Kerajaan Medang Kamulan

Kerajaan Medang Kamulan



Medang Kamulan (929-1016)
Berdirinya Kerajaan Medang Kamulan
Kerajaan Medang Kamulan adalah Kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Mpu Sindok. Mpu Sindok sendiri masih tergolong menantu Dyah Wawa sebab permaisurinya Mpu Kbin merupakan puteri Dyah Wawa.

Pada tahun 929 M, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pemindahan itu memiliki beberapa tujuan, diantaranya :
- Untuk menghindari terjadinya ancaman penyerangan oleh Kerajaan Sriwijaya,
- dan untuk menghindari terjadinya letusan Gunung Merapi.

Menurut catatan sejarah, pusat pemerintahan baru tersebut terletak di Watugaluh yang berada di tepian Sungai Brantas ( Sekarang kira-kira masuk ke dalam wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur ). Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram Kuno melainkan Medang Kamulan.

Nama Medang Kamulan menunjukkan bahwa Kerajaan itu merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Akan tetapi, Medang Kamulan tetap merupakan Kerajaan tersendiri karena diperintah oleh dinasti baru, yakni Dinasti Isyana. Dinasti Isyana memerintah sejak tahun 929 hingga 1016 M.

Sistem Pemerintahan
1. Mpu Sindok (929-949)
Mpu Sindok merupakan raja pertama dari Kerajaan Medang Kamulan. Ia memerintah selama 20 tahun. Mpu Sindok tidak memerintah sendiri, tetapi dibantu oleh permaisurinya Sri Wardhani Mpu Kbin. Saat memerintah Mpu Sindok bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isyana Wikrama Dharmattunggadewa.
Mpu Sindok memerintah dengan adil dan bijaksana. Berbagai usaha ia lakukan untuk memakmurkan rakyat, antara lain membangun bendungan atau tanggul untuk pengairan. Ia melarang rakyatnya untuk menangkap ikan di bendungan pada siang hari. Larangan itu ada kaitannya dengan pelestarian Sumber Daya Alam.
Meskipun beragama Hindu, Mpu Sindok tetap memperhatikan usaha penggubahan kitab Budha Mahayana. Hasil gubahan tersebut berupa kitab Sang Hyang Kamahayanikan. Perhatian itu menunjukkan bahwa agama Hindu dan Budha dapat hidup berdampingan secara damai.
2. Sri Isyana Tunggawijaya (949-     )
Mpu Sindok digantikan putrinya, yaitu Sri Isyana Tunggawijaya. Ia kawin dengan Lokapala. Dari hasil perkawinannya lahirlah Makutawangsa Wardhana (seorang putra mahkota) yang kelak meneruskan pemerintahannya.
3. Makutawangsa Wardhana (     -991)
Raja Makutawangsa Wardhana dikenal dengan julukan Matahari Dinasti Isyana. Ia dikaruniai dua orang anak, antara lain :
1. Dharmawangsa Teguh, yang kelak naik tahta di Medang Kamulan pada tahun (991), dengan gelar Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramattunggadewa diawal pemeritahannya pernah melakukan serangan ke Kerajaan Sriwijaya.
2. Mahendradatta, Ia bergelar Gumaprya Dharma Patri yang kawin dengan Udayana (Raja Bali). Yang kemudian dikaruniai putra bernama Airlangga (Raja Kahuripan).
4. Dharmawangsa Teguh (991-1016)
Pada masa pemerintahannya, ia pernah memerintahkan untuk menerjemahkan beberapa bagian kitab Mahabharata ke dalam bahasa Kawi. Dan untuk mengatur ketertiban masyarakat, disusunlah kitab hukum yang dinamakan Purwadigamaatau Siswasana.
Selain itu, ia juga berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Usaha itu dilaksanakan dengan cara meningkatkan sektor pertanian dan perdagangan. Akan tetapi, usaha untuk meningkatkan sektor perdagangan menjadi sulit karena perdagangan di kawasan perairan Jawa dan Sumatra masih dikuasai oleh Sriwijaya.
Dalam rangka mematahkan pengaruh Sriwijaya dan untuk mewujudkan cita-citanya yang ingin menguasai pelayaran Nusantara. Maka dari itu, ia berusaha untuk memperluas daerah kekuasannya dengan mengadakan sejumlah penaklukkan, termasuk Bali dan mendirikan koloni di Kalimantan Barat.
Kemudian pada tahun 1003 M, Dharmawangsa Teguh mengirimkan pasukannya untuk merebut pusat perdagangan di Selat Malaka dari kekuasaan Sriwijaya. Akan tetapi, serangan itu tidak berhasil. Bahkan, Sriwijaya membalas melalui serangan kerajaan Wurawuri (bawahan Medang Kamulan sendiri). Akibat serangan itu, Medang Kamulan menjadi terpecah belah dan mengalami kehancuran.
Dalam peristiwa yang disebut Pralaya Medang itu, Dharmawangsa Teguh gugur. Pralaya berarti "runtuh atau mati". Hal ini menandakan bahwa kerajaan Medang Kamulan telah hancur dan tiada lagi.
Kerajaan Kalingga

Kerajaan Kalingga



Kalingga

Kerajaan Sunda
632–732
 Letak pusat kerajaan Kalingga
Ibukota
di Jawa Tengah. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang.
Bahasa
 - 732—760
 - 985—1006
Sejarah

 - Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.[1]
752
 - Kekalahan Dharmawangsa dari Wurawari dan Sriwijaya
1045
Masa dan Tahil (koin emas dan perak lokal)

Kerajaan Kalingga dibangun orang - orang dari sebuah kerajaan di negara bagian Orrisa di negeri India yang kalah perang dari kekaisaran maurya pimpinan raja asoka. Keturunan-keturunan kerajaan tersebut lantas pindah menyebar hingga tanah Jawa.
Dalam berita Cina kerajaan ini disebut Holing. Di sana dijelaskan bahwa pada abad ke 7 di Jawa Tengah bagian utara sudah berdiri satu kerajaan. Rakyat dari kerajaan tersebut hidupnya makmur dari hasil bercocok tanam serta mempunyai sumber air asin. Hidup mereka tenteram, karena tidak ada kejahatan dan kebohongan. Ilmu perbintangan sudah dikenal dan dimanfaat dalam bercocok tanam.
Kerajaan ini bersahabat akrab dengan Maharaja Cina. Duta kerajaan Keling ada di sana, duta kerajaan Cina.ada di sini. Kerajaan ini didirikan oleh prabu Kirathasinga.
1.Kirathasinga (632-648)
pada tahun 562 Caka (667 Masehi) dan pada tahun 554 Caka (657 Masehi) mengirim dutanya ke kerajaan Cina, karena itu juga duta kerajaan Cina datang ke sini.
Rakyat Holing menganut agama Budha. Hal itu dapat diketahui dari berita Cina yang ditulis I-Tshing, yang menjelaskan bahwa pada tahun 644 masehi Hwi-Ning seorang pendeta budha dari cina datang ke Holing dan menetap selama 3 tahun. Hwi-Ning menterjemahkan salah satu kitab suci agama Budha Hinayana yang berbahasa Sanksekerta ke dalam bahasa Cina. Dalam usahanya Hwi-Ning dibantu oleh seorang pendeta kerajaan Holing yang bernama Janabadra.
2.Kartikeyasinga (648-674)
Prabhu Kartikeyasingha telah dua kali mengirimkan dutanya pembesar-pembesar kerajaan ke kerajaan Cina, pertama pada tahun 570 Caka (674 Masehi), kedua pada tahun 588 Caka (692 Masehi), yaitu pada permulaan Sang Prabhu memerintah kerajaan. Beliau wafat di Gunung Mahameru.
Dari perkawinan Sang Prabhu Kartikeyasingha dengan Dewi Sima, berputera 2 orang wanita dan laki‑laki, masing-masing ialah yang wanita Dewi Parwati diperisteri oleh Sang Mandiminyak dari Galuh, yang laki‑laki Sang Narayan namanya.
3.Maharani Sima (674-695)
Raja yang terkemuka dari kerajaan ini adalah Ratu Sima. Pemerintahannya berlangsung dari sekitar tahun 674 masehi. Ratu Sima menerapkan peraturan-peraturan secara disiplin. Kepada setiap pelanggar, selalu diberikan sangsi tegas. Suatu saat seorang saudagar Arab berkeinginan untuk membuktikan ketaatan rakyat Kalingga terhadap hukum yang diterapkan. Ia meletakkan pundi-pundi uang di jalan di tengah kota. Ternyata tak ada seorangpun menyentuh atau mengambilnya. Hingga suatu hari secara tidak sengaja kaki Putra Mahkota menyentuh pundi-pundi itu. Maka Ratu Sima memerintahkan agar anaknya di potong kakinya sebagai hukuman. Karena hukuman itu dirasa terlalu berat, para penasehat Ratu memohon agar hukuman diperingan, namun Ratu berkeras. Setelah didesak, Ratu Sima memutuskan untuk memperingan hukumannya. Kaki putra mahkota tidak jadi dipotong tetapi hanya jari-jari kakinya saja.
Sesudahnya Dewi Sima wafat pada tahun 617 Caka (720 Masehi), kemudian kerajaan dibuat dua wilayah kerajaan, di antaranya ialah yang wanita, Dewi Parwati, di sebelah utara, yang laki-laki, Sang Narayan, di sebelah selatan. Sang Mandiminyak, suami Dewi Parwati, tidak menggantikan di situ, karena ia menjadi raja di kerajaan Galuh.
Kerajaan Kalingga Utara
Kerajaan Kalingga Selatan
4. Dewi Parwati (695-717)
Dari pernikahan Prabhu Mandiminyak dengan Dewi Parwati berputeralah seorang wanita, Dewi Sannaha namanya. Kemudian Dewi Sannaha naik takhta menggantikan sang ibundanya.
4. Narayan (695-732)
Setelah Prabhu Narayan wafat, selanjutnya digantikan oleh puteranya ialah Sang Prabhu Dewa Singha namanya.
5. Dewi Sannaha (717-732)
Sanaha menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).
5. Prabhu Dewa Singha
Pada waktu itu Sang Prabhu Dewa Singha memerintah wilayah selatan yang tunduk di bawah kekuasaan Sanjaya.

Silsilah Raja-raja Kalingga :

Organization Chart

Bukti Sejarah :

*       1 Berita Cina
*       1.2 Catatan I-Tsing
*       2 Prasasti
*       3 Lihat pula
*       4 Referensi

[sunting] Berita Cina

Beritakeberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing.

[sunting] Catatan dari zaman Dinasti Tang

CeritaCina pada zaman Dinasti Tang (618 M - 906 M) memberikan tentang keterangan Ho-ling sebagai berikut.


Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Sima (Simo). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.

[sunting] Catatan I-Tsing

Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

[sunting] Prasasti

Prasastipeninggalan Kerajaan Ho-ling adalah Prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di Desa Dakwu daerah Grobogan, Purwodadi di lereng Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungaiyang mengalir dari sumber airtersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.[2]

[sunting] Lihat pula

*       Sejarah
*       Kerajaan

[sunting] Referensi

1.                               ^ Munoz, Paul Michel (1 November 2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. hlm. pages 171. ISBN 981-4155-67-5. 
2.                               ^ IPS Terpadu Kelas VII SMP/MTs, Penerbit Galaxy Puspa Mega:Tim IPS SMP/MTs.

Banjaran Cerita Pandhawa (30) - Pandhawa Apus

Yudhisthira dan Arjuna sedang berjalan di hutan bersama Semar dan Gareng
(karya herjaka HS)
Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sakuni, Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksa dan Citraksi. Duryodana ingin membinasakan Pandhawa dengan tipu muslihat. Pandhawa akan dijamu makanan yang mematikan. Duryodana telah mengundang Pandhawa.
Tak lama kemudian Pandhawa datang, Duryodana menyambutnya. Mereka dijamu besar-besaran, para Pandhawa diracun, akhirnya para Pandhawa meninggal dunia. Para Korawa senang, mereka mengira, bahwa musuh telah lenyap. Sakuni minta agar Bima dimasukkan ke dalam sumur Jalatundha, Arjuna dibuang ke gua Sigrangga.
Setelah membuang jenasah para Pandhawa, Duryodana masuk ke istana menemui permaisuri dan Gendari, ibunya. Raja memberi tahu tentang kematian para Pandhawa. Patih Sakuni dan para Korawa membuang jenasah para Pandhawa.
Anantasena dan Gathotkaca yang berada di Randhugumbala ingin pergi ke Ngastina. Mereka bersiap-siap lalu berangkat.
Perjalanan mereka berdua bertemu dengan perajurit Ngastina. Mereka berselisih, dan terjadilah perkelahian. Para Korawa kalah, Adipati Karna datang membantunya, Anantasena dan Gathotkaca melarikan diri.
Jenasah Arjuna dipungut oleh Hyang Baruna, lalu dihidupkan kembali. Arjuna dikawinkan dengan Dyah Suyakti, kemudian disuruh pergi ke gua Sigrangga.
Perjalanan Arjuna dihadang oleh raksasa bernama Kala Sabawa bersama isterinya. Arjuna akan mereka makan, maka terjadilah perkelahian. Raksasa dipanah, mereka kembali ke wujud asal, berubah menjadi dewa Kamajaya dan dewi Ratih. Arjuna datang menghormat, lalu minta diri, meneruskan perjalannya.
Jenasah Bima dibawa oleh Nagagini kehadapan Hyang Antaboga. Bima dihidupkan kembali, lalu Bima bercerita asal mula kematiannya. Kemudian Bima disuruh pergi ke gua Sigrangga.
Yudhisthira, Nakula dan Sadewa telah dihidupkan kembali oleh Dyah Suparti. Arjuna dan Bima datang di gua Sigrangga menghadap Dyah Suparti. Dyah Suparti menyuruh agar mereka berlima kembali ke negara, sebab kerajaan Ngamarta dikuasai oleh Adipati Karna.
Bagawan Abyasa pergi ke negara Ngamarta, atas ilham dari dewa ia disuruh melerai permusuhan Pandhawa dan Korawa
Yudhisthira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa bertemu dengan Anantasena dan Gathotkaca. Mereka bersama-sama menuju ke Ngamarta.
Adipati Karna yang berkuasa di Ngamarta, berunding dengan Patih Sakuni, Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksa dan Citraksi. Mereka ingin memboyong Drupadi ke Ngastina. Gathotkaca dan Anantasena akan masuk ke istana Ngamarta. Para Korawa meghalang-halanginya. Terjadilah perkelahian, Korawa tidak mampu melawan mereka berdua. Adipati Karna datang menolongnya, Gathotkaca dipanah, terpental jauh. Anantasena dilempar panah Wijayadanu, terlempar jauh pula
Gathotkaca dan Anantasena jatuh dihadapan Yudhistira. Yudhistira dan Arjuna marah, lalu hendak menyerang kerajaan Ngamarta. Adipati Karna berhadapan dengan Arjuna. Terjadilah perkelahian dahsyat. Bagawan Abyasa datang melerai, Arjuna dibawa lari ke Wukir Retawu. Anantasena dibawa ke tempat Hyang Anantaboga, kemudian disembuhkannya.
Para Pandhawa mengungsi ke Wukir Retawu. Bagawan Abyasa memberi wejangan kepada mereka tentang kesabaran dan perang Baratayuda.
Perajurit Ngastina datang menyerang Wukir Retawu. Bagawan Abyasa menugaskan Bima dan Arjuna untuk melawan serangan para Korawa. Adipati Karna memimpin perajurit Korawa. Perajurit Korawa diceraiberaikan oleh Bima. Arjuna berhadapan dengan Adipati Karna. Masing-masing membawa panah sakti. Arjuna melepaskan panah angin, Adipati Karna terbawa arus angin, kembali ke Ngastina bersama perajurit Korawa. Perang pun selesai.
Para Pandhawa mengadakan pesta di pertapaan Wukir Retawu.
R.S. Subalidinata
Mangkunagara VII Jilid VII, 1930:26-31

Banjaran Cerita Pandhawa (29) - Perkawinan Sadewa

Sadewa ketika berjalan dipinggiran hutan, ketemu dengan Wisanggeni, keponakannya.
(karya Herjaka.HS)
Prabu Kresna raja Dwarawati duduk di atas singhasana, dihadap oleh Samba, Setyaki, Setyaka dan Patih Udawa. Kresna memberi tahu, bahwa Yudisthira akan mengawinkan Sadewa dengan Retna Dewarsini. Raja menugaskan Patih Udawa dan Setyaki untuk menyerahkan pesumbang ke Ngamarta. Patih Udawa dan Setyaki minta diri. Kresna masuk ke istana, Jembawati, Rukmini dan Setyaboma menyongsong kedatangan raja. Kresna berpamitan kepada isteri, akan pergi ke Ngamarta. Kresna pergi bersemadi.
Patih Udawa dan Setyaki mengumpulkan perajurit untuk mengawal utusan pergi ke Ngamarta. Setelah siap mereka berangkat.
Prabu Singamurti raja Trancang Gribig duduk di atas singhasana dihadap oleh Patih Kala Waraha dan Inang Saparni. Raja bercerita tentang mimpinya. Sang Raja bertemu dengan Retna Dewarsini, putri raja Banyuwangi. Raja menunjuk utusan untuk menyampaikan surat lamaran. Patih Kala Waraha mempersiapkan perajurit raksasa, lalu berangkat ke Banyuwangi.
Di tengah perjalanan perajurit raksasa bertemu dengan barisan dari Dwarawati, perajurit raksasa menyimpang jalan.
Bathara Guru dihadap oleh Bathara Narada, Bathara Endra, Bathara Brama, Bathara Panyarikan Bathara Yamadipati, dan Bathara Patuk. Mereka menerima kedatangan Bathara Kamajaya dan Arjuna. Arjuna menyampaikan permohonan Yudisthira, minta diijinkan meminjam empatpuluh bidadari untuk mengawal pengantin. Bathara Guru mengijinkan, kelak para bidadari akan datang bersama Bathara Narada. Arjuna minta diri, meninggalkan kahyangan. Para panakawan mengikutinya.
Arjuna dan panakawan berjumpa dengan perajurit raksasa dari Trancang Gribig. Terjadilah perkelahian, perajurit raksasa musnah. Togog lari kembali ke negara Trancang Gribig.
Prabu Salya raja Mandraka dihadap oleh permaisuri, Rukmarata dan Patih Tuhayata. Raja berkata, ingin menghadiri perkawinan Sadewa di Ngamarta. Mereka bersiap-siap, lalu berangkat menuju Ngamarta.
Prabu Duryodana berkata kepada para warga Korawa, bahwa raja akan pergi ke Banyuwangi. Raja dan permaisuri pergi bersama, para Korawa mengawalnya.
Sadewa menghadap Bagawan Abyasa di Wukir Retawu, minta restu atas perkawinannya. Sang bagawan merestuinya. Sadewa disuruh berangkat terlebih dahulu, sang bagawan akan menyusulnya.
Togog menghadap Prabu Singamurti di istana Trancang Gribig. Memberitahu tentang kemusnahan para perajurit raksasa. Raja marah, lalu minta dipersiapkan perajurit raksasa untuk menyerang Banyuwangi, merebut Retna Dewarsini. Setelah siap mereka berangkat ke Banyuwangi.
Yudhisthira menerima kehadiran Bagawan Abyasa, Kresna, Duryodana, Salya, Baladewa, Drupada, Seta dan Untara. Mereka akan bersama-sama pergi ke Banyuwangi. Arjuna datang dan melapor tentang ijin yang dikabulkan oleh Bathara Guru.
Bathara Kamajaya, Dewi Ratih, dan Dewi Rarasati datang beserta empat puluh bidadari dan perlengkapan upacara perkawinan.
Sadewa naik kereta bersama Bathara Kamajaya, diikuti kereta para raja, kereta para Bidadari dan pengawal lainnya. Mereka menuju ke Banyuwangi.
Bathara Endra, Bathara Brama, Bathara Bayu dan beberapa dewa berunding akan pergi ke Banyuwangi. Setelah siap mereka berangkat bersama.
Badhwangan Nala telah duduk bersama Patih Nirbita. Bathara Endra dan beberapa dewa menanti kedatangan calon pengantin.
Rombongan calon pengantin datang di istana Banyuwangi. Bathara Kamajaya menggandeng Sadewa. Mereka yang hadir bersiap-siap mempertemukan kedua pengantin. Dewi Ratih dan Dewi Rarasati menjemput Retna Dewarsini, kemudian dipersandingkan dengan Sadewa. Bathara Narada menjadi pengacara perkawinan. Setelah upacara perkawinan selesai, para dewa kembali ke kahyangan. Para bidadari mengikutinya.
Perajurit raksasa Trancang Gribig datang menyerang Banyuwangi. Sang Badhangwang Nala menyerahkan kebijaksanaan kepada Kresna. Kresna menugaskan Bima, Arjuna dan Sadewa. Sadewa berhasil menaklukkan raja Singamurti. Bima dan Arjuna memusnahkan semua perajurit raksasa.
Para raja yang masih tinggal di Banyuwangi mengadakan pesta bersama.
R.S. Subalidinata.
Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 12-17

Banjaran Cerita Pandhawa (28) - Perkawinan Nakula

Nakula dan Sadewa saudara kembarnya mohon restu kepada Kunthi Ibunya
(karya Herjaka HS)
Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Pendeta Druna, Adipati Karna dan para Korawa. Raja membicarakan permintaan Dursasana. Dursasana jatuh cinta kepada Dyah Suyati, putri raja Ngawuawu Langit. Dyah Suyati disayembarakan. Barangsiapa yang dapat mengalahkan Endrakerata, boleh memperistri Dyah Suyati. Raja menugaskan Adipati Karna dan Jayadrata untuk mengusahakan menang sayembara. Setelah mereka berunding, raja masuk ke istana.
Kedatangan Prabu Duryodana disongsong oleh permaisuri, Lesmanawati dan para abdi. Raja bercerita tentang rencana perkawinan Dursasana dan sayembara. Kemudian raja bersamadi.
Adipati Karna dihadap oleh Patih Sakuni, Jayadrata, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi. Mereka bersiap-siap ke negara Ngawuawu Langit. Setelah siap mereka berangkat.
Prabu Bajrawijaya raja Selabentara bermimpi, bertemu Dyah Suyati. Raja ingin melamarnya. Patih Kala Wisaya mengusulkan agar Kala Kekaya, Barajamingkalpa dan Kala Minangsraya pergi ke Ngawuawu Langit, untuk menyampaikan surat lamaran. Mereka segera berangkat, diikuti barisan perajurit raksasa.
Perjalanan mereka bertemu dengan barisan perajurit Ngastina. Terjadilah pertempuran, tetapi perajurit Selabentar meninggalkan medan perang, menyimpang jalan.
Nakula menghadap Bagawan Abyasa di Wukir Retawu. Ia meminta doa restu untuk mengikuti sayembara di negara Ngawuawu Langit. Sang Bagawan banyak memberi nasihat, kemudian Nakula disuruh berangkat. Nakula berangkat, Semar, Gareng dan Petruk menyertainya.
Di tengah perjalanan Nakula bertemu dngan barisan dari Selabentar. Terjadilah perkelahian seru. Perajurit raksasa musnah. Nakula meneruskan perjalanan.
Prabu Kridhakerata raja Ngawuawu Langit duduk di atas singhasana, dihadap oleh Jayakerata dan patih Keratabahu. Raja cemas atas sayembara yang diinginkan oleh Endrakerata.
Adipati Karna datang menyampaikan maksudnya, ia ingin mengikuti sayembara. Endrakerata telah siap di gelanggang adu kesaktian. Pertama-tama Jayadrata yang melawan, tetapi kalah. Selanjutnya yang melawan Kartamarma dan Adipati Karna, tetapi semua tidak mampu mengalahkan Endrakerata. Korawa kembali ke Ngastina dengan tangan hampa.
Yudisthira menerima kehadiran Kresna di Ngamarta. Yudisthira bertanya tentang kepergian Nakula. Kresna memberi tahu, bahwa Nakula sedang mengikuti sayembara. Yudisthira, Bima dan Arjuna diminta bantuannya.
Nakula telah tiba di Ngawuawu Langit, menghadap raja Kridhakerata. Nakula menyampaikan maksud kedatangannya, ia ingin mengikuti sayembara. Jayakerata dan Patih Keratabasa mengawal Nakula ke arena sayembara. Endrakerata telah diberi tahu, kemudian datang di gelanggang adu kesaktian. Endarakerata sungguh sakti. Sekali dipanah mati, kemudian hidup kembali. Semar mendekat Nakula, dan memberitahu caranya menghadapi kesaktian Endrakerata. Setelah diberi tahu oleh Semar, Nakula segera memanah untuk yang kesekian kalinya. Endrakerata kena panah, seketika musnah. Nakula menang dalam sayembara, lalu dipersilakan masuk istana.
Togog dan Sarawita datang menghadap raja Bajrawijaya, melapor tentang kematian para raksasa dan pemimpin perajuritnya. Raja marah lalu mempersiapkan perajurit, hendak menggempur kerajaan Ngawuawu Langit.
Prabu Kridhakerata menerima kehadiran Nakula yang dikawal oleh Jayakerata. Raja minta agar permaisuri mempersiapkan perkawinan Dyah Suyati dan Nakula.
Kresna bersama Yudisthira, Bima, Arjuna dan Sadewa tiba di istana Ngawuawu Langit, menghadap raja Kredhakerata. Sang raja bercerita tentang Nakula yang menang sayembara dan akan dikawinkan dengan putri raja bernama Dyah Suyati. Kresna dan Yudisthira menyetujuinya. Mereka bersiap-siap mengadakan upacara perkawinan.
Perajurit rakasa dari Selabentar datang, dipimpin oleh prabu Brajawijaya. Kresna menugaskan Bima dan Arjuna untuk menyongsong kedatangan musuh. Prabu Bajrawijaya mati oleh Bima, sedangkan perajurit raksasa musnah disapu oleh panah Arjuna.
Nakula dan Dyah Suyati dipersandingkan di pelaminan, para Pandhawa menghadirinya. Pesta perkawinan dilaksanakan dengan meriah. Tancep Kayon
R.S. Subalidinata.
Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 3-9

Banjaran Cerita Pandhawa (27) - Nakula Sadewa Lahir

Pandhudewanata tergeletak tak bernyawa, setelah Bathara Yama mencabut nyawanya.
(lukisan Herjaka HS)

Raja Pandhudewanata berwawancara dengan Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana, Puntadewa, Sena dan Permadi. Sang raja minta petunjuk dan nasihat kepada Resi Bisma, bahwa Madrim ingin naik Lembu Andini kendaraan Batara Guru. Resi Bisma memberi saran agar raja minta nasihat kepada Bagawan Abyasa di Saptaarga, di pertapaan Wukir Retawu. Raja Pandhudewanata menerima saran Resi Bisma, Patih Kuruncana diperintahkan mempersiapkan perajurit. Setelah selesai perundingan, raja masuk ke Gupitmandragini menemui dua isteri raja memberi tahu tentang hasil pertemuan, dan rencana kepergian raja ke Saptaarga.
Yamawidura mengumumkan perintah dan rencana kepergian raja kepada para perajurit. Para perajurit diperintah supaya menghormat keberangkatan raja. Sebagian perajurit dipersiapkan untuk mengawal kepergian raja ke Wukir Retawu. Raja bersama perajurit berangkat ke Saptaarga, dipimpin oleh Yamawidura.
Bogadata raja negara Turilaya berunding dengan Gandapati, Kartipeya, Patih Hanggadenta, Gendhingcaluring, Togog dan Sarawita. Mereka membicarakan amanat Arya Dhestharastra yang disampaikan oleh Kartipeya, tentang perang Baratayuda. Mereka menginginkan urungnya perang itu. Mereka mengambil putusan untuk menyerang negara Ngastina, membunuh raja Pandhudewanata beserta anak-anaknya. Patih Hanggadenta ditugaskan menyerang negara Ngastina. Gendhingcaluring ditugaskan menjaga tapal batas, dan siapa saja yang akan membantu Ngastina supaya dihancurkannya. Raja Bogadata dan Kartipeya akan pergi ke Ngastina secara sembunyi-sembunyi. Gandapati ditugaskan menjaga keamanan negara Turilaya. Setelah siap, mereka berangkat menjalankan tugasnya masing-masing. Perajurit Turilaya bertemu dengan perajurit Ngastina, terjadilah pertempuran. Pertempuran padam setelah mereka menghentikan perang. Masing-masing menyimpang jalan mencari selamat.
Resi Darmana dan anaknya yang bernama Endang Darmi berbicara dengan para cantrik di padepokan Hargasana. Sang Resi membicarakan surat lamaran Brahmana Kamindana. Endang Darmi menurut kehendak ayahnya. Brahmana Kamindana datang, menagih kesanggupan dan jawaban Resi Darmana tentang lamarannya. Brahmana Kamindana amat kasar tutur katanya, Resi Darmana marah, terjadilah perkelahian. Para cantrik tidak mampu mengeroyok Brahmana Kamindana. Mula-mula Brahmana Kamindana kalah, kemudian menggunakan pusaka saktinya berupa tombak pendek. Resi Darmana ditangkap akan dibunuhnya. Sebelum terbunuh, Resi Darmana mengutuk, Brahmana Kamindana dikatakan seperti rusa. Bersamaan dengan jatuhnya pusaka Brahmana Kamindana ke dada Resi Darmana, Brahmana Kamindana berubah menjadi rusa dan Resi Darmana meninggal dunia.
Setelah mendengar kematian ayahnya, Endang Darmi pergi meninggalkan padepokan. Brahmana Kamindana mengejarnya, tetapi ia tidak dapat menangkapnya. Dikatakan oleh sang brahmana, Endang Darmi lari cepat seperti rusa. Seketika Endang Darmi berubah menjadi rusa betina. Rusa Kamindana berhasil menangkap rusa Darmi, mereka masuk ke hutan.
Raja Pandhudewanata bersama Semar, Gareng, Petruk dan Bagong menghadap Begawan Abyasa di Saptaarga. Raja menyampaikan maksud kedatangannya. Bagawan Abyasa memberi petunjuk dan nasihat, bahwa permintaan Madrim itu kelewat batas, dan besar bahayanya. Bagawan Abyasa menyerahkan kepada sikap Pandhudewanata sendiri. Pandhu ingin menuruti keinginan Madrim, lalu minta diri bersama para panakawan. Bagawan Abyasa mengawal dari kejauhan, menuju ke Ngastina.
Di tengah perjalanan Pandhu dan para panakawan bertemu dengan perajurit raksasa dari Turilaya. Terjadilah pertempuran. Perajurit yang dipimpin Gendhingcaluring kalah, Togog dan Sarawita kembali ke Turilaya. Pandhu meneruskan perjalanan ke Suralaya.
Bathara Narada dan Bathara Srita, Bathara Yama, Bathara Aswi, Bathara Aswin dan Lembu Andini menghadap Bathara Guru. Bathara Guru bertanya kepada Bathara Aswi dan Bathara Aswin, sebab apa mereka berdua turun ke Ngastina. Mereka menjawab, bahwa mereka datang atas panggilan Madrim isteri Raja Pandhu, yang ingin mempunyai anak. Bathara Guru menyuruh agar mereka berdua turun ke Ngastina, untuk bertanggungjawab atas kelahiran bayi yang akan datang. Bathara Aswi dan Bathara Aswin berangkat ke Ngastina.
Sepeninggalnya Bathara Aswi dan Bathara Aswin, raja Pandhu datang, menghadap Bathara Guru, minta pinjaman Lembu Andini. Bathara Guru marah, sebab raja Pandhu pernah mendirikan taman larangan dewa yang disebut Taman Kadilengleng, yang mirip dengan taman Tinjomaya. Pandhu minta maaf, tetapi Bathara Guru bertambah marah, karena ia hanya menuruti keinginan perempuan isterinya. Pandhu minta maaf dan menyampaikan beberapa sanggahan dengan berbagai pertanyaan. Apakah ia bersalah karena menuruti permintaan isteri? Makhluk yang mengajukan permohonan kepada Dewa itu bersalah? Apakah salah bila raja minta perlindungan kepada raja semua raja? Apakah sudah benar raja Tribuana menolak permintaan raja kecil? Bukankah raja besar wajib mengabulkan permintaan raja kecil dan melindunginya? Akhirnya Bathara Guru mengabulkan permintaan Pandhu dengan syarat, Pandhu tidak akan berbuat salah lagi. Bila berbuat salah Pandhu akan dicabut nyawanya. Pandhu sanggup menerima hukuman bila ia bersalah, lalu mohon diri. Para panakawan dan Lembu Andini mengikutinya.
Sepeninggal Pandhu dari Suralaya, Bathara Guru mengutus Bathara Narada supaya turun ke Ngastina. Nyawa Pandhu harus dicabut sesudah mengendarai Lembu Andini. Bathara Yama diberi tugas untuk mengikuti Bathara Narada. Mereka berdua berangkat ke Ngastina. Pandhu mengikuti jalannya Lembu Andini masuk ke hutan Kandhawa. Di tengah hutan Pandhu melihat sepasang Rusa yang sedang memadu kasih. Ia iri melihatnya. Rusa jantan dipanah, berubah menjadi Brahmana Kamindana. Brahmana Kamindana mengutuk, pandhu akan mati bila memadu kasih dengan isterinya. Rusa betina juga dipanahnya, lalu kembali menjadi Endang Darmi. Endang Darmi mengutuk, isteri Pandhu akan mati setelah melahirkan bayi kandungannya. Brahmana Kamindana dan Endang Darmi musnah dari pandangan Pandhu. Pandhu kembali ke negara Ngastina.
Bagawan Abyasa dihadap oleh Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana dan Sena, mereka memperbincangkan kepergian Pandhu ke Suralaya. Pandhu dan panakawan datang bersama Lembu Andini. Pandhu melapor segala usahanya, kemudian masuk ke istana menemui Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Setelah memberi tahu tentang hasil yang diperoleh, Pandhu dan Dewi Madrim naik Lembu Andini. Mereka melayang-layang di angkasa, di atas negara Ngastina. Di atas angkasa Pandhu dan Madrim berwawan asmara, kemudian turun ke bumi Ngastina. Lembu Andini kembali ke Suralaya. Pandhu masuk istana, bercerita kepada Begawan Abyasa, Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana, Sena dan Arjuna. Mereka asyik mendengarkan cerita Pandhu di istana. Bathara Narada dan Bathara Yama menjalankan tugas mereka, nyawa Pandhu dicabutnya. Pandhu meninggal dunia, orang seistana gempar kesedihan. Bathara Aswi dan Bathara Aswin menjelma kepada bayi yang dikandung oleh Dewi Madrim. Setelah Dewi Madrim tahu bahwa raja Pandhu telah meninggal, ia bunuh diri, sebuah patrem dimasukkan ke dalam perutnya. Dua bayi lahir melalui luka perut Dewi Madrim. Bathara Narada dan Bathara Yama datang, menemui Abyasa, minta agar bayi itu diberi nama Nakula dan Sadewa. Kemudian mereka berdua mengangkat jenasah Pandhu dan Madrim dibawa ke Tepetloka. Begawan Abyasa meminta agar Kunthi mengasuh dua bayi itu seperti anaknya sendiri. Kunthi menerima kedua bayi dengan senang hati.
Raja Bogadata, Kartipeya dan perajurit Turilaya bersiap-siap menggempur negara Ngastina. Bagawan Abyasa berunding dengan Resi Bisma. Yamawidura, Sena, Patih Kuruncana dan Arjuna. Mereka membicarakan kekacauan negara dan serangan musuh. Bogadata dan perajurit telah menyerang. Patih Kuruncana ditugaskan untuk menyiapkan perajurit. Sena, Arjuna dan Yamawidura ikut berperang. Bogadata dipanah oleh Arjuna, Kartipeya kena panah Yamawidura, Hanggadenta mati oleh Patih Kuruncana, para perajurit Turilaya musnah oleh amukan Sena. Perang pun selesai.
Bagawan Abyasa, Resi Bisma, Yamawidura dan Patih Kuruncana berunding, mereka akan menobatkan Dhestharasta sebagai pemegang pemerintahan sampai para Pandhawa dewasa. Mereka mengadakan pesta penobatan.
R.S. Subalidinata
Pandjang Mas Tahun IV, 1956 No. 5-6

Banjaran Cerita Pandhawa (26) - Arjuna Terus

Arjuna didampingi Semar dan Gareng (karya Herjaka HS )
Prabu Duryodana raja Ngastina duduk di atas Singhasana dihadapap oleh Lesmana Mandrakumara, Pendeta Durna, Patih Sakuni, Adipati Karna, Dursasana, Kartamarma, Jayadrata, Durmagati, Citraksa dan Citraksi. Raja mendengar kabar tentang kehebatan Pandhawa, lalu ingin berkunjung ke Ngamarta. Raja minta agar Patih Sakuni mempersiapkan kepergiannya.
Prabu Duryodana masuk ke istana memberitahu kepada permaisuri tentang warga Pandhawa dan kehebatan beritanya. Raja dan permaisuri kemudian santap bersama.
Patih Sakuni dan Adipati Karna mengajak para Korawa untuk segera bersiap-siap pergi ke Ngamarta. Setelah siap mereka berangkat.
Prabu Kresna raja Dwarawati berbicara dengan Patih Udawa, Samba, Satyaki dan Satyaka. Mereka membicarakan berita Arjuna yang ingin memperluas daerah kekuasaannya. Kresna ingin berkunjung ke Ngamarta.
Prabu Jathayaksa raja Guwa Miring dihadap oleh Jathayaksi dan Patih Jathaketu. Raja ingin melamar Dyah Sarimaya putri Prabu Sukendra raja Srawantipura. Ditya Kala Meru diutus menyampaikan surat lamaran. Ditya Kala Meru segera berangkat.
Perjalanan Ditya Kala Meru dan perajurit bertemu dengan barisan perajurit Ngastina. Terjadilah perselisihan, tetapi perajurit Kala Meru menyimpang jalan.
Angkawijaya menghadap Bagawan Abiyasa mohon doa restu atas cita-cita Arjuna, ayahnya. Bagawan Abyasa merestuinya. Angkawijaya mohon diri, lalu meninggalkan pertapaan. Para panakawan menyertainya.
Prabu Sukendra raja Srawantipura bersedih hati, karena Dyah Sarimaya hamil sebelum bersuami. Sang raja marah setelah diberi tahu oleh Dyah Sarimaya, bahwa ia hamil karena Arjuna. Patih dan Mayakusuma diperintahkan untuk membakar Dyah Sarimaya. Di tengah api bernyala Arjuna masuk untuk melindungi Dyah Sarimaya. Dyah Sarimaya tidak mati terbakar, Arjuna meninggalkan api pembakaran.
Perjalanan Angkawijaya dihadang oleh raksasa Guwa Miring. Terjadilah perkelahian. Perajurit raksasa musnah tidak tersisa.
Prabu Puntadewa raja Ngamarta dihadap oleh Bima, Nakula dan Sadewa. Prabu Kresna datang menanyakan kabar tentang Arjuna. Patih Sakuni, Adipati Karna dan para Korawa datang. Mereka mendengar cerita Prabu Puntadewa tentang Arjuna. Kresna ingin ke Madukara. Adipati Karna beserta para Korawa heran. Kresna dan Bima pergi ke Madukara.
Arjuna berpesan kepada Gathotkaca dan Angkawijaya, bila orang akan masuk kerajaan Madukara harus melepas keris. Bima datang hendak menemui Arjuna. Gathotkaca menyongsong dengan meminta keris. Bima tidak memberikannya, lalu memaksa masuk ke istana Arjuna. Setelah melangkah masuk ke pintu, Bima berubah jadi perempuan. Bima malu, lalu mundur.
Kresna akan masuk, ditahan oleh Angkawijaya. Keris diminta, tetapi Kresna tidak memberikannya. Kresna memaksa untuk masuk, seketika berubah menjadi perempuan. Kresna malu, pergi lari tanpa berpamitan, menuju ke Suralaya.
Hyang Guru sedang berbicara dengan Hyang Narada. Tiba-tiba Kresna datang. Kresna mengadu, bahwa Arjuna mengumumkan diri sebagai “Lelananging Jagad.” Hyang Guru marah, minta agar Hyang Narada turun ke marcapada.
Hyang Narada tiba di Madukara, diterima oleh Gathotkaca dan dan Angkawijaya. Mereka minta keris Hyang Narada, tetapi tidak diberikannya. Hyang Narada memaksa masuk ke istana Arjuna. Setelah melangkah akan masuk, seketika Hyang Narada berubah menjadi jenis wanita. Hyang Narada berteriak-teriak, melarikan diri, kembali ke Suralaya. Hyang Narada menghadap Hyang Guru, untuk melaporkan kejadiannya tentang Arjuna. Hyang Guru cepat-cepat turun ke marcapada.
Arjuna sedang duduk bersama Gathotkaca dan Angkawijaya. Hyang Guru dan Hyang Narada datang. Mereka menghormat Arjuna yang dilindungi oleh Sang Hyang Jati Wasesa, lalu kembali ke Suralaya.
Kresna dan Bima datang menghormat, Sang Hyang Wisesa memberi tahu kepada Kresna dan Bima, bahwa Arjuna adalah “Lelananging Jagad.” Sesudah memberi tahu kepada Kresna dan Bima, Sang Hyang Wisesa tidak menampakkan diri. Para Pandhawa senang hatinya.
Adipati Karna iri hati, lalu membakar tempat persidangan di Madukara. Gathotkaca dan Angkawijaya menahan kemarahan Adipati Karna dan para Korawa. Mereka dihalau kembali ke Ngastina.
Para Pandhawa berkumpul di Ngamarta, lalu mengadakan pesta kebahagiaan bersama Prabu Kresna.
R.S. Subalidinata
Mangkunagara VII Jilid XXVII, 1932: 20-24

Banjaran Cerita Pandhawa (25) - Arjuna Sendhang

Arjuna sedang bertapa didampingi oleh keempat Panakawan (karya Herjaka HS)
Prabu Kresna raja Dwarawati duduk di atas singhasana, dihadap oleh Samba, Satyaki dan Patih Udawa. Mereka membicarakan kerinduannya terhadap para Pandhawa. Tak berapa lama Nakula dan Sadewa datang, memberi tahu, bahwa Arjuna pergi tanpa berpamitan. Prabu Kresna diminta kehadirannya di kerajaan Ngamarta. Samba, Satyaki dan Patih Udawa diminta bersiap-siap pergi ke Ngamarta.
Prabu Kresna menemui Jembawati, Rukmini dan Setyaboma di istana. Raja memberi berita tentang kepergian Arjuna. Prabu Kresna akan pergi ke Ngamarta. Sebelumnya mereka berempat makan bersama.
Samba, Satyaki dan Patih Udawa bersiap-siap menghantar keberangkatan Prabu Kresna ke Ngamarta. Kemudian mereka berangkat mengawal kereta Prabu Kresna.
Prabu Jatikusuma raja Paranggubarja iri hati karena Arjuna dikasihi oleh para dewa. Raja ingin beristeri para bidadari, dan ingin menjadi “lelananging jagad”. Raja minta kepada Ditya Kala Gredhaksa untuk menyiapkan perajurit. Perajurit raksasa yang dipimpin oleh Kala Gredhaksa, Kala Grendhaka dan Kala Gredhana berangkat dari negara Pranggubarja. Barisan perajurit raksasa bertemu dengan barisan Dwarawati. Terjadilah perang, perajurit raksasa menyimpang jalan, pergi meninggalkan medan pertempuran.
Arjuna bersama para panakawan berjalan dihutan Krendhayana. Mereka bertemu barisan raksasa. Terjadilah perang, para raksasa musnah oleh Arjuna. Togog dan Sarawita lari kembali ke kerajaan Paranggubarja.
Togog dan Sarawita datang di kerajaan Paranggubarja, menghadap raja Jatikusuma, melapor tentang kematian para raksasa oleh Arjuna. Raja marah, lalu menugaskan Patih Jayadendha untuk mempersiapkan perajurit.
Prabu Jatikusuma menghadap Sang Hyang Pramoni.. Raja minta kematian Arjuna yang mengaku “lelananging jagad”. Sang Hyang Pramoni berjanji akan memusnahkan Arjuna, lalu pergi Kekahyangan menghadap Sang Hyang Jagadnata.
Sang Hyang Pramoni menghadap Sang Hyang Guru yang sedang dihadap oleh Hyang Narada, Hyang Bayu, Hyang Yamadipati,Hyang Patuk, Hyang Temboro dan dewa lainnya. Sang Hyang Pramoni melapor sikap Arjuna yang mengaku “lelananging jagad.” Hyang Guru marah, lalu turun ke marcapada.
Hyang Guru menemui Arjuna dan para panakawan di Krendhayana. Sang Hyang Guru melampiaskan kemarahannya, Arjuna dicipta menjadi sendhang. Arjuna hidup bertapa di dalam air sendhang, ia menjadi seorang Begawan bernama Begawan Banyurasa. Arjuna bersamadi mengumpulkan semua air masuk ke sendang.
Para Bidadari menghadap Sang Hyang Guru, memberitahu tentang kekeringan air dan hawa panas. Hyang Narada memberi tahu, bahwa semua air mengalir ke sendhang Banyurasa. Para bidadari bersama Hyang Narada turun ke marcapada, akan mandi ke sendhang.
Para bidadari mandi di air sendhang, mereka mengerumuni Begawan Banyurasa. Mereka senang tinggal di sendhang, dan tidak ingin kembali ke Suralaya. Hyang Narada lama di sendhang, perutnya merasa kembung dan kembali ke Suralaya.
Gathotkaca menghadap Anoman di Kendhalisada, bertanya tentang kepergian Arjuna. Anoman menyuruh agar Gathotkaca pergi ke hutan Krendhayana mencari sebuah sendhang, nanti akan bertemu Arjuna.
Prabu Kresna datang di Ngamarta menemui Prabu Puntadewa, Wrekodara, Nakula dan Sadewa. Raja mengajak pergi ke hutan Krendhayana mencari Bagawan Banyurasa. Mereka berangkat dari Ngamarta, menuju hutan Krendhayana.
Hyang Narada menghadap Sang Hyang Guru, memberitahu bahwa para bidadari tidak mau kembali ke Suralaya. Mereka senang tinggal di sendhang bersama Bagawan Banyurasa. Sang Hyang Guru marah, lalu pergi ke sendhang Banyurasa.
Sang Hyang Guru dan Hyang Narada menyamar berwujud wanita cantik, bernama Dewi Nilawati dan Dewi Suwarsi, datang menemui Bagawan Banyurasa. Bagawan Banyurasa senang menyambut kedatangan mereka berdua. Sewaktu akan dijamah, mereka berubah menjadi Sang Hyang Guru dan Hyang Narada. Arjuna menghormat dan minta maaf. Sang Hyang Guru memaafkan, lalu kembali ke Suralaya. Arjuna telah kembali ke wujud asalnya.
Prabu Kresna bersama para Pandhawa menemui Arjuna. Kemudian datang prabu Jatikusuma yang ingin membunuh Arjuna. Prabu Jatikusuma hampir mati terbunuh oleh Arjuna, kemudian Sang Hyang Pramoni menyambarnya, dibawa lari meninggalkan Arjuna. Prajurit Prabu Jatikusuma dapat dimusnahkan oleh Wrekodara dan Gathotkaca. Prabu Kresna mengumpulkan para Pandhawa, lalu mengadakan pesta bersama.
R.S. Subalidinata
Mangkunagara VII Jilid XX, 1932: 17-24