Medang Kamulan (929-1016)
Berdirinya Kerajaan Medang Kamulan
Kerajaan Medang Kamulan adalah Kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Mpu Sindok. Mpu Sindok sendiri masih tergolong menantu Dyah Wawa sebab permaisurinya Mpu Kbin merupakan puteri Dyah Wawa.
Kerajaan Medang Kamulan adalah Kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Mpu Sindok. Mpu Sindok sendiri masih tergolong menantu Dyah Wawa sebab permaisurinya Mpu Kbin merupakan puteri Dyah Wawa.
Pada tahun 929 M, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pemindahan itu memiliki beberapa tujuan, diantaranya :
- Untuk menghindari terjadinya ancaman penyerangan oleh Kerajaan Sriwijaya,
- dan untuk menghindari terjadinya letusan Gunung Merapi.
Menurut catatan sejarah, pusat pemerintahan baru tersebut terletak di Watugaluh yang berada di tepian Sungai Brantas ( Sekarang kira-kira masuk ke dalam wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur ). Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram Kuno melainkan Medang Kamulan.
Nama Medang Kamulan menunjukkan bahwa Kerajaan itu merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Akan tetapi, Medang Kamulan tetap merupakan Kerajaan tersendiri karena diperintah oleh dinasti baru, yakni Dinasti Isyana. Dinasti Isyana memerintah sejak tahun 929 hingga 1016 M.
Sistem Pemerintahan
1. Mpu Sindok (929-949)
Mpu Sindok merupakan raja pertama dari Kerajaan Medang Kamulan. Ia memerintah selama 20 tahun. Mpu Sindok tidak memerintah sendiri, tetapi dibantu oleh permaisurinya Sri Wardhani Mpu Kbin. Saat memerintah Mpu Sindok bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isyana Wikrama Dharmattunggadewa.
Mpu Sindok memerintah dengan adil dan bijaksana. Berbagai usaha ia lakukan untuk memakmurkan rakyat, antara lain membangun bendungan atau tanggul untuk pengairan. Ia melarang rakyatnya untuk menangkap ikan di bendungan pada siang hari. Larangan itu ada kaitannya dengan pelestarian Sumber Daya Alam.
Meskipun beragama Hindu, Mpu Sindok tetap memperhatikan usaha penggubahan kitab Budha Mahayana. Hasil gubahan tersebut berupa kitab Sang Hyang Kamahayanikan. Perhatian itu menunjukkan bahwa agama Hindu dan Budha dapat hidup berdampingan secara damai.
2. Sri Isyana Tunggawijaya (949- )
Mpu Sindok digantikan putrinya, yaitu Sri Isyana Tunggawijaya. Ia kawin dengan Lokapala. Dari hasil perkawinannya lahirlah Makutawangsa Wardhana (seorang putra mahkota) yang kelak meneruskan pemerintahannya.
3. Makutawangsa Wardhana ( -991)
Raja Makutawangsa Wardhana dikenal dengan julukan Matahari Dinasti Isyana. Ia dikaruniai dua orang anak, antara lain :
1. Dharmawangsa Teguh, yang kelak naik tahta di Medang Kamulan pada tahun (991), dengan gelar Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramattunggadewa diawal pemeritahannya pernah melakukan serangan ke Kerajaan Sriwijaya.
2. Mahendradatta, Ia bergelar Gumaprya Dharma Patri yang kawin dengan Udayana (Raja Bali). Yang kemudian dikaruniai putra bernama Airlangga (Raja Kahuripan).
4. Dharmawangsa Teguh (991-1016)
Pada masa pemerintahannya, ia pernah memerintahkan untuk menerjemahkan beberapa bagian kitab Mahabharata ke dalam bahasa Kawi. Dan untuk mengatur ketertiban masyarakat, disusunlah kitab hukum yang dinamakan Purwadigamaatau Siswasana.
Selain itu, ia juga berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Usaha itu dilaksanakan dengan cara meningkatkan sektor pertanian dan perdagangan. Akan tetapi, usaha untuk meningkatkan sektor perdagangan menjadi sulit karena perdagangan di kawasan perairan Jawa dan Sumatra masih dikuasai oleh Sriwijaya.
Dalam rangka mematahkan pengaruh Sriwijaya dan untuk mewujudkan cita-citanya yang ingin menguasai pelayaran Nusantara. Maka dari itu, ia berusaha untuk memperluas daerah kekuasannya dengan mengadakan sejumlah penaklukkan, termasuk Bali dan mendirikan koloni di Kalimantan Barat.
Kemudian pada tahun 1003 M, Dharmawangsa Teguh mengirimkan pasukannya untuk merebut pusat perdagangan di Selat Malaka dari kekuasaan Sriwijaya. Akan tetapi, serangan itu tidak berhasil. Bahkan, Sriwijaya membalas melalui serangan kerajaan Wurawuri (bawahan Medang Kamulan sendiri). Akibat serangan itu, Medang Kamulan menjadi terpecah belah dan mengalami kehancuran.
Dalam peristiwa yang disebut Pralaya Medang itu, Dharmawangsa Teguh gugur. Pralaya berarti "runtuh atau mati". Hal ini menandakan bahwa kerajaan Medang Kamulan telah hancur dan tiada lagi.









