMHARI.S.Sos. 3. JULKIPLI JULEK. 4. HJ. ISNA WATI. 5. JONI. 6. HJ.RUSTINA.
4. OT BINTI DAYUK MELAHIRKAN : 1. ABUK. 2. MAYA. 3. IJUL. 4. ARIF. 5. TINAH
5. MINA BELAKI BITOK MELAHIRKAN : 1. SOPIANSYAH. 2. ISKANDAR.S.Sos. 3. MOMONG. 4. ISMANSYAH. 5. RUSDIANNYAH.
- CATATAN : M. CHADARMAWAN.A.Md. BIN ABD.GALIB BEBINI DINA KATARINA (TENGGARONG) MELAHIRKAN : 1. YUSA MAHENDRA. 2. SARA FINA NURISKI.
- IBNU AL-FARISI.SE BIN ABD.GANI BEBINI UUD MELAHIRKAN : ANANDA RISKI.
II. DAYUK BERISTERIKAN DO’ONG MELAHIRKAN : 1. ABD. KARIM, 2. EFFENDY. 3. SAIPUL ANUWAR, 4. MASTIKA, 5.ROBBY CAHYADI.SE.MM, 6. SITOT. 7. ENDON.

SILSILAH ASIM SEPUPU UWON BIN DITA BEBINI EMEU BIN TIRA BIN MAJA GELAR NALA RAJA TUHA DI MUARA KAMAN ULU
Catatan : Saudara Pangeran Srinalapati Syahrani Wira Jaya (Ketua Majelis Kerapatan Tata Nilai Adat Kerajaan Kutai Mulawarman)

1. ASIM BEBINI KEYOT BERANAK 1. TARIP. 2. HALIJAH/IKOI. 3. UPEK/PEL (BUTA). 4. EMBOL (BUTA).
2. TARIP BIN ASIM BEBINI PERTAMA BERNAMA MAYANG BERANAKAN: 1.TEMAH, 2. SALEH, 3. SAMIN.
3. SEDANGKAN MAYANG BELAKI PERTAMA DENGAN RAJA BERANAKAN : 1. UNUS, 2. CAWA, 3. NALA RAJA, 4.MINOK
4. TARIP BIN ASIM BEBINI KEDUA BERNAMA KIAH BINTI UWON BERSEPUPU SEKALI DENGAN KERINCING BERANAKAN : 1.BIJAH, 2.SENAH, 3.NYOT, 4.BAHRON, 5.SURA, SALMA.
5. UPEK BINTI ASIM TIDAK DIKETAHUI KETURUNANNYA
6. HALIJAH/IKOI BINTI ASIM BELAKI RAHMAN BERANAKAN 1.SAHDAN, 2.NOT, 3.ARBI, 4.EBONG
7. TEMAH BINTI TARIP BELAKI TANJONG BERANAKAN, 1.KERAN, 2.KEDOI, 3.SAAT, 4.HAMSAH/COT. 5.JUYAH
8. UNUS BIN RAJA BEBINI CAHAYA BERANAKAN YAW
9. UNUS BIN RAJA BEBINI EMAH (DIMENAMANG) TIDAK ADA KETURUNAN
10. UNUS BIN RAJA BEBINI EMBONG BERANAKAN 1. AR (LAKI-LAKI), 2.FITRI
11. CAWA BINTI RAJA BELAKI DOMONG BIN RESAT BERANAKAN ALI
12. NALA RAJA BIN RAJA BEBINI REKIAH BINTI ELOK BERANAKAN, 1.AMINAH/NOT, 2.BOR,3.MAS, 4.DERIS
13. MINOK BINTI RAJA BELAKI AMER (BANJAR NEGARA) BERANAKAN 1. PUTTING, 2. ABOK/RABAKYAH, 3.H.MASDA/H.DAR, 4.DI/ARBIAYAH, 5.MASRI/MUNG.
14. AMER (BANJAR NEGARA) BEBINI KEDUA CAHAYA BERANAKAN 1.MANAF, 2.BEN.
15. AMER (BANJAR NEGARA) BEBINI KETIGA UDUNG BINTI UKEK BERANAKAN, 1.ABDUL MUTALIB ALIAS DUL. 2.ABUBAKAR ALIAS ABU, 3.ABOL DI BENUA PUHUN, 4.ING, 5. JOK, 6.ASAN, 7.SAMSUDIN ALIAS SAM, 8.SITI/ALIAS SUTI, 9. NENG
16. BIJAH BINTI TARIP BELAKI SAHDAN BIN RAHMAN BERANAK, 1. AL, 2.UDIN.


SILSILAH KETURUNAN PANGKON CONONG BERDIAM DI DESA MUARA KAMAN ILIR
Catatan Marjum Dan Asan Pudau Kepala Adat Desa Muara Kaman Ilir

1. Merdiah melahirkan : 1.Hamad. 2.Beruang.
2. Conong Melahirkan : 1.Ayub alias Gewal. 2.Hamid. 3.Nanang. 4.Tanjong.
3. Ayub Alias Gewal Bin Conong Melahirkan : 1.Pudau. 2. Gogok. 3. Lempong.
4. Hamid Bin Conong Bebini Kunti Melahirkan : 1.Te’ok. 2.Ijuh.
5. Nanang Bin Conong Melahirkan : 1. Setia. 2.Sani. 3.Yakub. 4.Minah. 5.Usup.
6. Tanjong Bin Conong Melahirkan : 1.Keran. 2.Sa’at. 3.Kedoi. 4.Cot. 5.Juyah.
7. Pudau Bin Ayub alias Gewal Bebini Minah Melahirkan : 1.Sanah. 2. Asan. 3.Tiong. 4.Yot. 5.Tipol. 6.Ung. 7.Berahim. 8.Arsinah. 9.Bah. 10.Nan.
8. Gogok Bin Ayub alias Gewal berdiam di Puan Salib Melahirkan : Bahron.
9. Lempong Bin Ayub alias Gewal tinggal di Long Segar Bebini Dayak tidak diketahui keturunannya.
10. Te’ok Binti Hamid Bin Conong Belaki Utun Melahirkan : 1.Mot. 2.Marjum.
11. Ijuh Bin Hamid Bin Conong Bebini Piah berdiam di Rantau Hempang Beranakan : 1.Serabit. 2.Mastika. 3Miah.
12. Setia Bin Nanang Bin Conong Bebini Dayang Ipot Melahirkan : 1. H. Ramli alias degong. 2. Kodom. 3. Mar. 4.Alul. 5.Maimunah. 6.Pilhardi. 7.Rusli.
13. Sani Bin Nanang Bin Conong tidak diketahui keturunannya.
14. Yakub Bin Nanang Bin Conong Bebini Ijam Melahirkan : 1.Alan. 2.Sopran.
15. Minah Binti Nanang Bin Conong Belaki Lalung melahirkan : 1.Jueng. 2.Cacah.
16. Usup Bin Nanang Bin Conong Bebini Binah Melahirkan : 1.Kuying. 2.Undut.
17. Keran Bin Tanjong Bebini Ar Melahirkan : 1.Duying. 2.Janeng. 3.Dinas.
18. Sa’at Bin Tanjong Bebini Tating Tidak diketahui keturunannya.
19. Kedoy Bin Tanjong Bebini Jeleha Melahirkan: 1.Dar. 2.Bagal. 3.Demong. 4.Suni. 5.Undan. 6.Kartini
20. Cot Binti Tanjong Belaki Awang Gang Melahirkan : 1. Awang Jondo. 2.Dayang As. 3.Awang Undan. 4.Dayang Anot. 5.Dayang Dekolina. 6.Dayang Undut. 7.Awang Andon. 8.Awang Odon. 9.Awang Ardin.
21. Juyah Bin Tanjong Belaki Sidin Melahirkan : 1,.ati. 2.Kartana. 3.Mus. 4.Jueng.
22. Sanah Binti Pudau Belaki Artahanan Usman alias Tu’uk Bin Usman Petinggi Muara Kaman Ilir Melahirkan : 1.Hadri alias Hat. 2.Arjudan. 3.Tepideswandi alias Iping. 4.Ipit
11. Asan Bin Pudau Kepala Adat Desa Muara Kaman Ilir bebini Kemo Binti Buasan

SILSILAH KETURUNAN PANGERAN PERBTASARI DARI BANJARMASIN AMUNTAI BERDIAM DI DESA MUARA KAMAN ILIR
Catatan Rakni Gelar Mahasuri Mayang Seri Gari Ibusuri Kerajaan Kutai Mulawarman Sebagai Berikut :

1. Raun Turunan Pangeran Mas Perbatasari dari Banjar Masin Amuntai Bebini Di Muara Kaman dan melahirkan : 1.Buasan. 2.Buaseh. 3.Sidiq alias Onen. 4.Seman. 5.Japar Sidiq. 6.Esah. 7.Munah. 8.Cidok.
2. Buasan Bin Raun Bebini Sibah Melahirkan : 1.Bidin. 2.Jenait. 3.Badariah Alias Kerempot. 4.Ariah. 5.Hamiah. 6.Mastiah. 7.Kamaliah alias Kemo
- Buaseh Bin Raun Bebini Kepek Berdiam di Muara Kaman Melahirkan: 1.Semoh. 2.Jamrud.
- Buaseh Bebini Jabok Berdiam di Belayan Melahirkan : 1.Anang. 2. Hasanuddin.
- Buaseh Bebini Hj. Cimok Berdiam Di Jakarta Melahirkan: 1.Ruslan. 2.Rusnan.
- catatan Kepek Belaki Nohong melahirkan 1. Haji Ketok dan 2. Rebeng.
3. Sidiq Alias Onen Bin Raun Bebini Inah Alias ila Tidak Ada keturunan.
4. Seman Bin Raun Bebini Ciot di Muara Kaman Melahirkan :Pitah tinggal di Samarinda.
5. Japar Sidiq Bin Raun Bebini Nunah Berdiam di Samarinda Melahirkan : 1.Syahlan. 2.Syahli. 3.Syahril. 4.Ernawati alias Neng. 5.Darnawati.
6. Esah Binti Raun Belaki Bahar Bin Sampo tidak ada keturunan.
7. Munah Binti Raun Belaki Guntar melahirkan : Hamdi Gunawan alias O’ong. Munah Binti Raun Belaki Pitung Bin Salok Melahirkan : 1. Rakni Gelar Mahasuri Mayang Seri Gari, 2.Jumayah alias Mol. 3.Rasidi alias Doy. 4Mulia alias Ung. 5.Asiyah alias As. 6.Ardiansyah alias Dut. 7.Syahrin alias Rin. 8.Jum’ah. 9.Hadijah. 10.Juhariah alias Eng. 11.Juraidah alias Non
8. Cidok Binti Raun Belaki Ngau Melahirkan : 1.Rusni. 2.Masdar alias Day.
9. Bidin Bin Buasan Bebini di Sungai Meriam tidak diketahui turunannya.
10. Jenait Bin Buasan Bebini Seli dari Sabintulung Melahirkan : 1.Kar. 2.Mar. 3.Tuas. 4.Basruni. 5.Purkan.
11. Badariah Alias Kerempot Binti Buasan Belaki Borhan Bone Melahirkan : 1.Saidi. 2.Sahruni. 3.Hadri. 4.Rahmadi.S.Pd. 5.Muliayadi.
12. Ariah Binti Buasan Belaki atara lain :
- Ariah Belaki Salim Bin Mio (Jawa) Meranakan : 1. Jum’ah. 2. Misrani. 3. Asnawati.
- Ariah Belaki Mandong Melahirkan : 1. Donan. 2. Asran. 3. Asrin gelar Raden Nala Nata Negara. 4.Kar.
13. Hamiah Binti Buasan Belaki Simin (Jawa) Melahirkan : Sahral.
14. Mastiah Binti Buasan belaki Mastur alias Bek Melahirkan : 1.Panul. 2.Yani. 3.Ishak. 4.Kandoi. 5.Marni. 6.Mael.
15. Kamaliah Alias Kemo Bin Buaseh Belaki Asan Bin Pudau Kepala Adat Desa Muara Kaman Ilir lihat Keturunan Pangkon Conong.
16. Semoh Bin Buaseh Bebini Epe Binti Alam Melahirkan : 1. O’ot. 2. Sainah. 3. Bu. 4. Lian
17. Jamrud Binti Buaseh Belaki Mat Neh Melahirkan : 1. Salman. 2.Jum’ah.
18. Anang Bin Buaseh tidak diketahui keturunanya di Muara Bengkal.
19. Ruslan Bin Buaseh Tinggal di jakarta tidak diketahui keturunannya.
20. Rusnan Bin Buaseh Tinggal di jakarta tidak diketahui keturunannya.
21. Pitah Bin Seman di samarinda tidak diketahui turunannya.
22. Sahlan Bin Japar Bebini di Malang (Jawa Timur) tidak diketahui turunannya.

SILSILAH PETINGGI TUPAI GELAR MERGO SURO WONGSO BIN KOMPAL SAUDARA PANGERAN PERDAH BIN DIRA BIN MAJA GELAR NALA RAJA TUHA PETINGGI DESA MUARA KAMAN ILIR
Catatan Khusus Muhammad Halid Deris Gelar Pangeran Sura Wangsa (Adipati Wilayah Kerajaan Kutai Mulawarman Di Samarinda)

1. KOMPAL BIN DIRA BIN MAJA GELAR NALA RAJA TUHA MELAHIRKAN: 1.ENDOK. 2.PETINGGI TUPAI GELAR MERGO SURO WONGSO. 3.MAYANG. (TIDAK ADA KETURUNAN). 4.BOLANG. 5.HAJI LEMBAIK. 6. GINAP. 7.PETINGGI MUHAMMAD DERIS.K. 8. PINDAH.
2. ENDOK BIN KOMPAL BERISTERI ENDON MELAHIRKAN : 1.BIDAH. 2. ASMAEL (Muara Siran). 3. BONGGEL.
3. PETINGGI TUPAI GELAR MERGO SURO WONGSO BIN KOMPAL BERISTERIKAN TASAH MELAHIRKAN: 1.TALIB. 2.SARDIAH. (TIDAK ADA KETURUNAN), 3.HADIJAH. (TIDAK ADA KETURUNAN)4.UDONG.

4. BOLANG BIN KOMPAL BERISTERIKAN HALIMAH MELAHIRKAN :1.NOH. 2. ABU. 3. IJUM.
5. HAJI LEMBAIK BIN KOMPAL BERISTERIKAN HAJAH BADARIAH (BANJAR) MELAHIRKAN : 1.KAMA. 2.NANANG. 3.MUNOT. 4.MIAH. 5.MANSUR (SAMARINDA). 6.AHMID. 7.HADIJAH (RANTAU HEMPANG)
6. GINAP BINTI KOMPAL BERSUAMIKAN SAHA MELAHIRKAN : 1.TOL. 2. NEK. 3. SU’UD.
- CATATAN, SAHA BERISTERIKAN TEK MELAHIRKAN ROHANI.
7. PETINGGI MUHAMMAD DERIS BIN KOMPAL BERISTERIKAN CAHAYA (BANJAR KOTA BANGUN) MELAHIRKAN : ASMAEL.(TENGGARONG), 1.ABAS. (TIDAK ADA KETURUNAN), 2. MUHAMMAD DIN (SAMARINDA). 3. MUHAMMAD HALID DERIS GELAR PANGERAN SURA WANGSA. 4. MUHAMMAD RASIDIE ALIAS EDEW GELAR PANGERAN SURA DIWANGSA (SAMARINDA). 5. HAMSYAH. (SUMATRA). 6. ANA. 7.SYAHRIL. (TIDAK ADA KETURUNAN), 8.SYARIFUDDIN. (TIDAK ADA KETURUNAN). 9. HAJAH SANIAH ALIAS NONG. (TIDAK ADA KETURUNAN)
8. PINDAH BINTI KOMPAL BERSUAMIKAN REBA MELAHIRKAAN : 1.ARBIAH. 2.BAHTIAR ALIAS YOI. 3. AR. 4. NON. 5. DENG.6. MOT.
9. TALIB BIN MERGO SURO WONGSO BERISTERIKAN HADIAH MELAHIRKAN : 1. JUMRI TIDAK ADA TURUNAN. 2. ASNAH.
10. UDONG BINTI MERGO SURO WONGSO BERSUAMIKAN ABDULLAH MELAHIRKAN : 1. HAJAH SABANIAH. 2. SAPI’I. 3. YON (kembar). 4.BENAH. 5. SAPRIL
11. ASMAEL BIN MUHAMMAD DERIS BERISTERIKAN RUDIAH (BUGIS) MELAHIRKAN: 1. BAHRUNI ALIAS YUN. 2. WIDOWATI. 3. HAJI ARTA. 4. H.Ir. ERWIN DJUNAIDI. 5. NANING. 6. TABRANI ALIAS GESEK. 7. RIJAL 8. YANI. 9. SAF’I
12. MUHAMMAD DIN BIN DERIS BERISTERIKAN HAMI BIN SALOK MELAHIRKAN : 1. SUKARNI. 2. SYAIPUL BAHRI. GELAR RADEN MERGO SURA WANGSA. 3.KUK. 4. SUPIAN EFFENDY ALIAS NYINYIK. GELAR RADEN NALA WIRA JAYA. 5. SUPRIADI ALIAS CUCUT. GELAR RADEN NALA MUDA. 6. MADI ALIAS MADET PEREMPUAN. 7. KUS.
13. MUHAMMAD HALID BIN MUHAMMAD DERIS GELAR PANGERAN SURA WANGSA BERISTERI NINGSIH BINTI WALUYO (JAWA) MELAHIRKAN : 1. TAUFIKURAHMAN. 2. HIDAYATURAHMI. 3. MARIATUL KIFTIAH. 4. INDAH LESTARI.
14. MUHAMMAD RASYIDIE GELAR PANGERAN SURA DIWANGSA BIN MUHAMMAD DERIS BERISTERI HADIAH BINTI AMER MELAHIRKAN : 1. SAMSUL BAHRI.SH. 2.RUSDIASNA. MSc. 3.TRI MULIATI.
15. HAMSIAH BINTI MUHAMMAD DERIS BERSUAMIKAN SAID FAISAL BIN AJI BAMBANG HAMID BIN AJI RADEN SERIF NILO PERBONGSO (ARAB KUTAI) MELAHIRKAN : 1. SAID FAIRIL. (SUMATRA) 2. SAID FERLI.(SUMATRA). 3.SAID FERDI GELAR RADEN SERIF (SAMARINDA).
16. ANA BINTI MUHAMMAD DERIS BERSUAMIKAN SULEMAN BIN YUSUF MELAHIRKAN : 1.FITRIANSYAH. 2. OYONG. 3.YUNI.4. EKO. 5.RINI.

Sumber : http://mulawarmankutaimulawarman.blogspot.com/2010/03/silsilah-keturunan-raja-kutai-martapura_11.html